Home / Berita Terkini / Literasi Agama Menyongsong Normal Baru

Literasi Agama Menyongsong Normal Baru

Dialog adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Lewat dialog, manusia dapat bertukar pikiran, membuka pemahaman dan menggali ide baru dalam menjawab tantangan zaman. Dialog menjadi penting dalam menyongsong masa baru dengan perubahan fundamental. Hal tersebut sangat relevan bila kita melihat kondisi masa kini yang mana masyarakat tengah mempersiapkan diri menyongsong normal baru.

Dalam menjelaskan berbagai pandangan terhadap fenomena pandemi dan normal baru yang mengikutinya, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan menyelenggarakan Webinar Nasional Fenomenologi Agama yang diadakan dari Bandung dan Surabaya. Webinar bertajuk “Literasi Agama di Masa Pandemi: Tinjauan Perspektif Teologi Biblika dan Al-Quran” ini menghadirkan dua pakar filsafat keagamaan lintas agama, secara spesifik Islam dan Katolik.

Hadir sebagai narasumber dalam webinar yang diselenggarakan pada Sabtu (6/6/2020) yaitu Dr. Nyong Eka Teguh Iman Santosa yang merupakan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, serta Dr. Fransiskus Borgias, peneliti senior dari FF Unpar. Perbincangan dan diskusi yang menarik ini dipandu oleh Willfridus Demetrius, S.S., M.Pd. dari FF Unpar. 

Religiusitas menjadi komponen penting yang didiskusikan dalam dalam webinar tersebut. Baik Nyong maupun Fransiskus menyepakati bahwa situasi pandemi ini menjadi kesempatan bagi manusia beriman dalam meningkatkan kadar religiusitasnya. Pandangan dan ajaran agama menjadi kunci bagi kita merefleksikan diri terhadap perubahan global yang diakibatkan oleh Covid-19. Eksistensi sebagai manusia dikaji kembali melampaui batas-batas identitas seperti suku, rasa, bangsa, dan agama.

Manusia yang telah melalui suatu tahap kehidupan yang rapuh kini perlu mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang kita kenal sebagai ‘Normal Baru’ itu. Lagi-lagi, solidaritas umat menjadi kunci dalam memperbaiki diri dan masyarakat menyongsong fenomena baru. Kedua pembicara sepakat bahwa kerjasama antar umat beragama perlu ditingkatkan untuk membangun kembali kehidupan pasca pandemi memanfaatkan momentum Normal Baru ini.

Dialog dalam kehidupan manusia tidak diperuntukan dalam mencari corak perbedaan dan memperdebatkannya. Namun, dialog menjadi penting untuk memahami satu sama lain, membangun solidaritas kemanusiaan, khususnya di tengah masa-masa sulit. Webinar fenomenologi agama menjadi satu langkah baik sebagai jembatan umat merefleksikan diri melalui tinjauan teologi dan belajar dari masa pandemi menyongsong hidup baru. (DAN – Divisi Publikasi)