Home / Berita Terkini / Melawan Anti-Kritik, Membangun Ilmu Pengetahuan
Kritik

Melawan Anti-Kritik, Membangun Ilmu Pengetahuan

Keterbukaan informasi di masa kini mendatangkan dampak baik bagi dunia keilmuan, yang perkembangannya juga semakin pesat. Di sisi lain, muncul permasalahan atas kritik dan kritisisme. Kemunculan pihak-pihak yang menolak keberadaan kritik, bahkan di dunia akademis, telah terbukti menjadi penghalang bagi dunia ilmu, yang sendirinya membutuhkan kritisisme sebagai modal utama pengembangan dan peningkatan kebenaran ilmiah. Dengan kata lain, fenomena anti-kritik menjadi ancaman bagi ilmu pengetahuan.

Topik ini menjadi permasalahan utama yang dikemukakan oleh Dr. Karlina Supelli, dalam kuliah terbuka yang bertajuk “Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan”. Kuliah terbuka ini diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Kita (GITA), bersama Qureta dan Ruang Media Perempuan (Rumpun) Indonesia, bekerja sama dengan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Kegiatan yang menjadi titik awal rangkaian lokakarya menulis oleh Qureta ini berlangsung di Aula Sekolah Pascasarjana Unpar pada Jumat (22/9).

Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, tidak hanya mahasiswa. Aula dipenuhi oleh pegiat seni, pegiat sosial, akademisi, aktivis, serta awak media yang turut menghadiri kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya datang dari Bandung, namun juga dari berbagai tempat di Indonesia. Hadir pula Goenawan Mohamad, sastrawan dan pendiri Tempo, yang menjadi representasi GITA. Pimpinan Unpar yang menghadiri kuliah umum adalah Wakil Rektor Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama, Dr. Budi Husodo Bisowarno, juga Pst. Harimanto Suryanugraha OSC, Drs, SLL, Dekan Fakultas Filsafat Unpar.

Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, dari Luthfi Assyaukanie selaku Editor-in-Chief Qureta serta Dr. Budi Husodo Bisowarno selaku perwakilan Unpar. Acara juga diisi dengan pemutaran film “Lebah dan Nektar” oleh Kineforum Jakarta. Film yang menceritakan pencarian seorang gadis cilik akan makna gestur yang membuat kakak kelasnya tertawa-tawa, disambut dengan tawa dan tepuk tangan hadirin.

Kegiatan memasuki mata acara puncak, yaitu kuliah terbuka yang dimoderatori oleh Sely Martini, seorang aktivis perempuan Indonesia. Secara garis besar, Dr. Karlina Supelli menyatakan bahwa kritik penting bagi pengembangan ilmu, sebagai bagian dari pengujian akan kebenaran ilmiah yang tidak ada hentinya. Sedangkan bila kebenaran ilmiah disamakan dengan, misalnya, kebenaran religius, maka dunia ilmu tidak mampu berkembang.

“Kita berhadapan dengan situasi yang sangat serius saat ini,” papar astronom dan dosen filsafat itu, seiring dengan masuknya gagasan anti-kritik di dunia pendidikan dan akademik, yang nantinya mungkin masuk ke dalam proses pembuatan kebijakan. “Kembangkanlah akal budi Anda, berpikirlah, berpikir melibatkan ingatan, memori, pertimbangan moral, melibatkan pertimbangan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Itu proses berpikir,” pesannya sebelum mengakhiri kuliah terbuka.