Home / Berita Terkini / Mahasiswa dan Start-ups: Menciptakan Perubahan Melalui Usaha Sosial

Mahasiswa dan Start-ups: Menciptakan Perubahan Melalui Usaha Sosial

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menjadi salah satu pusat kajian ilmu kewirausahaan sosial memberikan dampak positif dalam lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat sesuai dengan sesanti Unpar ‘Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti’, yang berarti menuntut ilmu untuk diabdikan bagi perkembangan masyarakat.

Kewirausahaan social (social entrepreneurship) dan usaha sosial merupakan pendekatan baru dalam pembangunan. Pendekatan ini dapat diterapkan baik oleh pemerintah, sektor swasta dan sektor organisasi nirlaba seperti lembaga sosial masyarakat (LSM) atau lembaga masyarakat sipil. Sektor usaha sosial merupakan alternatif baru untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan pembangunan di Indonesia. Sejak tahun 2016, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) telah menjadi salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang mengembangkan pengetahuan dan praktik tentang kewirausahaan social dan usaha sosial.

Pada tahun 2017, UNPAR mendapatkan hibah internasional dari Uni Eropa (European Union) melalui program yang diberi nama Introducing Social Entrepreneurship in Higher Education (INSPIRE). Program ini merupakan upaya untuk memperkenalkan kewirausahaan sosial di lingkungan pendidikan tinggi. Keberhasilan UNPAR memenangkan hibah ini merupakan cerminan kepakaran UNPAR dalam bidang kewirausahaan social dan usaha-usaha sosial.

Dalam kegiatan INSPIRE ini, UNPAR bersama-sama dengan delapan universitas ternama baik dalam dan luar negeri bergabung dalam sebuah konsorsium yang terdiri dari FH JOANNEUM GmbH (Austria), University of Alicante (Spanyol), Cracow University of Economics (Polandia), Universitas Sumatera Utara (Medan), Universitas Andalas (Padang), Universitas Udayana (Bali), Universitas Katolik Parahyangan (Bandung), Bali Tangi (Bali).

Rangkaian kegiatan dalam INSPIRE ini meliputi (1) Pelatihan untuk pelatih (training of trainer); (2) world-café memperkenalkan kewirausahaan sosial kepada mahasiswa; (3) Pelatihan untuk mahasiswa (student workshop); (4) Kompetisi bagi mahasiswa (student competition) yang akan diikuti dengan proses inkubasi; dan (5) Penyediaan sarana dan prasarana pengembangan usaha-usaha sosial.

Selama empat (4) hari, dari tanggal 28 Februari 2019 sampai dengan 31 Maret 2019, UNPAR telah menyelenggarakan pelatihan bagi mahasiswa (student workshop) dengan judul ‘Student Workshop & Camp on Creating Social Value through Social Enterprise’. Dalam menyelenggarakan workshop ini UNPAR juga bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cimahi dan melengkapi kegiatan workshop dengan student camp. Pelaksanaan kegiatan INSPIRE tahun 2019 ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu kampus UNPAR (Jalan Ciumbuleuit Bandung) dan Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi.

Kegiatan ‘Student Workshop & Camp on Creating Social Value through Social Enterprise’ ini terbuka untuk seluruh mahasiswa aktif di seluruh Indonesia. Antusias mahasiswa untuk mengikuti workshop ini sangat tinggi terbukti dari banyaknya mahasiswa yang mendaftar. Dalam waktu dua minggu masa pendaftaran secara online, terdapat 130 pendaftar yang berasal dari 23 Perguruan tinggi (PTS dan PTN) di seluruh Indonesia (Aceh, Palembang, Lampung, Kalimantan, Makassar, Pasuruan, Jember, Surabaya, Semarang, Surakarta dan Yogyakarta). Dari 130 pendaftar tersebut terseleksi 40 mahasiswa untuk mengikuti workshop. Seleksi didasarkan pada penilaian terhadap uraian motivasi (motivation statement) dan pemahaman mendasar tentang usaha sosial. Peserta yang terpilih berasal dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Institut Pendidikan Bogor (IPB), Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS), Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), dan Universitas Indonesia (UI).

Dalam workshop tersebut, para mahasiswa belajar tentang menciptakan nilai sosial atau kemanfaatan sosial melalui usaha-usaha sosial. Secara komprehensif mahasiswa belajar tentang (1) bagaimana mengidentifikasi akar dari suatu masalah sosial, (2) konsep dan tahap-tahap dalam merancang social enterprise menggunakan business model canvas (BMC) serta (3) membuat rencana bisnis social enterprise. Dengan mempelajari aspek-aspek penting kewirausahaan social tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memulai untuk membentuk perusahaan-perusahaan pemula (start-ups) usaha sosial. Dengan demikian, diharapkan UNPAR yang menjadi salah satu pusat kajian ilmu kewirausahaan sosial memberikan dampak positip dalam lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat sesuai dengan sesanti UNPAR ‘bakuning hyang mrih guna santyaya bhakti’, yang berarti menuntut ilmu untuk diabdikan bagi perkembangan masyarakat.

