Home / Opini / Memahami Ilmu Transportasi yang Tidak Lagi Sama
Kegiatan Visiting Lecture di AIT, Thailand, September 2018.

Memahami Ilmu Transportasi yang Tidak Lagi Sama

PADA awalnya para insinyur di bidang transportasi bekerja berdasarkan pelatihan, pengalaman, dan kemauannya, sehingga menjadikan mereka insinyur yang tidak spesifik (generalis) yang bekerja secara pragmatis berdasar pemahaman yang kuat atas kenyataan fisik dan politis (Sinha et al., 2002).

Namun, dunia terus berkembang dan menjadi semakin kompleks. Berbagai aspek kehidupan telah berubah akibat perubahan dan perkembangan pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi, hingga gaya hidup. Pengetahuan dan kemampuan yang awalnya memadai menjadi tidak lagi memadai untuk menangani persoalan, kebutuhan, permintaan.

Persoalan transportasi tidak lagi sederhana berupa kebutuhan membangun infrastruktur berupa jalan, bandara, atau pelabuhan. Sebagai contoh, kebutuhan pembangunan jalan tidak lagi sekedar tersedianya bangunan jalan pada ruang geografi tertentu dengan kemampuan layanan tertentu, namun jalan tersebut harus menyediakan kemampuan melewatkan jumlah kendaraan dalam distribusi waktu dan tempat yang semakin kompleks, memberi tingkat keselamatan yang tinggi, kenyamanan perjalanan bagi semua pelaku perjalanan, waktu tempuh yang cepat, konektivitas yang tinggi dengan berbagai tujuan, tingkat polusi yang rendah, hingga penggunaan energi yang ramah lingkungan. Persoalan menjadi semakin kompleks Saat pembangunan jalan tersebut harus mampu memberikan layanan mobilitas untuk pergerakan beragam tujuan kegiatan oleh beragam orang. Pelaku perjalanan dengan beragam aktivitas, tujuan, jenis kendaraan, waktu perjalanan, kemampuan membiayai perjalanan, serta preferensi kualitas layanan, menjadikan pembangunan jalan perlu mengantisipasi pola perjalanan tersebut. Pola tersebut menjadikan beban lalu lintas jalan menjadi tidak mudah lagi diprediksi untuk mengantisipasi kebutuhan pergerakan. Dalam konteks Indonesia dengan luas wilayah dan keragaman yang dimiliki, maka persoalan tidak menjadi lebih ringan. Perbedaan menjadi sesuatu yang alamiah, dihidupi, dan harus diantisipasi yang menjadikan bidang transportasi menjadi semakin menarik dan penting. Pendekatan yang serba seragam menjadi tidak tepat. Pendekatan dengan kearifan, pemahaman keunikan, dan keunggulan lokal menjadi Sesuatu yang diperlukan. Berbagai studi, misalnya Joewono et al. (2015ab, 2017) mempelajari bagaimana perilaku pengendara sepeda motor yang beragam di berbagai kota serta berbagai generasi. Studi pengoperasian angkutan umum, yang walaupun dikatakan memiliki nama generik, menunjukkan bahwa pada kenyataannya memiliki variasi layanan yang menjadikannya berbeda (Joewono et al. 2017). Studi juga menunjukkan bahwa kebutuhan pengguna angkutan umum perlu dijawab dengan kebijakan yang tepat, yaitu tidak sekedar mengganggap sebagai konsumen pada umumnya (Joewono et al., 2016).

Keunikan tersebut dilengkapi dengan dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). TIK telah merambah ke seluruh dunia dan tidak terkecuali seluruh wilayah Indonesia dengan beragam derajat penetrasinya. TIK telah mengubah cara manusia Indonesia dalam berkehidupan, termasuk cara bertransportasi. Munculnya angkutan berbasis teknologi (online) telah menyadarkan bahwa perubahan telah melanda bidang transportasi dengan kecepatan dan dampak yang tidak terkira sebelumnya. Terjadinya berbagai penolakan, bentrokan, dan demonstrasi antara pelaku penyedia layanan berbasis online dengan yang konvensional membuka mata tentang kenyataan terlambatnya mengantisipasi. Di Sisi lain, pemahaman yang tidak lengkap mengenai transportasi menjadikan berbagai persoalan tidak cepat menemukan solusinya.

