Home / Alumni / Kuliah Kerja Lapangan: Belajar Bersama Masyarakat
Sumber foto: Dokumentasi kegiatan pengabdian Unpar

Kuliah Kerja Lapangan: Belajar Bersama Masyarakat

Kuliah Kerja Lapangan yang disingkat KKL menjadi salah satu bagian dari perkuliahan Program Studi Ilmu Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan (Prodi IAP Unpar). Bentuk program KKL IAP Unpar adalah pengabdian kepada masyarakat.

“Kuliah, tapi prosesnya pengabdian masyarakat. Penekanan KKL pada psikomotorik (mahasiswa),” terang Kristian Widya Wicaksono, S.Sos., M.Si dosen pengampu mata kuliah KKL IAP Unpar.

Melalui KKL, mahasiswa didorong untuk mengaplikasi ilmu dan pengetahuan yang telah diperoleh semasa di bangku perkuliahan. Mahasiswa diterjunkan ke tengah masyarakat untuk belajar mengetahui secara langsung apa yang tengah dihadapi masyarakat, sekaligus membantu mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Sebelumnya, program KKL di Unpar diadakan lintas prodi, tidak hanya IAP. Seiring berjalannya waktu serta perubahan kebijakan mengenai Sistem Kredit Semester (SKS), sebagian besar prodi memberhentikan pelaksanaan program tersebut.

“Ketika lintas program studi, tidak hanya penerapan ilmu pengetahuan. Tetapi juga teknologi dan seni,” tutur Kristian.

Mengapa desa?

“Yang menarik itu pilihannya, kenapa desa sebenernya? Kenapa tidak KKL profesi saja. Magang dimana dan lain sebagainya,” ujarnya dengan penuh antusias.

Pemilihan desa sebagai venue program KKL disesuaikan dengan nilai-nilai yang ditanamkan Unpar. Salah satunya,  “Preferential option for the poor”, bagaimana kita lebih berpihak kepada orang yang lebih membutuhkan.

Sumber foto: Dokumentasi kegiatan pengabdian Unpar

Kristian mencoba memaparkan perjalanan sejarah singkat pembangunan Indonesia yang mana sepanjang pemerintahan bumi pertiwi berdiri terdapat kesenjangan (gap) yang signifikan antara pembangunan desa dan kota. Karena situasi ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, desalah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Berangkat dari latar belakang itulah, munculnya gagasan mengapa mahasiswa dikirim ke desa untuk mengikuti program tersebut. Mahasiswa belajar memahami permasalahan apa yang tengah dihadapi masyarakat. Kebutuhan apa yang tengah diartikulasikan masyarakat. Bersama masyarakat, mahasiswa membantu merumuskan gagasan program dan kegiatan seperti apa yang bisa dikerjakan bersama masyarakat. Melalui partisipasi mahasiswa dalam program ini, mereka mencoba untuk hidup berdampingan dengan masyarakat setempat.

“Jadi prosesnya sebenernya, kalo kita bicara tadi, ‘Option for the poor’ dan satu lagi ‘How to empower to society’, memberdayakan masyarakat,” beliau menyimpulkan.

Mencapai “common goals”

Bidang ilmu administrasi publik berbicara bagaimana kita bisa bekerja sama di tengah masyarakat untuk mencapai common goals, tujuan bersama. Oleh karenanya, mahasiswa sebagai calon administrator di sektor publik seyogyanya memiliki pengalaman hidup di tengah masyarakat.

Kristian mengutarakan bahwa mahasiswa harus dibiasakan untuk membahasakan gagasan. “Artinya ketika ada permasalahan, dia bisa menganalisis, bisa mengurai, kemudian bisa juga merumuskan permasalahan, dan membahasakan gagasannya,” papar beliau yang mengajar di bidang manajemen publik,  “Artinya, mengomunikasikan kebijakan. Rumusan kebijakan.”

