Home / Berita Terkini / Memperhatikan Kesehatan Jiwa dalam Era Transformasi Digital

Memperhatikan Kesehatan Jiwa dalam Era Transformasi Digital

Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan kesehatan jiwa dalam menghadapi transformasi digital di kala pandemi bagi mahasiswa dan kaum muda, Tim Publikasi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berkesempatan untuk mewawancarai Ignatia Ria Natalia (staff counselor dan trainer Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH)) pada Jumat, (28/8/2020). 

Ignatia Ria Natalia, yang akrab disapa dengan Ria, dalam kesehariannya memberikan konseling dan pelatihan terkait pengembangan keterampilan dan kepribadian bagi mahasiswa Unpar. Dalam kesempatan ini, Ria membagikan pandangannya tentang dampak transformasi bagi mahasiswa dan kaum muda dan tips untuk menjaga kesehatan jiwa dalam menghadapi transformasi tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa dalam kesehariannya tidak asing dengan penggunaan media digital. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan atau transformasi digital aktifitas perkuliahan akibat pandemi COVID-19 bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. 

Ria menyadari, keharusan untuk memindahkan kegiatan perkuliahan secara online dianggap tidak memiliki daya tarik yang cukup untuk meningkatkan semangat para mahasiswa. “Situasi transformasi digital itu tidak se-spektakuler yang kita kira dan adaptasinya ternyata memang panjang,”ungkap Ria.

Fenomena yang Wajar?

Dalam menanggapi pertanyaan mengenai kewajaran reaksi psikologis dari situasi pandemik, Ria menganggap bahwa segala bentuk reaksi yang mengganggu individu secara psikologis patut mendapatkan perhatian khusus. Akan tetapi Ria menekankan bahwa seharusnya masyarakat, khususnya mahasiswa dan kaum muda dibiasakan untuk selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi apapun.

Ria berpendapat bahwa ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi ini umumnya disebabkan oleh kebiasaan hanya bertindak ketika suatu peristiwa sudah berdampak dan mengancam kelangsungan hidup. “Peristiwa di luar dugaan sewaktu-waktu pasti akan terjadi, tetapi masalahnya kita tidak memiliki kesiapan untuk bersifat antisipatif,” tutur Ria. Sebagai hasil, transformasi digital memberikan efek shocking bagi masyarakat, termasuk mahasiswa dan kaum muda yang terpaksa melakukan perubahan dalam gaya hidupnya. 

Secara psikologis, kemungkinan terburuk dari transformasi digital yang mengharuskan masyarakat untuk melakukan aktivitas sehari-harinya secara online adalah timbulnya keadaan cabin fever, atau gangguan psikis yang dialami seseorang ketika terjebak dalam suatu tempat yang terbatas dalam jangka waktu yang lama. 

Dalam hal ini, kekhawatiran utama yang dirasakan oleh Ria adalah mahasiswa yang terpaksa untuk menghabiskan sebagian besar waktu perkuliahan dan kesehariannya dalam tempat tinggal atau kos yang secara ukuran sangat terbatas. 

Belum lagi mahasiswa yang dihadapi terkait ketersediaan akses internet sebagai sarana aktivitas perkuliahannya. Hal ini menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mengejar laju jalannya perkuliahan. “Masalah ini bisa jadi cukup sensitif. Dalam hal ini mahasiswa bukan berarti tidak antisipatif, mungkin dalam beberapa kasus keterbatasannya (secara ekonomi) juga mereka alami,” tutur Ria.

Berbagi Tips

Maka, Ria berbagi tips bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan jiwa ketika menyiasati perubahan gaya hidup dalam transformasi digital tersebut. Pertama, mahasiswa harus merubah pola pikir dalam menjalani kesehariannya di kala pandemi ini. Ria menyarankan untuk mempersiapkan diri dan berfokus ke masa yang akan datang. 

“Kita tidak bisa selamanya terjebak dalam nostalgia, sekarang kita mungkin berada di titik yang gelap saat ini, tetapi pastikan kita terus berjalan ke arah titik terang,” ujar Ria.

Kedua, mahasiswa dapat mengisi waktu luangnya dengan mencari celah-celah kecil dalam segala kesempatan untuk memperbaiki diri. Ria menyarankan untuk memanfaatkan platform yang menyediakan berbagai pembelajaran, terlebih yang disediakan secara gratis. “Ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pemenuhan diri, mungkin mahasiswa bisa mendapatkan keterampilan baru di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar sedang berlangsung,” jelas Ria.

Terakhir, Ria menyarankan agar mahasiswa sebisa mungkin mencoba untuk berbagi pemikiran dan perasaan dengan pihak yang tepat dan terpercaya. Hal ini bisa dimulai dengan orang-orang terdekat dalam kehidupan mahasiswa. “Bisa dibilang setiap orang perlu mengosongkan gelasnya masing-masing. Kita punya beban yang tidak bisa kita tanggung sendiri, kita perlu orang lain yang bisa dipercaya buat kita bisa berbagi,” ungkap Ria.

Walau demikian, Ria menyadari bahwa pihak-pihak yang seharusnya menjadi unit pendukung dalam lingkungan kehidupan para mahasiswa mungkin tidak bisa secara penuh menjalankan perannya. Maka, Ria menyarankan kaum muda untuk paling tidak menyadari dan menerima bahwa terdapat beberapa situasi yang tidak bisa di rubah (seperti keluarga) ataupun hal-hal yang bisa disaring dan dipilih (seperti pertemanan). 

Layanan Konseling

Tidak sebatas itu, Ria juga menyarankan untuk mencari bantuan kepada pihak-pihak yang kompeten dan terpercaya dalam bidang psikologis. Dalam hal ini, Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) Unpar bisa menjadi pilihan mahasiswa untuk mendapatkan layanan bantuan konseling psikologis dan kebutuhan lainnya seperti psikotes. Ria berpesan agar mahasiswa tidak segan untuk menghubungi LPH Unpar dengan membuat janji terlebih dahulu jika membutuhkan bantuan.

Di akhir wawancara, dengan slogan ‘rebahan secukupnya, berjuang selelahnya,’ Ria berpesan agar mahasiswa dan kaum muda lainnya untuk dapat membagi waktu dan menyadari kemampuan diri dalam melakukan suatu hal, serta tidak lelah untuk terus berjuang mempersiapkan diri dan menghadapi ketidakpastian situasi di masa yang akan datang. “Kita semua sama-sama berjuang dalam menata kehidupan di kala kesulitan ini. Paling tidak kita tidak menyia nyiakan hidup kita dengan menyerah,” pungkas Ria. (MGI/DAN – Divisi Publikasi)