Home / Berita Terkini / Memaknai Keberagaman di Unpar

Memaknai Keberagaman di Unpar

Mangadar Situmorang Ph.D Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) membagikan pandangannya terkait Keberagaman di Unpar, dalam wawancara dengan Tim Publikasi Unpar, pada Kamis (25/10).

Keberagaman pada dasarnya merupakan sebuah genuinitas yang muncul dalam sebuah komunitas sehingga satu dengan yang lainnya terlihat beragam. Hal tersebut menjadi wujud akumulasi dari otentisitas juga keunikan dari unit-unit yang independen sehingga kita melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda satu sama lain.

“Bisa dikatakan, keberagaman itu adalah kumpulan sesuatu yang awalnya bersifat originalitas, genuine. Dan itu saya kira yang menjadi hakikat atau kesejatian dari sebuah komunitas,” ujar Mangadar.

Unpar menjadi sebuah wadah, dimana banyak orang bertemu, berkumpul, berinteraksi, bekerja, dengan latar belakang berbeda satu sama lain. Tentu saja, tidak hanya sebatas perbedaan-perbedaan identitas  yang bersifat primordial tetapi juga yang bersifat personal. Satu dengan yang lainnya beragam. Ada suku Sunda, Jawa, Tionghoa, Batak, Bali, hingga Flores. Itulah yang terjadi di Unpar, dimana Unpar menjadi sebuah komunitas yang beragam. Komunitas Unpar dipersatukan oleh tujuan yang sama untuk mengabdi serta terlibat di dalam proses pendidikan tinggi yang diselenggarakan Unpar.

“Setiap orang itu otentik”

Mangadar mengajak komunitas Unpar untuk menyadari dan mengingat kembali bahwa setiap orang itu unik, otentik, sebagaimana adanya. “Kesadaran itu perlu dijaga, perlu dipelihara,” pesannya.

Beliau meyakini bahwa hal tersebut menjadi salah satu cara paling mendasar untuk menjaga keberagaman. Setiap individu memiliki keunikannya masing-masing. Keutamaan serta keunggulan tersebut patut untuk mendapatkan apresiasi, penghormatan, dalam suasana akrab sebagai wujud bahwa perbedaan itu nyata.

“Tidak harus lewat sebuah momen, tidak harus lewat sebuah event, tetapi menjadi perilaku, relasi keseharian. Menyadari keunikan itu, mengapresiasi keutamaan dari setiap orang,” katanya.

Unpar melalui Spiritualitas dan nilai-nilai dasar Unpar (Sindu), mengakui dan menyadari keberagaman sebagai salah satu nilai yang terkandung di dalamnya. Sindu menjadi panduan mendasar Unpar yang fundamental sebagai rujukan bersama. Tentu saja, yang diharapkan adalah implementasi dalam kehidupan nyata.

Mini Indonesia

Unpar dapat dikatakan sebagai “Mini Indonesia” dimana Unparian hidup di dalamnya. Mangadar mengatakan bahwa seyogyanya ada proses juga kegiatan berkelanjutan yang dilakukan komunitas Unpar sebagai wujud kesadaran kolektif.

“Kita punya acuan bersama untuk mengingatkan satu sama lain atau juga untuk mengingatkan bahwa kita punya tujuan yang sama, prinsip yang sama. Ini yang harus kita lakukan secara berkelanjutan untuk membina keberagaman,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, experiential learning, pembelajaran lewat pengalaman menjadi salah satu metode yang patut menjadi fokus penyelenggara pendidikan untuk memperkenalkan originalitas kepada para individu dalam komunitas yang beragam. Kita semua sepakat, katanya, bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Mangadar mengakui bahwa merawat serta menjaga kebhinekaan itu adalah sebuah proses yang terus berjalan. “Dan proses itu tidak mudah, kita biarkan secara alamiah, apa adanya tergantung dinamika di masyarakat,” pungkasnya.