Home / Alumni / Komunitas Akademik yang Kokoh dalam Spiritualitas
Komunitas Akademik yang Kokoh dalam Spiritualitas

Komunitas Akademik yang Kokoh dalam Spiritualitas

Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Tanah Air, Unpar teguh memegang nilai-nilai spiritualitas dalam mencetak lulusan yang berkualitas dan berdaya saing global. Seperti apa?

Intelektualitas tinggi tiada artinya tanpa memiliki hati nurani. Hal ini diyakini benar oleh Universitas Katolik Parahyangan, atau biasa disingkat Unpar, dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Didirikan pada masa pembangunan bangsa Indonesia di tahun 1955, perguruan tinggi dengan kampus utama yang berlokasi di bilangan Ciumbuleuit, Bandung, ini telah menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritualitas selalu relevan dalam menjawab tuntutan zaman.

Ditemui di kantornya, Rabu (20/4), Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D. juga menyebutkan tiga nilai dasar yang memiliki akar kuat di institusi ini, yakni cinta kasih terhadap kebenaran (caritas in veritate), hidup dalam keberagaman (bhinneka tunggal ika), serta kemanusiaan yang utuh (humanum). “Kecintaan terhadap kebenaran adalah hal yang fundamental bagi pendidikan tinggi. Unpar berupaya menggali dan mengembangkan kebenaran yang bersifat ilmiah sebagai bagian dari inti pendidikan kami,” ujarnya.

“Yang kedua, Unpar juga menegaskan perlunya rasa hormat terhadap keberagaman. Kebenaran tidak bersifat tunggal, setiap orang bisa benar dalam kebenaran itu. Dan yang ketiga, yaitu mewujudkan kemanusiaan yang utuh dengan segala peradabannya. Nilai-nilai tersebut terintegrasi tidak hanya dalam bentuk kurikulum, tetapi juga dalam proses pembelajaran yang berpusat kepada mahasiswa,” imbuh mangadar.

Saat ini, Unpar menjadi tuan rumah bagi sekitar 10.000 mahasiswa aktif yang terdistribusi ke dalam Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Filsafat, dan Sekolah Pascasarjana. Program Studi Arsitektur menjadi salah satu favorit bagi calon mahasiswa Unpar dengan rasio penerimaan hingga 1:10, diikuti dengan Program Studi Teknik Sipil, Akuntansi, dan Ilmu Hubungan Internasional.

Momentum MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang menggariskan standar tertentu untuk sejumlah profesi seperti insinyur, arsitek dan akuntan, diakui Mangadar menjadi tantangan bagi institusi pendidikan tinggi. “Seluruh program studi Unpar yang berkaitan dengan profesi-profesi tersebut sudah terakreditasi A. Kami cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa lulusan Unpar bisa bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi lain. Banyak lulusan Unpar dari Program Studi Arsitektur, Teknik Sipil, dan Akuntan yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang bermarkas di luar negeri. Ini bukti riil bahwa kami kompetitif,” ujarnya seraya tersenyum.

Unpar juga sejak lama menaruh perhatian penting terhadap kolaborasi internasional, seperti keterlibatan dalam Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU),  The Association of Christian Universities and Colleges in Asia (ACUCA), dan The International Network of Universities (INU). “Selain berupa konferensi, join degree, dan kerja sama yang sifatnya spesifik program studi, Unpar juga salah satu dari segelintir perguruan tinggi swasta yang dipercaya oleh Kemenristekdikti untuk menerima mahasiswa asing dalam program Kemitraan Negara Berkembang (KNB),” terang pria yang telah menjadi dosen di Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unpar sejak tahun 1989 ini.

Secara khusus, Mangadar menggaris bawahi bahwa kematangan pribadi lulusan tetap harus menjadi perhatian utama dalam sebuah institusi perguruan tinggi. “Pendidikan tinggi memang ditantang untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang siap kerja, namun yang terpenting adalah kepentingan dan kematangan individunya. Jika lulusan memiliki sikap berpikir yang baik, kepercayaan diri, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, maka mau bekerja di manapun akan mudah. Pendidikan di Unpar ditujukan untuk mempersiapkan generasi muda untuk menjadi insan-insan yang lebih dewasa dan matang menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

 

Sumber: Majalah SWA Edisi 09/2016