Dengan perubahan yang telah terjadi dan diyakini bahwa perubahan akan melanda di masa mendatang, maka bidang transportasi akan bergerak dalam arah yang semakin dinamis. Antisipasi menjadi hal yang diperlukan agar kebijakan dan proyek pembangunan akan membawa kemanfaatan yang terbaik. Kegagalan dan penyimpangan dari estimasi awal diharapkan dapat diminimalkan untuk mengurangi kerugian. Dengan pemahaman tersebut, maka ada 12 isu kritis di bidang transportasi yang perlu diantisipasi di masa datang. Isu kritis yang saling terkait tersebut merujuk pada publikasi awal 2018 oleh Transportation Research Board (TRB) yang mencakup 1) transformasi teknologi dan pelayanan, 2) penyediaan layanan akibat pertumbuhan dan pergeseran penduduk, 3) energi dan keberlanjutan, 4) ketahanan dan keamanan, 5) keselamatan dan kesehatan masyarakat, 6) keadilan, 7) pemerintahan, 8) kinerja sistem dan manajemen, 9) pembiayaan dan keuangan, 10) perpindahan barang, 11) kapasitas institusi dan tenaga kerja, dan 12) penelitian dan pengembangan.

Sebagai antisipasinya, maka Sinha et al. (2002) dalam tulisannya dalam rangka ulang tahun ASCE (American Society of Civil Engineers) di USA ke-150 menyatakan bahwa bidang teknik transportasi harus berperan penting dalam proses pembangunan, yaitu menyediakan fasilitas dan layanan transportasi yang sesuai kebutuhan masyarakat, rancangan yang ramah lingkungan dengan tingkat kreativitas yang tinggi, pengambilan keputusan yang melibatkan konsensus masyarakat yang terlibat, perencanaan transportasi yang terintegrasi dengan melibatkan beragam keilmuan, perencanaan, statistika, ekonomi, keuangan, kebijakan publik, operasi dan manajemen, serta psikologi. TRB (2018) menegaskan bahwa pelaku di bidang transportasi perlu memiliki pemahaman lingkungan dalam artian lebih luas, yaitu aspek yang mengarahkan perkembangan permintaan transportasi yang mencakup perubahan penduduk, perkembangan ekonomi, serta dilengkapi dengan apresiasi yang tepat tentang tujuan transportasi, misalnya penyediaan mobilitas dan aksesibilitas melalui kinerja sistem yang efisien, keselamatan, keadilan, keberlanjutan, ketahanan, serta kondisi-kondisi yang mengarahkan penyediaan transportasi, yaitu keuangan, sumber daya, pemerintahan, kapasitas institusi, serta inovasi.

Para insinyur transportasi tidak hanya harus mampu membangun, namun harus mampu mengelola dan mengoperasikan dengan pemahaman yang tepat mengenai aspek fisik, lingkungan, maupun politik (sosial-budaya). Ahli transportasi harus mampu mengintegrasikan aspek teoritis dengan kenyataan praktek di lapangan. Hal ini menuntut kelenturan dan tingkat pemahaman yang tinggi untuk mengantisipasi perubahan masa datang.

Berbagai lembaga, baik pemerintah maupun badan usaha, baik lembaga pendidikan ataupun lembaga penelitian, telah berusaha sedemikian rupa untuk menyiapkan diri menghadapi perubahan serta mengantisipasinya. Perguruan Tinggi melalui kurikulumnya berusaha menyiapkan lulusan dengan beragam kompetensi dan pengetahuan, aspek teoritis maupun praktis, serta aspek teknis, manajemen, hingga sosial-ekonomi-psikologi-budaya-politik. Universitas Katolik Parahyangan berupaya berkontribusi dalam menyiapkan tenaga ahli di bidang transportasi melalui program pendidikan sarjana, magister, maupun doktor. Para staf pengajar sebagai individu profesional maupun secara kelembagaan juga berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan transportasi Saat ini sebagai antisipasi masa datang melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian masyarakat. Pembelajaran dalam rangka memahami transportasi yang tidak lagi sama memerlukan sikap kerja yang juga berbeda. Kolaborasi kerja dan berbagai informasi merupakan suatu hal yang diperlukan di era yang baru. Publikasi bersama dalam jurnal internasional bereputasi dengan peneliti mitra di berbagai universitas di dalam maupun luar negeri juga menjadi contoh. Kegiatan berbagi pengetahuan melalui kegiatan kuliah tamu di perguruan tinggi mitra juga menjadi hal yang penting.

 

(Kontributor: Tri Basuki Joewono, Ph.D., Dosen program studi Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan.)
Transport Policy
Journal horne page: www.elsevier.com/locate/transport
Road-based public transportation in urban areas of Indonesia: What policies do users expect to improve the service quality?
Tri B. Joewono, Ari KM. Tarigan, Yusak. O. Susilo

 

Sumber: Pikiran Rakyat (Kamis, 29 November 2018)