Home / Berita Terkini / Mahasiswa Unpar Berbagi Pengalaman Ikuti Ajang Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot Competition

Mahasiswa Unpar Berbagi Pengalaman Ikuti Ajang Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot Competition

Tim moot court Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar) berhasil menorehkan sejarah dengan meraih penghargaan untuk pertama kalinya di kompetisi Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot Competition. Kompetisi tahun ini diadakan di Hong Kong pada 31 Maret – 7 April 2019. Tim FH Unpar terdiri dari Einar Fausta Hertianto (2016), Evelyn Tanissa (2017), Elisabeth Tania (2017), Jason Daniel Edgar (2017), Sherly Xu (2017) serta Supervisor Team Michelle Gracia Susilo (2015).

Tim Publikasi berkesempatan mewawancarai dua mahasiswa peserta lomba, yakni Evelyn dan Sherly. Bagi keduanya, Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot Competition menjadi kompetisi peradilan semu pertama yang mereka ikuti.

“Alasannya nambah pengalaman,” kata Evelyn ketika ditanya mengapa tertarik untuk mengikuti lomba tersebut.

“Karena ini kayak kerjaan di law firm gitu. Waktu persiapan lomba kami dibimbing langsung oleh foreign council, law firm HBT (Hiswara Bunjamin & Tandjung). Jadi mereka langsung turun tangan. Sama dari Makarim (law firm). Jadi, kita kayak dapet bimbingan langsung dari ahlinya,” terangnya.

Sherly mengatakan, ajang ini adalah event prestisius yang diikuti oleh universitas-universitas ternama di dunia. “Deg-degan karena yang ikutan itu Harvard, univ-univ (universitas) gede ternama,” ungkapnya.

Untuk dapat mengikuti kompetisi ini, Evelyn dan Sherly aktif dalam komunitas debat mahasiswa FH Unpar yakni Parahyangan International Law Society (PILS).

Lewat ajang Willem C. Vis, Sherly mengatakan bahwa tim FH Unpar banyak belajar hal baru yang menantang. “Belajar lebih banyak tentang arbitrasi internasional sih. Kan kita udah ke law firm. Udah belajar lebih banyak sama lawyer-lawyer dari sananya,” ungkapnya.

Tentunya, ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk bisa bergabung dengan komunitas PILS Unpar, terlebih untuk dapat berkesempatan mengikuti kompetisi internasional.

“Kemampuan yang beneran dilihat itu mungkin banyak yang mikir kemampuan bahasa Inggrisnya harus bagus ya, kalo masuk PILS. Tapi, sebenernya yang lebih dilihat itu kemampuan berpikirnya. Gimana kaitin fakta hukum sama dasar hukum yang ada,” tambah Evelyn.

“Jadi, yang dilihat itu pola berpikirnya. Harus kritis,” simpulnya.

Keduanya, membagikan pesan kepada Unparian untuk berani mencoba dan mengambil kesempatan yang datang selama berkuliah di Unpar.

“Harus memanfatkan kesempatan sebaik mungkin. Kalo bisa ikut lomba, ikut. Karena kuliah kan cuma empat tahun. Sayang kalo ga dimaksimalin,” ujar Evelyn

Serupa dengan Evelyn, Sherly juga mengatakan hal yang sama. “Jangan takut untuk mencoba,” pungkasnya.

Pada kompetisi ini, tim FH Unpar meraih penghargaan “Honourable Mention for Best Memorandum on Behalf for the Claimant” sebagai tim dengan salah satu gugatan tertulis (written pleadings) terbaik. Prestasi tersebut setingkat dengan penghargaan yang didapat oleh Harvard University, Amerika Serikat.

Tim FH Unpar juga memenangkan 2 dari 4  putaran pertandingan menghadapi tim dari Peking University, School of Transnational Law (RRC), National Taipei University (Taiwan), Latrobe University (Australia) dan National Law University, Delhi (India).