Home / Berita Terkini / Memahami Identitas, Kunci Penting Menjalin Dialog

Memahami Identitas, Kunci Penting Menjalin Dialog

Manusia adalah makhluk individual sekaligus sosial. Setiap manusia memiliki identitas yang berbeda dengan manusia lainnya. Di sisi lain, manusia perlu mengenal manusia lain dalam kehidupan sosialnya. Agar dapat saling berinteraksi dengan baik sembari menjunjung humanitasnya, manusia membutuhkan dialog. Hal ini lebih kentara lagi melihat perkembangan masyarakat kita yang semakin dinamis dan majemuk.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dengan spiritualitas dan nilai dasar yang dihidupi oleh komunitasnya menyepakati bahwa dialog adalah hal yang penting. Bukan semata dalam menjaga keberagaman yang kaya, tetapi menjadi sarana pengembangan diri manusia menjadi utuh atau humanum, dan bernilai.

Membicarakan apa itu dialog dan perannya dalam kemanusiaan, Divisi Publikasi Unpar berbincang dengan Pst. Yohannes Driyanto, Pr., Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) Unpar. Penjelasan Romo Dri, panggilan akrabnya, tidak hanya melihat tentang pengertian dialog semata, namun bagaimana identitas manusia menjadi bagian penting dari dialog, dan bagaimana dialog menjadi kunci memahami dan menghargai identitas tersebut.

Konfirmasi Identitas

Bagi Romo Dri, sebelum masuk ke dalam pemahamanan akan peran dan cara berdialog, kita perlu memahami identitas diri kita sebagai manusia. Manusia, ungkapnya, memiliki tujuh sifat yang menciptakan suatu identitas tersebut. Yang pertama ialah bahwa manusia itu berbeda. Kedua, manusia itu tertentu. Ketiga, manusia adalah unik. Ia adalah satu-satunya, tidak ada manusia lain yang serupa apalagi sama dengannya.

Kemudian, manusia merupakan insan yang indah atau wonderful. Setiap unsur dari manusia, baik itu fisik, jiwa, maupun religiusitasnya, memiliki nilai yang indah dan bermakna. Hal ini juga membuat manusia itu menarik, memiliki daya tariknya masing-masing. Keenam, manusia adalah insan yang tidak dapat terulang atau unrepeatable. Kehidupan seorang manusia dari lahir hingga meninggal adalah miliki manusia tersebut dan tidak bisa diulang lagi.

Yang ketujuh, manusia tidak dapat tergantikan atau irreplaceable. Jika manusia itu tidak ada, maka ia tidak bisa digantikan kedudukan dan identitasnya oleh manusia lain. Romo Dri menegaskan bahwa dalam dialog, manusia harus mampu memahami dirinya dulu sesuai ketujuh sifat manusia tersebut. Dengan mengkonfirmasi bahwa diri berbeda, unik, dan bernilai dibandingkan dengan manusia lain, barulah dialog bisa berlangsung. Singkatnya, menurut Romo Dri,  “We have to live our identities.” 

Menghargai Diri, Menghargai Yang Lain

Mengapa pemahamanan akan identitas diri menjadi penting dalam dialog? Karena hal ini, menurut Romo Dri, adalah dasar penciptaan dialog yang baik. Apabila seseorang telah mengkonfirmasi diri dan menciptakan kepercayaan akan dirinya sendiri, dengan kata lain menciptakan self-confidence, barulah ia bisa melangkah untuk menghargai identitasnya sendiri. Dengan self-confidence, maka manusia dapat belajar untuk menghargai diri sendiri atau memiliki self-respect, ia telah siap untuk membuka dialog dengan orang lain.

Di sisi lain, mengenal dan menghargai diri sendiri tidak cukup. Romo Dri mengatakan bahwa dalam menjalin dialog yang baik, seseorang juga perlu mengenal identitas lawan dialognya. Siapa dia, dan dimanakan posisinya terhadap saya? Hal ini penting dalam menempatkan lawan dialog secara tepat dan menciptakan perasaan menghargai terhadap lawan dialog. Tentu berbeda orang, berbeda pula cara kita menyampaikan pandangan, perasaan, dan menanggapi respon orang tersebut.

Oleh karena itulah, dialog bukan hanya cara kita berinteraksi saja. Dialog menjadi penting dalam mengembangkan diri kita menjadi insan yang humanum, utuh sebagai manusia. 

Memperkokoh Persatuan

Sebagai institusi pendidikan dan ruang komunitas intelektual, Unpar perlu mendorong terciptanya dialog yang baik di tengah masyarakat. Dengan semangat bonum commune atau kebaikan bersama, maka dialog diarahkan menuju kepada kepentingan yang luhur dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Selain itu, dialog juga dilandasi pada prinsip caritas in veritate, cinta kasih dalam kebenaran yang bersifat revelasional dan universal.

Tidak kalah penting menurut Romo Dri, dialog hendaknya diarahkan sesuai, “Tujuan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Hal ini tentu tidak lepas dari peran dialog yang menjembatani perbedaan akan diri sendiri dan orang lain dengan baik dan penuh penghargaan. Dialog yang baik akan memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam masyarakat kita.

Aspek-aspek dialog ini dipegang teguh oleh Unpar. Pengembangan diri kaum muda berdasarkan spiritualitas dan nilai dasar yang mencakup humanum, caritas in veritate, Bhinneka Tunggal Ika, serta bonum commune, bersama prinsip-prinsip lainnya, menjadi dasar dari pendidikan tinggi dalam komunitas akademik Unpar. Oleh karenanya, setiap insan Unpar perlu menyelami diri, menghargai identitasnya dan sesama, serta berperan aktif dalam menciptakan dialog yang baik dalam kehidupan.

Dialog tidak bisa dilepaskan dari keseharian dan perkembangan diri kita sebagai manusia. Lewat dialog, kita didorong untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik, sembari menumbuhkan penghargaan atas hidup manusia-manusia lainnya. Dengan dialog, kita tidak hanya mampu menciptakan harmoni, tetapi mampu membangun diri menjadi manusia yang utuh. (DAN – Divisi Publikasi)