Komunikasi bersama masyarakat inilah yang diyakini sebagai inti proses selama kegiatan KKL. Bagaimana mahasiswa dapat meyakinkan masyarakat mengenai permasalahan yang tengah dihadapi. Mengajak masyarakat untuk terlibat dan mempunyai komitmen dalam pencarian dan penerapan solusi terhadap permasalahan tersebut.

Public engagement, itulah tujuan utamanya. Masyarakat dilibatkan langsung ke dalam program sehingga masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat tetapi bagian dari pelaksanaan sebuah program.

“Di situ ada proses, bagaimana mahasiswa berkolaborasi dengan masyarakat. Bekerja sama. Di situlah proses yang kita harapkan, membentuk mahasiswa. Calon administrator publik ini secara pengetahuan mereka punya, tapi secara skill juga terlatih,” Kristian menekankan.

Bekal bagi mahasiswa

Sumber foto: Dokumentasi kegiatan pengabdian Unpar

Persyaratan mahasiswa Unpar untuk mengikuti program KKL, minimal telah menempuh kurang lebih 75 sks. “Asumsinya memang 75 sks itu belum meliputi seluruh mata kuliah yang perlu ditempuh ya. Akan tetapi diasumsikan mahasiswa ini sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan di bidang ilmu administrasi,” jelas Kristian yang menyelesaikan studi S1 dan S2 di Unpar beberapa tahun silam.

Ada beberapa tahapan selama kegiatan KKL. Pertama, pembekalan. Mahasiswa dibekali sepanjang satu semester dengan 14 kali pertemuan perkuliahan. Pembekalan tersebut berupa ilmu mengenai teknik juga metode pengumpulan data, teknik analisis data. Kemudian, jenis data apa yang harus dikumpulkan. Setelah itu, mahasiswa menjalankan masa Ujian Tengah Semester (UTS) untuk kemudian terjun ke lapangan selama 40 hari, tinggal di tengah masyarakat. Dengan kata lain, sebagai bentuk tugas akhir, tahap Ujian Akhir Semester (UAS). Setiap tahunnya kegiatan KKL berlangsung pada Agustus jeda antara semester genap dan ganjil. Selama beberapa tahun terakhir, Garut menjadi lokasi tempat berlangsungnya KKL IAP.

Di awal program tersebut dilaksanakan, dilakukan pembukaan sebagai acara formal di tingkat kecamatan. Dalam hal ini, mahasiswa merancang dan mengelola acara secara mandiri. Selanjutnya ada proses observasi, adaptasi, dan pengumpulan data. Salah satunya penerapan metode “Participatory Rural Appraisal”, bagaimana pengumpulan data dan masalah di tingkat desa. Lalu, di level kelompok, mahasiswa belajar untuk merumuskan gagasan kegiatan pengabdian apa yang akan dikerjakan.

Terkait hal tersebut, Kristian mengatakan, “Harus hasil kolaborasi dengan masyarakat agar mereka terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat, hidup di tengah masyarakat.”

Kini, tidak dapat dipungkiri bahwa dunia kerja menuntut mahasiswa perguruan tinggi dan universitas untuk memiliki pengalaman program KKL selama di bangku kuliah.

Kepada Tim Publikasi, ia mengungkap hal yang menarik perhatian dari program KKL IAP. “Ini memang menarik. Banyak mahasiswa kami yang ketika melamar ke NGO. Bahkan melamar ke perusahaan-perusahaan (multinasional), ditanya ‘Pernah ga kerja di tengah masyarakat? Kamu bisa membuktikannya seperti apa?’.”

“Kami merasa di Administrasi Publik ini bahwa kami mencoba mengadaptasi situasi perkembangan tuntutan pekerjaan dengan situasi perkembangan pendidikan di lingkungan Administrasi Publik (Unpar),” ungkapnya yang ditemui pada Rabu (21/2).

Sumber foto: Dokumentasi kegiatan pengabdian Unpar