Home / Berita Terkini / Membangun Teologi Lokal-Kontekstual Ala “Koki Dusun”
Membangun Teologi Lokal-Kontekstual Ala “Koki Dusun”

Membangun Teologi Lokal-Kontekstual Ala “Koki Dusun”

Diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo R.P. Basillius Hendra Kimawan, OSC, serangkaian kegiatan Dies Communitatis Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan dilaksanakan pada Kamis, 11 Agustus 2016. Kegiatan ini juga dalam rangka pembukaan tahun akademik 2016-17 dan menyambut para mahasiswa baru, baik untuk program Sarjana Filsafat maupun program Magister Ilmu Teologi. Perayaan Dies Communitatis diisi dengan orasi ilmiah berjudul: Membangun Teologi Lokal-Kontekstual  ala “Koki Dusun”, disampaikan oleh Fransiskus Borgias Mawanta, Drs., MA., disarikan dari hasil riset disertasinya di program doktorat pada ICRS-Yogya yang berjudul From “A Flying Big Bird” to “A Flying Holy Spirit”. Manggarian Myths, Rituals, and Christianity. Doing Contextual Theology in Perang.

Meskipun bukan hal baru, istilah teologi lokal-kontekstual menjadi semakin populer. Istilah yang lebih popular adalah inkulturasi, yang mempunyai “kemiripan fonetis” dengan konsep teologis-imaniah Inkarnasi. Bagi beberapa peneliti, teologi lokal, teologi kontekstual, teologi inkulturasi, adalah sinonim, dan merupakan variasi label dari satu fakta dan aktifitas imaniah yang satu dan sama. Untuk membangun teologi lokal-kontekstual, mengutip Schreiter, tiga tonggak yakni Injil, gereja dan kebudayaan, berinteraksi secara dinamis dan dialektis sepanjang sejarah. Injil mengendap di dalam gereja, bahkan gereja hidup dari dan oleh Injil. Lalu, gereja dalam pewartaan misinya berjumpa dengan pelbagai kebudayaan baru. Syarat mendasar untuk pembangunan teologi lokal-kontekstual adalah aktifitas membuka kultur dan aktifitas membuka tradisi gereja.

Berdasarkan penelusuran karya Schreiter, pak Frans Borgias dengan menggunakan metafora yang diangkat Sendmak, bertindak layaknya koki dusun (a village cook) mengembangkan teologi lokal-kontekstual dalam rangka apresiasi kultur dan tradisi Manggarai yang berproses membentuk jati diri di tengah gelombang globalisasi yang dahsyat. Orang Manggarai pada dasarnya adalah manusia ritual. Dalam ritual penti, puncaknya adalah ritual yang disebut songka lesong yang didalamnya ada imajinasi religious yang muncul dalam ungkapan: “E Hendeng Kaka Mese, mbau taung ge” Harapan akan adanya sayap burung raksasa, yang akan memberi naungan bagi semua. Teks ini lalu diadaptasi sebagai sebuah lagu untuk memuji Roh Kudus oleh seorang komponis Manggarai. Garis kontinu antara imajinasi religious asli Manggarai telah diselaraskan dengan peristiwa kedatangan Roh Kudus dalam Pentakosta. Pentakosta Manggarai, yang ditandai dengan pertobatan orang Manggarai ke dalam Gereja Katolik, merupakan pemahaman atas warta para misionaris oleh orang Manggarai, dengan “bahasa” Manggarai dalam artian yang seluas-luasnya dari bahasa itu.