Home / Alumni / Memajukan Publikasi Lewat Seminar Nasional Peneliti Muda Rekayasa dan Konstruksi

Memajukan Publikasi Lewat Seminar Nasional Peneliti Muda Rekayasa dan Konstruksi

Sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, memublikasikan hasil penelitian dalam bentuk makalah akademik atau artikel ilmiah sudah menjadi salah satu peran yang harus dipenuhi oleh para peneliti muda khususnya yang menjabat sebagai dosen dan pendidik di institusi pendidikan tinggi. Jurnal ilmiah dan hasil penelitian juga memiliki kegunaan lain sebagai acuan dari pembangunan bangsa karena berbagai temuan dari penelitian dapat digunakan oleh para praktisi untuk memecahkan masalah riil di dalam pekerjaan mereka sehari-hari.

Berangkat dari hal tersebut serta kepedulian terhadap masih rendahnya kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah Indonesia (terutama di bidang rekayasa dan manajemen konstruksi), Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan Seminar Nasional Peneliti Muda Rekayasa dan Konstruksi. Acara tersebut berlangsung pada 4 Agustus 2018 di Harris Hotel, Ciumbuleuit, Bandung. Dengan mengusung tema “The Role of Construction Management for Sustainable Future” acara ini cukup diminati oleh berbagai praktisi dan akademisi yang ingin bergabung dalam diskusi.

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Dekan Fakultas Teknik, Budianto WIdjaya Ph.D yang menekankan pentingnya publikasi terutama bagi para peneliti dan dosen muda. Beliau mengemukakan kembali bahwa rendahnya kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah di Indonesia sebenarnya tidak selaras dengan potensi sumber daya manusianya yang semakin lama bertambah kompetensinya sehingga peneliti muda perlu lebih produktif dalam menghasilkan berbagai temuan-temuan baru.

Sesi keynote speaker dimulai oleh Andreas dari Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat. Beliau memaparkan bahwa infrastruktur telah menjadi bagian vital dari pembangunan bangsa serta berkembangnya peran swasta. “Jangan anggap pemerintah kita itu enggak ngapa-ngapain, hanya saja untuk membangun infrastruktur, ya pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Modalnya tidak cukup,” atas alasan itulah beliau menjelaskan bahwa pemerintah seringkali bekerjasama dengan pihak swasta.

“Hal tersebut (kerjasama dengan pihak swasta) janganlah dianggap sebagai kapitalisasi atau pemerintah menyerah ke swasta. Justru ini adalah salah satu cara mendanai dan membangun dengan lebih efisien. Misalnya dengan skema Build – Operate – Transfer,” sambungnya.

Pembicara selanjutnya adalah Krishna Pribadi dari Institut Teknologi Bandung. Ia membahas tentang aktualisasi penelitian jasa konstruksi. “Semakin lama (tenaga kerja) kita itu semakin baik dan semakin pintar juga profesional, maka dari itu kita perlu sertifikasi lebih lanjut,” paparnya. Menurut pengamatannya, tenaga kerja di Indonesia seringkali memiliki cakupan kerja yang terlalu luas. “Kalau kita bandingkan dengan para profesional dan ahli konstruksi dari Jepang dan Jerman, mereka itu selalu punya spesifikasi di bidang tertentu sementara kita di Indonesia ya maaf saja, masih serabutan (tidak memiliki spesifikasi bidang tertentu).

Menurutnya, kita perlu menspesialisasikan diri agar kajian semakin tajam tingkat akurasinya. Peran lembaga pengembangan jasa konstruksi juga diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut, termasuk juga lembaga perguruan tinggi yang sekiranya menyediakan pendidikan profesi yang lebih aplikatif terutama di bidang kejuruan atau diploma sementara perguruan tinggi yang mendidik sarjana berfokus pada spesialisasi bidang kajian.

Topik Pembangunan berbasis konsep “hijau” dibawakan oleh Wulfram Ervianto dari Unika Atma Jaya. Menurut temuannya, pembangunan berbasis konsep “hijau” lebih diminati di perkotaan dibanding pedesaan karena kebutuhan akan udara bersih jauh lebih banyak di kota dibanding di desa. “Selain itu, kalau memang kita sukses membuat kantor lebih bergantung pada tenaga hijau yang ramah lingkungan, maka pekerja akan lebih terbantu dari sisi sosialnya karena ketika malam menjelang, ya mereka langsung pulang. Tidak melulu lembur,” papar Wulfram. Ia juga menyatakan bahwa regulasi tentang bangunan hijau di Indonesia sudah ada di dalam bentuk Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.05 PRT 2015.

Setelah sesi keynote speaker berakhir, secara bersamaan dilangsungkan sesi diskusi beserta Forum Manajemen dan Rekayasa Konstruksi Indonesia di gedung PPAG Unpar. Diskusi di forum membahas tentang potensi kerja sama penelitian dan pendirian komunitas akademik yang kompeten dan berkomitmen tinggi untuk melakukan pertemuan secara konsisten dan memajukan bidang rekayasa dan manajemen konstruksi. Dipandu oleh Anton Soekiman, diskusi mengalir dengan hangat serta produktif antar peserta yang berasal dari berbagai universitas dan institusi.

Para peserta yang terdaftar sebagai pemakalah di sesi diskusi disebar di beberapa ruangan tertentu untuk mempresentasikan temuan mereka yang lalu didiskusikan oleh para peserta yang lain. Beberapa dari pemakalah juga merupakan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil Unpar. Salah satunya adalah Dedeng yang menjadi pemakalah di salah satu ruangan.

“Perlu aja, selain saya tertarik sama tema ini, kita sebagai mahasiswa magister juga diwajibkan untuk punya publikasi”. Kesan positif juga diberikan oleh seorang peserta dari luar pulau Jawa, Helen dari Universitas Kristen Indonesia Maluku yang mengatakan bahwa acara ini sangat mendorong minatnya untuk melakukan penelitian baru. “Saya tertarik sekali ya dengan temanya terutama juga Pak Wulfram yang menjadi salah satu pembicara sudah terkenal di lingkup akademik Teknik Sipil sebagai salah satu ahli dari manajemen konstruksi dan mendengar beliau di depan tadi saya mendapatkan banyak pengetahuan juga,” kata Helen. Ia juga memuji beberapa inovasi kecil yang dilakukan oleh para panitia, “Lihat deh, dari undangan, pendaftaran, dan lain-lain sudah menggunakan (teknologi) digital dan sedikit sekali menggunakan kertas yang biasanya dibuang-buang. Salut buat panitia yang benar-benar menjalankan prinsip Sustainable Development dari hal-hal kecil”, puji Helen yang juga mengirimkan manuskrip penelitiannya dan direview oleh panitia.

Diharapkan acara ini dapat mendorong minat para peserta untuk lebih produktif lagi dalam meneliti dan mengabdi.