Home / Berita Terkini / Melihat Keterkaitan Media dan Diplomasi Lebih Dekat Lagi
Parahyangan Media Diplomacy Festival 2016 - Media dan Diplomasi

Melihat Keterkaitan Media dan Diplomasi Lebih Dekat Lagi

Media dikatakan sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu lah, media memiliki peran yang sangat besar dalam sebuah masyarakat dalam kaitannya sebagai alat pembentuk opini di masyarakat. Terkait hal tersebut, media juga berarti memiliki hubungan dengan pemerintahan, tidak terkecuali terkait hubungan media dengan diplomasi suatu negara.

Peran media yang semakin penting dalam dunia Hubungan Internasional khususnya terkait hubungannya dengan masyarakat dan diplomasi membuatnya dianggap penting untuk menjadi salah satu kajian utama Ilmu Hubungan Internasional. Media, Diplomasi, dan Komunikasi Internaisonal menjadi salah satu kelompok bidang ilmu (KBI) yang dimiliki oleh Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Terdapat 6 mata kuliah yang dimasukan kedalam kelompok tersebut yakni Jurnalisme Internasional; Psikologi Politik dan Propaganda; Diplomasi Multi-Jalur; Media, Budaya, dan Masyarakat.

Untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam terkait hubungan media dan diplomasi serta bagaimana praktiknya di dunia nyata, maka diadakanlah Parahyangan Media and Diplomacy Festival (PMDF) 2016 yang diadakan bersama Warta Himahi, organisasi internal Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unpar yang bergerak di bidang media dan jurnalisme. Acara yang diinisiasi pertama kalinya oleh Warta Himahi ini telah berlangsung pada Jumat (13/05) lalu di Mgr. Geise Lecture Theatre, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Gedung 3, Unpar.

Acara diisi dengan presentasi dari 6 finalis lomba tulis esai yang telah melalui tahap seleksi. Lomba tulis esai yang terbuka untuk publik dan cakupannya nasional ini mengambil tema “The Role of Media as an Instrument of Diplomacy” serta diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Pada lomba tersebut, Bobby Hizkia, mahasiswa prodi HI Unpar keluar sebagai juara pertama dengan judul esai “Drama Serial Turki: Sebuah Strategi Diplomasi Publik”.

Pada acara puncak hari itu juga diselenggarakan talkshow bersama jurnalis senior Desi Anwar yang kini menduduki posisi News Anchor serta Direktur di CNN Indonesia dan Marvin Sulistio, seorang alumni HI Unpar 2009 yang berprofesi sebagai jurnalis dan menduduki jabatan News Anchor serta News Producer di stasiun televisi berita pertama di Indonesia Metro TV. Pada talkshow yang bertajuk “Media as an Instrument of Diplomacy” tersebut keduanya memaparkan pandangan-pandangan mereka terkait bagaimana hubungan media dengan diplomasi serta kaitannya dengan demokrasi dan dunia politik.

Siang hari, acara dilanjutkan dengan seminar yang mengangkat topik “The Role of Media and Diplomacy in Indonesia’s Foreign Policy” dengan menghadikan Teiseran Foun Cornelis yang sekarang ini menjabat Fungsional Utama Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Sebelumnya beliau menduduki posisi Duta Besar RI untuk Kuba. Dalam paparannya, Teiseran mengungkapkan bahwa peran pemerintah dalam pembentukan image di hadapan media sangat lah penting untuk mencapai kepentingan negara. Pemerintah perlu menjaga hubungan baik dengan media. Agar media dapat memberitakan dari perspektif yang benar, sesuai apa yang diyakini oleh pemeritah. Mengapa demikian? Mengutip pernyataan Desi Anwar di sesi sebelumnya, media sangat berpotensi untuk menjadi perusak diplomasi antar negara baik melalui pernyataan yang mereka ungkapkan atau tuliskan. Sangat jelas bahwa media memiliki peran yang penting dalam hubungannya dengan negara, pemerintah harus lah menjalin hubungan baik dengan media-media yang ada.