Home / Berita Terkini / Kejar Pendidikan dari ‘Tanah Manusia’ ke ‘Kota Kembang’
pendidikan dan beasiswa

Kejar Pendidikan dari ‘Tanah Manusia’ ke ‘Kota Kembang’

Ombolata hari itu cerah seperti biasa. Namun, cerahnya cuaca Desa Ombolata di Nias Utara tidak secerah hati Frider. Orangtuanya memutuskan untuk tidak melanjutkan studi Frider, sapaan akrab Friderikus Hia, ke pendidikan tinggi. Sebagai kakak dari empat orang adik, ia dan sang abang harus memutuskan pendidikan di tahun ke-12 masa sekolahnya.

Sebutan ‘TanÖ Niha’ dari nenek moyang suku Nias mengandung arti ‘Tanah Manusia’. Kesuburan dan kegemburan tanah menjadikan Nias sebagai lahan yang baik untuk bercocok tanam dan beternak. Sebagian besar masyarakatnya, termasuk sang Ibu, merupakan petani tanaman industri dan rempah. Meskipun Ayahnya berprofesi sebagai Katekis Paroki, namun penghasilan kedua orangtua hanya mampu menghidupi keseharian.

Kala Ujian Nasional (UN) semakin mendekat, Ayah Frider mendapatkan informasi beasiswa Stichting Parahyangan Netherland (SPN) dari Belanda yang bekerja sama dengan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Sang Abang yang juga haus pendidikan sudah dua tahun menunggu kedatangannya.

“Siapapun yang menang harus disyukuri, kalian harus bersaing sehat,” ujar Ayah menasihati kedua anak sulungnya.

Peluang beasiswa akan diberikan kepada 16 calon mahasiswa, sedangkan pendaftar seleksi Ujian Saringan Masuk (USM) Unpar hampir 300 orang. Seleksi pertama hanya meloloskan 30 orang. Rasanya seperti berada di langit ke tujuh ketika Frider mengetahui bahwa ia masuk ke dalam senarai itu.

Tahap kedua psikotes meluluskan 16 orang. Tahap akhir wawancara memangkas setengahnya, menyisakan delapan orang. Frider pun resmi menjadi penerima beasiswa SPN sebagai mahasiswa baru Unpar.

“Saya begitu sedih dan tidak tega untuk melihat keadaannya (abang) yang sudah lama menunggu peluang masuk Unpar dan tidak tersampaikan,” tutur Frider.

Juli 2014, ia diberangkatkan menuju Kota Bandung oleh kedua orangtuanya. Sejak itu, ia bertekad untuk mencari penghasilan sendiri supaya tidak membebani keluarga.

Kota Bandung jauh berbeda dengan Ombolata yang jalanannya dikelilingi pohon-pohon tinggi dan sungai-sungai kecil. Budaya dan kebiasaan yang berbeda pun mewajibkan Frider untuk beradaptasi. “Kami diajari dan ditemani senior untuk mengenal Bandung, seperti mengucapkan ‘punten’ apabila berjalan di depan orang lain,” katanya sambil mengingat kedatangan perdananya di Kota Kembang.

Frider berteman dengan siapapun. Oleh karenanya, ia menyadari bahwa mahasiswa Unpar mampu tampil sebagai diri sendiri, mandiri, dan percaya diri. Hal itu pun menulari dan menyemangati dirinya.

Ilmu Administrasi Publik masih sangat asing bagi Frider. Buku-buku politik dan pemerintahan ia telan setiap hari. Ia menyadari, Ilmu Administrasi Publik sangat cocok baginya dengan harapan ia bisa berkontribusi positif bagi kinerja pemerintah di Nias kelak. Tahun pertama di Unpar tak disangka menaruh kesan manis, baik itu pertemanan pun perkuliahan. Frider yang tidak memilih-milih teman, memiliki jaringan luas sehingga teman-teman dekatnya pun mempercayakan dia sebagai calon Ketua Himpunan (Kahim) Ilmu Administrasi Publik.

“Saya mencalonkan diri menjadi Kahim dan akhirnya menang dengan menerapkan strategi politik yang dipelajari. Kuncinya dua, saya tidak memilih teman di Publik dan berusaha ‘tampil’ di kelas (pada sesi tanya-jawab). Di sinilah teman-teman mulai mengenal saya,” ungkap Frider.

Baginya, himpunan adalah wadah mempraktikkan teori-teori yang ia pelajari di kelas. Menjalankan sebuah himpunan pun bukan perkara mudah. Ia belajar berdiskusi, menyelesaikan masalah, memotivasi anggota, dan berkoordinasi dan bekerja sama dengan para dosen dan alumni. Tidak hanya aktif di Unpar, juga organisasi luar kampus.

Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Unpar menilai Frider sebagai mahasiswa yang aktif sehingga ia diberi kesempatan mengikuti beberapa kegiatan tingkat nasional mewakili Unpar. Salah satunya adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagai perwakilan dari kampus Unpar, ia dikukuhkan menjadi Youth Governance Ambassador bersama dengan beberapa perwakilan dari berbagai kampus ternama Indonesia. Ilmu dan pengetahuan yang didapatkan, ia terapkan di himpunan.

Menjadi seorang Kahim, duta, dan aktif di organisasi merupakan wujud rasa terima kasih Frider kepada Unpar dan SPN. Ia hanya bisa membalas dengan doa, prestasi, dan pengabdian kepada Nias.

“Unpar adalah laboratorium kesuksesan! Ribuan orang ingin masuk Unpar, ribuan juga ditolak. Satu mahasiswa unpar, mewakili ratusan calon mahasiswa yang ditolak. Kesempatan  belajar di Unpar sejajar dengan harga mimpi ratusan jiwa di luar sana,” tuturnya.