Home / Berita Terkini / Leadership Camp: Experiential Learning yang membentuk Karakter Kepemimpinan

Leadership Camp: Experiential Learning yang membentuk Karakter Kepemimpinan

Leaders should influence others in such a way that it builds people up, encourages and educates them so they can duplicate this attitude in others – Bob Goshen

Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki karakter tertentu. Karakter merupakan hal mendasar yang dalam proses jangka panjang akan menghasilkan kesuksesan atau kemenangan. 

Dalam buku 7 habits dari Sean Convey, dinyatakan ada dua kemenangan, yaitu menang terhadap diri sendiri dan menang terhadap orang lain. Kemenangan terhadap diri sendiri berarti memiliki kemampuan memimpin diri sendiri. Kemampuan memimpin diri sendiri tersebut kemudian perlu dikembangkan sehingga memberikan pengaruh dalam organisasi. Pertanyaannya adalah bagaimanakah  cara memperolehnya?. Covey menyampaikan bahwa ‘menang’ dapat diraih melalui kebiasaan. Sedangkan kebiasan merupakan irisan dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan dari diri seseorang dalam melakukan sesuatu. Jadi, membangun kebiasaan dapat diperoleh dari proses belajar yang didukung oleh situasi yang dikondisikan, yang kemudian dialami secara langsung sebagai sebuah pengalaman pribadi maupun berkelompok. Pengalaman yang dialami seseorang akan menyadarkannya akan kondisi ketergantungannya (dependence), kondisi kemandiriannya (independence), tanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya secara pribadi, serta kondisi saling ketergantungan yang diperlukan dalam teamwork (interdependence). Pada akhirnya, diperlukan hasrat untuk meresapi pengalaman demi pengalaman yang dialaminya. 

Program Studi Sarjana Manajemen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) terdorong untuk memberikan bekal kepada para peserta didik dalam proses belajar yang kelak membuat mereka siap menjadi pemimpin tingkat middle manager

Experiential Learning

Berdasarkan sudut pandang pembelajaran individual, terdapat dua tipe proses pembelajaran: 1. Tradisional, berupa pembelajaran satu arah di dalam kelas, 2. Non Tradisional, berupa pembelajaran dua arah yang dilakukan tidak hanya di kelas, namun melibatkan lingkungan, komunitas, termasuk di dalamnya experiential learning, Kolb (2015). Experiential Learning merupakan proses pembelajaran didasarkan atas peristiwa-peristiwa yang dialami. Kunci utamanya adalah ‘mengalami, menyadari, serta memaknai’. Untuk membangun tipe proses pembelajaran experiential learning, ada 3 klasifikasi yang menjadi pedoman pembentukannya, yaitu  1. external environment , 2. sensors, dan 3. internal environment. External environment, terdiri dari 2 dimensi, yaitu: learning environment dan learning activities. Sedangkan internal environment,  meliputi 3 dimensi, yaitu: emotions in learning, reasoning and intelligence, dan learning and change,  Beard (2010). Keseluruhan pedoman pembelajaran tersebut dapat diwakili oleh enam pertanyaan, yaitu: 1. dalam kondisi seperti apa proses belajar diselenggarakan, 2. bentuk kegiatan pembelajaran yang bagaimana yang sesuai, 3. bagaimana bentuk pembelajaran melalui pengalaman tersebut dapat diterima pembelajar. 4.apa implikasi emosional dari pengalaman tersebut, 5. bagaimana proses pemikiran yang terbentuk dari pengalaman tersebut. 6. Apakah proses pembelajaran berhasil membentuk perubahan yang diharapkan.

Leadership Camp                                

Sehubungan dengan tipe pembelajaran experiential learning, Program Studi Sarjana Manajemen Unpar mengimplementasikan proses belajar tersebut dalam mata kuliah Kepemimpinan Dasar melalui kegiatan Leadership Camp. Pembentukan kegiatan ini dimulai dengan pengkondisian tempat penyelenggaraan kegiatan yang mengisolir para peserta sehingga dapat fokus dalam melakukan berbagai aktivitas. Aktivitas yang dilakukan mencakup kegiatan pribadi maupun aktivitas kelompok yang berinteraksi dengan alam dalam bentuk permainan. Dalam kegiatan pribadi, terdapat permainan ular tangga kehidupan, dimana masing-masing peserta diberi kebebasan dalam memutuskan sesuatu dan dalam melangkah, agar bertanggung jawab atas keputusan pribadi yang dibuatnya. Disamping itu, ada aktivitas kelompok yang dilakukan dengan menyelenggarakan dinamika yang mengasah kerjasama kelompok, kemauan berkorban dan kesamaan visi dalam mencapai tujuan bersama. Tujuannya, agar peserta didik mengalami langsung peristiwa-peristiwa serta dan kejadian-kejadian sebagai pengalaman pribadi masing-masing. Kemudian pengalaman tersebut direfleksi, sebagai bentuk internalisasi dalam diri peserta, baik melalui tulisan maupun secara lisan. Dengan menuliskan secara pribadi serta menyampaikan secara lisan, mahasiswa didorong untuk menggali makna dari pengalaman yang dialaminya serta untuk berani menyampaikan ide dan pendapatnya. Selanjutnya, kegiatan debrief yang merupakan rangkaian pertanyaan yang diberikan pada peserta setelah menyelesaikan kegiatan tertentu yang bertujuan mengaitkan pengalaman dengan teori yang dipelajari, sehingga dapat menanamkan teori tersebut pada pribadi peserta. Kegiatan debrief dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan emosi yang muncul dari berbagai pengalaman yang telah dilewati. Pada akhirnya, diharapkan terjadi perubahan-perubahan sehubungan dengan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan yang mendukung dalam mencapai kemenangan pribadi maupun kemenangan publik.

Program Studi Manajemen Unpar merancang Program Leadership Camp di area perkemahan Kareumbi, daerah  Sumedang – Cigumentong, dalam empat hari tiga malam. Kegiatan ini melibatkan dua ratus lima puluh peserta dan didukung oleh lima puluh panitia mahasiswa serta Dosen-Dosen Pendamping Kelas Kepemimpinan Dasar. Proses belajar ini tidak berhenti sampai kegiatan leadership camp berakhir. Namun dilanjutkan dalam proses belajar di kelas dengan mengaitkan kembali makna pribadi berdasarkan pengalaman yang dialami dengan konsep yang diusung.

Mari bergabung dalam Program Studi Manajemen Unpar yang akan memberikan pengalaman dalam proses belajar sehingga membangun jiwa kepemimpinan kita!

Kontributor: Rizka Nugraha Pratikna, Triyana Iskandarsyah, Fernando, Elaine V.B. Kustedja (Dosen Program Studi Manajemen Universitas Katolik Parahyangan).

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis 24 Oktober 2019