Home / Berita Terkini / Memimpin dan Mengayomi: Peran Perempuan Mempersatukan Mahasiswa

Memimpin dan Mengayomi: Peran Perempuan Mempersatukan Mahasiswa

Bagi mahasiswa dan mahasiswi yang menimba ilmu di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Persatuan Mahasiswa bukan sekadar wadah mahasiswa berkumpul saja. Persatuan Mahasiswa menjadi sebuah keluarga, tempat mahasiswa saling berbagi ilmu dan pengalaman. Tentu saja, memimpin kelembagaan dalam Persatuan Mahasiswa (PM), baik dalam Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) maupun Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), menjadi tanggung jawab yang besar, dan pengalaman tersendiri bagi mereka yang mendapat kesempatan tersebut.

Dalam periode kepengurusan 2016-2017, sejumlah mahasiswi mendapatkan kesempatan untuk memimpin berbagai lembaga kemahasiswaan di Unpar. Empat di antaranya adalah Anisa Ira Fadhila (Presiden Mahasiswa), Sarah Lucia (Wakil Presiden Mahasiswa), Jessica Adidarma (Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa), dan Pingkan Audrine (Inspektur Internal PM). Keempatnya berkomitmen untuk merangkul segenap mahasiswa, untuk maju dan berkembang bersama, demi almamater dan masyarakat.

Berbagai hal menjadi motivasi mereka untuk berkontribusi lebih dalam PM Unpar. Ira, misalnya, menjelaskan bahwa ia ingin meneruskan kinerja baik yang telah dilakukan oleh LKM selama ini, yang sayang bila tidak dapat bertahan dan berkelanjutan. Sarah, yang sejak awal perkuliahannya telah aktif dalam kegiatan-kegiatan LKM, mengakui bahwa ada potensi mahasiswa-mahasiswi Unpar yang belum dapat tersalurkan dalam kegiatan organisasi, sehingga ia terdorong untuk menggali dan mengembangkan potensi tersebut.

Lain halnya dengan Jessica. Ia mengaku komitmen yang ia bawa adalah untuk melakukan hal-hal baru di luar zona nyamannya. Latar belakangnya sebagai mahasiswi hukum menjadikannya tertarik untuk mengembangkan dan mengimplementasikan ilmu yang ia pelajari. Selain itu, keinginannya yang kuat sebagai motor penggerak organisasi, menjadi motivasi baginya untuk menjadi Ketua MPM.

Pingkan juga mengakui bahwa ia ingin membawa dirinya menuju organisasi dengan ruang lingkup yang lebih luas, setelah sebelumnya menjadi pengurus himpunan. Ia tertarik untuk terlibat dalam organisasi yang mampu menampung dan mengutarakan aspirasi mahasiswa sebagai anggota masyarakat kampus.

Lalu, bagaimana tanggapan orang mengenai keberanian mereka mengambil tanggung jawab besar ini? Menurut mereka, banyak dukungan dan tanggapan positif yang mengalir, namun tidak sedikit juga yang merasa kaget, bahkan memberikan sentimen yang negatif. “Banyak yang kaget sebetulnya,” kata Pingkan, mengingat banyak mahasiswa yang tidak menyangka bahwa ia akan menjadi inspektur internal.

Hal serupa diungkapkan Sarah, “Awal pencalonan, keraguan paling besar justru ada dari diri sendiri.” Tetapi, hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya. Ira juga menjelaskan bahwa masih ada pandangan beberapa orang yang menganggap perempuan kurang tepat bila menjadi pemimpin, hal yang ia lawan dengan sistem kerja yang saling melengkapi, antaranggota pengurus LKM.

Di sisi lain, Jessica menjelaskan bahwa dalam lingkungannya, gender bukan lagi menjadi pembeda dan penghalang bagi perempuan untuk berkembang. “Menurut saya, perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya. Pemimpin perempuan sudah tidak aneh lagi.” tuturnya. Ia menambahkan, ia tidak menanggapi keberadaan sentimen-sentimen negatif dari luar.

Bagi mereka, Kartini bukan hanya dikenang, namun dapat diwujudkan dalam kehidupan masa kini. Misalnya, lewat hal-hal yang kecil dan sederhana, seperti yang diungkapkan oleh Ira dan Pingkan. “Banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya, aktif berpartisipasi dalam hal-hal yang terjadi di sekitarnya, mau peduli, dan mau menyumbangkan pikirannya,” jelas Ira. Menurut mereka berdua, setiap perempuan dapat mengoptimalkan kemampuan diri sesuai dengan passion yang mereka miliki, salah satunya dalam kegiatan organisasi, dan berani membuat terobosan baru.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Jessica, bahwa setiap perempuan harus memiliki keberanian untuk mengejar mimpi dan cita-citanya, tanpa merasa minder dan takut. Sarah juga menyampaikan, betapa pentingnya menjaga pergaulan serta menjaga informasi, agar perempuan dapat berkontribusi dalam membangun negeri, tanpa harus berada di balik layar, di bawah bayang-bayang laki-laki. “Semudah menjaga diri sendiri,” ujarnya.

Pesan yang sangat jelas terlihat dari pengalaman dan komitmen mereka. Mereka semua berharap, agar perempuan masa kini, khususnya mahasiswi, berani berkontribusi lebih bagi bangsa, tanpa merasa takut dan terbatasi sebagai seorang perempuan. “Kamu harus bangga bila dilahirkan sebagai perempuan,” kata Jessica. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sarah. Ia menambahkan, bahwa perempuan sejatinya tidak boleh terkungkung dalam stigma, apalagi sampai “merendahkan” diri sendiri, namun justru harus menunjukkan diri sebagai pribadi yang setara dengan laki-laki.

Ira juga menyampaikan bahwa, “Hal yang paling diperlukan adalah keberanian dan kemauan, ketika ia (perempuan) memiliki keduanya, sudah tidak ada batasan lagi.” “Jangan takut dengan paradigma orang dan pandangan negatif yang mungkin muncul,” ujar Pingkan, sejalan dengan pandangan Ira. Terakhir, mereka sepakat bahwa momen Hari Kartini bukan hanya harus dirayakan semata, melainkan harus diresapi dan dijadikan dorongan bagi perempuan Indonesia, untuk maju dan berkembang. “Jadikan momen Hari Kartini sebagai turning point untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” tutup Ira.

Kartini memang telah tiada, namun jiwa dan semangatnya masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Ira, Sarah, Jessica dan Pingkan menjadi salah satu bukti, bahwa perempuan dapat berkontribusi lebih dalam mewarnai rona kehidupan kampus, dengan berani menjadi pemimpin, mengayomi, serta mempersatukan mahasiswa serta mahasiswi Unpar.