Melalui workshop ini, muncul berbagai ide-ide usaha sosial dari para peserta yang sangat inovatif dan variatif. Seluruh kegiatan dilakukan dengan menggunakan pengantar bahasa Inggris. Tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh para peserta. Peserta yang terbagi menjadi delapan kelompok diminta untuk mempresentasikan ide-ide usaha sosialnya dalam sebuah sesi presentasi memenangkan ide proyek atau biasa disebut sebagai ‘project pitching’ dihadapan para juri. Panel juri terdiri dari perwakilan partner kerjasmaa dari Cracow University of Economics (Polandia) yaitu Maria Urbaniec, PhD dan Monika Sady, PhD. Seluruh fasilitator dalam workshop ini juga memberikan penilaian bagi setiap ide yang dipresentasikan. Para fasilitator tersebut adalah Elivas Simatupang, SE., MSc. (Kabid Litbang pada Bappeda Kota Cimahi), Tutik Rachmawati, Ph.D (Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik), Dr. Maria Widyarini (Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis), Fiona Ekaristi Putri, S.IP., MM. (dosen pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis), Christian Wibisono SE., MSM (Dosen pada Program Studi Manajemen UNPAR), Ratih Indraswari, SIP., MA. (Kantor Kerjasama Internasional)  dan Ibu Foura Dewiyanti Trisnasih, SE., MMKMT (Bank Jabar Banten).

Para juri menilai bahwa ide-ide usaha sosial yang dihasilkan oleh 8 kelompok dapat mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di Indonesia. Ide-ide usaha social tersebut adalah pembentukan desa wisata untuk mengatasi masalah para pemuda yang tidak produktif, pemberdayaan terhadap para anak-anak jalanan dengan memproduksi alat-alat music dan membentuk grup musik, pemanfaatan limbah perabotan rumah tangga untuk dijadikan meja belajar, pendirian bengkel motor untuk membantu mengurangi kenakalan remaja (gank motor), pendirian restoran untuk membantu perempuan-perempuan yang pernah dipenjara (female ex-convict), pembuatan pupuk organik untuk memecahkan masalah lingkungan berupa sampah dan urban farming (berkebun di kota) untuk ketahanan pangan.

Selain belajar dan berlatih tentang kewirausahaan sosial dan usaha sosial, peserta workshop juga mendapatkan pengalaman hidup bersama-sama dengan masyarakat adat Cireundeu. Peserta juga melakukan kegiatan observasi dan pengumpulan data-data penting tentang masyarakat adat Cireundeu. Data-data yang dikumpulkan berupa narasi, foto-foto dan video tentang alat-alat musik tradisional, arsitektur, situs keagamaan, makanan dan minuman khas, homestay, adat dan seni, dan pengelolaan sampah kampung Cireundeu. Data-data tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan website pariwisata kampung Adat Cireundeu.

Salah satu kemampuan kunci yang penting untuk menemukan dan mengembangkan ide-ide usaha sosial adalah rasa empati. Dengan tinggal bersama dengan warga adat Cireundeu yang rmemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Para peserta diajak secara langsung dan intens berempati terhadap keberagaman dan perbedaan nilai-nilai dalam masyarakat. Peserta pun dapat melihat secara langsung best practice usaha sosial yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Cireundeu. Kegiatan Live in di Cireundeu melengkapi pemahaman peserta tentang kewirausahaan sosial.

Banyak kesan dan manfaat yang didapat para peserta dari workshop tersebut. Peserta merasa bahwa workshop memberikan kesadaran bahwa mahasiswa dapat menjadi bagian dari pemecah masalah sosial ‘problem solver’ di tengah-tengah masyarakat. Peserta workshop menyatakan bahwa setelah mengikuti workshop ini mereka lebih termotivasi untuk mengajak teman-temannya di kampus untuk mendirikan buat social enterprise.

2019 INSPIRE Student Workshop and Camp telah mampu meningkatkan keperdulian sosial dan membekali peserta mahasiswa dengan kemampuan dan keterampilan membentuk start-ups usaha-usaha sosial. Mahasiswa pun menjadi lebih berempati dan termotivasi menciptakan solusi yang kreatif dani novatif. Bukan hanya menciptakan usaha atau bisnis baru yang hanya berorientasi pada laba, melainkan bisnis baru yang berkontribusi terhadap terciptanya nilai-nilai sosial.

Kontributor: Tutik Rachmawati Ph.D (Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik Unpar)