Home / Berita Terkini / KSMPMI, Kontribusi Mahasiswa Lewat Penelitian

KSMPMI, Kontribusi Mahasiswa Lewat Penelitian

Sebagai kaum terpelajar, tentunya mahasiswa harus berupaya untuk secara aktif memecahkan masalah yang ada di masyarakat. Untuk itu, sivitas akademika memiliki panduan berupa Tridharma Perguruan Tinggi. “Menurut saya Tridharma Perguruan Tinggi merupakan tanggung jawab dalam menjalankan kewajiban kita sebagai akademisi dan kaum intelektual,” ungkap Miftahul Choir, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) angkatan 2016. Ia bersama dua rekan penelitinya, Cheryl Pangestu (HI 2016) dan Farhan Helmi (HI 2015) baru saja mempresentasikan makalah akademis hasil penelitian mereka di konferensi akademisi bertaraf internasional dalam rangkaian acara International Conference of IR Unpar (ICON IR) 2018 yang diselenggarakan pada Jumat (5/10) lalu.

“Selama menjalani hidup sebagai mahasiswa kita harus melakukan pengajaran, pengabdian masyarakat dan juga penelitian. Misalnya dalam penelitian, kita dapat menerapkan teori-teori yang sudah dipelajari di kelas untuk memecahkan masalah-masalah dan secara tak langsung berkontribusi pada masyarakat,” jelas Miftahul, saat diwawancarai oleh Tim Publikasi berkaitan dengan motivasinya untuk melakukan penelitian yang diajukan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut.

Cheryl mengungkapkan, “Awalnya yang ngajakin sih Kak Miftahul dan Helmi ya. Kan kita satu di Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI). Itu organisasi internal yang mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian.”

Penelitian bukanlah sesuatu yang umum dilakukan oleh mahasiswa. Masih ada stigma bahwa penelitian hanya dilakukan oleh dosen. Namun, ketiga mahasiswa ini justru berupaya mendobrak stereotip tersebut. “Ya kita lebih milih penelitian karena memang kita kan anak HI (yang) lebih banyak melakukan penelitian, dan karena keterbatasan yang kita punya, kami mutusin buat memilih penelitian dibanding bentuk lain,” tambah Helmi.

Mereka bertiga memaparkan penelitian tentang bagaimana beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) merevitalisasi hubungan antara negara Indonesia dengan negara-negara Afrika. Pemaparan dilakukan di ajang bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh HI Unpar di Hotel Aryaduta, Bandung. Di sana mereka memaparkan hasil penelitian mereka di depan para akademisi yang sudah meraih gelar doktor, bahkan profesor. Adapun, Unpar menjadi salah satu universitas mitra pemerintah yang memfasilitasi (menjadi host) untuk program KNB tersebut.

Menolak jadi menara gading

Dr. Sukawarsini Djelantik, salah satu dosen dan partisipan dalam diskusi penelitian mengaku kagum dengan usaha mereka. “Jadi (mereka) bikin penelitian itu udah sesuatu yang hebat yah, apalagi ini sampai dipaparkan di forum internasional dimana akademisi yang hadir sudah merupakan tokoh yang dipandang di dunia akademik,” pujinya.

“Menurut saya jarang sekali ada mahasiswa yang mau meneliti dan tampil di forum internasional. Butuh keberanian dan ketekunan yang tinggi untuk melakukan hal itu,” tambahnya lagi.

Dr. Sukawarsini juga menambahkan bahwa mereka bertiga pantas menjadi role-model bagi mahasiswa dan mahasiswi lain. “Ada stigma bahwa Unpar itu hanya kampus elit dan sudah, titik saja. Harusnya mahasiswa Unpar yang jumlahnya ribuan paling enggak ada ratusanlah yang bikin penelitian.” Ia juga menyoroti beberapa alasan kenapa mahasiswa tidak terpanggil melakukan penelitian.

“Mungkin saja ini karena generasi, mahasiswa banyak yang maunya instan saja. Ini sangat berbeda dengan penelitian yang butuh ketekunan dan konsentrasi tingkat tinggi,” ujarnya. Peluang mahasiswa untuk berkarya dan berkontribusi pada pembangunan tentu terbuka lebar. Salah satunya adalah melalui PKM yang diselenggarakan di universitas. Ini tentu adalah kesempatan yang bisa dimanfaatkan mahasiswa sebaik mungkin.