Home / Berita Terkini / Kelola Sampah Hijaukan Kampus Unpar

Kelola Sampah Hijaukan Kampus Unpar

Biro Umum dan Teknik Universitas Katolik Parahyangan (BUT Unpar) kembali membawa semangat menghijaukan kampus pada Jumat (14/2/2020). Kampanye Unpar Hijau kali ini diisi dengan berbagai aktivitas rutin seperti #UnparRecycle, #UnparCleanUp, dan #UnparTumblerDay. 

Pada kegiatan ini, diadakan pula #UnparTalkShow dengan mengangkat topik tentang pengelolaan sampah. Camat Kecamatan Cidadap, Bapak Drs. Hilda Hendrawan, sebagai narasumber dalam talkshow tersebut secara khusus memberikan penjelasan terkait program pemerintah Bandung terkait pengelolaan sampah.

Bapak Hilda memperkenalkan program pemerintah Bandung yang dikenal dengan nama “Kang Pisman”. Nama Kang Pisman sendiri merupakan akronim dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. Menceritakan urgensi atas pengelolaan sampah di Kota Kembang, Bapak Hilda menarik kembali kejadian di tahun 2005 ketika TPA Leuwigajah mengalami longsor akibat tidak sanggup menampung tumpukan sampah. Kesulitan dalam penyediaan TPA menjadi desakan bagi pemerintah Bandung saat ini.

Program Kang Pisman yang terdiri dari tiga upaya; kurangi, pisahkan, dan manfaatkan. Ketiga upaya tersebut dapat dimulai dari level paling kecil, yakni diawali dari rumah tangga masing-masing. “Satu hari produksi sampah di Kota Bandung itu sampai 1500 ton,” ungkap Bapak Hilda saat memaparkan data pemerintah Bandung.

Kurangi Produksi Sampah

Upaya mengurangi produksi sampah harus dimulai sejak awal dan sedini mungkin. Semakin cepat upaya itu dilakukan, semakin sedikit yang perlu diperbaiki di kemudian hari. Salah satunya bisa dimulai dengan menekan penggunaan barang-barang yang sulit didaur ulang. Sementara upaya untuk memisahkan sampah juga dapat dimulai dari sampah hasil rumah tangga. 

Pemerintah Bandung membagi sampah ke dalam tiga jenis yaitu; sampah sisa makanan; kertas, kaleng, dan botol plastik; serta jenis sampah yang tidak termasuk dalam keduanya. Upaya memisahkan sampah akan mempermudah usaha pemanfaatan. “Di Kota Bandung banyak seniman yang memanfaatkan dari sisa-sisa sampah untuk dijadikan barang-barang, seperti tikar atau eco-brick,” ujar Hilda.

Melalui talkshow dan penjelasan mengenai pengelolaan sampah, diharapkan mahasiswa maupun masyarakat di sekitar Unpar dapat terus mengupayakan berbagai cara untuk menjaga lingkungannya. Di akhir penyampaiannya, Bapak Hilda juga menyatakan bahwa tidak pernah ada kata ‘jatuh tempo’ untuk belajar. Selama masih hidup, kita harus terus belajar dalam menyikapi dan mengantisipasi permasalahan ini. (ALK/DAN)