Home / Berita Terkini / Keadaban Baru

Keadaban Baru

Sepercik api kecil bisa membakar habis seluruh hutan. Suatu entitas mikroskopis ganjil (yang bukan organisme, bukan benda mati) ternyata berhasil meruntuhkan segala imajinasi kita tentang kemajuan peradaban. Covid-19 telah membenturkan kita kembali pada persoalan eksistensial dasar: soal makna kehidupan, di hadapan kematian, peran orang lain dalam hidup kita, tapi juga posisi kita sebagai spesies dalam seluruh semesta.

Virus ini sekaligus menyingkapkan kenyataan bahwa kecanggihan peradaban (sistem infra dan supra-struktur), meskipun telah dipacu oleh iptek, tetaplah tak identik dengan keluhuran keadaban (mindset dan sikap). Eksterioritas tak identik dengan interioritas. Yang terakhir inilah, barangkali, inti persoalannya. Dalam kerangka ini “keadaban baru” tentu lebih dari sekedar urusan cuci tangan, ambil jarak, atau memakai masker.

Manusia tak hanya hidup berdasarkan teknologi dan data, hidup dan perilakunya terutama dikelola berdasarkan makna. Kualitas keadaban ditentukan oleh bagaimana secara reflektif kita memaknai kehidupan; cara berpikir, cara bersikap, dan nilai-nilai apa yang diprioritaskan. Itu bisa dilandasi sains, agama, tradisi budaya, tapi terutama didasari pengalaman eksistensial-pribadi maupun kolektif. Memang kini respons praktis paling spontan menghadapi pandemi adalah kita berharap besar pada sains dan teknologi.

Sejak era Pencerahan (Aufklarung) hingga abad ke-21 ini iptek telah jadi magisterium (sumber fatwa) paling utama dalam dunia manusia. Sedemikian hingga makna hidup pun kini, disadari atau tidak, sangat ditentukan olehnya. Untuk kepentingan penyelesaian persoalan praktis, mengandalkan iptek tentu saja masuk akal.

Namun, jika menyangkut makna kehidupan yang lebih dalam, iptek justru bisa menimbulkan persoalan. Di dunia iptek yang serba data sentris, ada kecenderungan pengalaman tak secara intrinsik dianggap bernilai. Pengetahuan, imajinasi, intuisi, perasaan dilihat hanya sebagai proses-proses algoritmik biokimia produk evolusi belaka; hanya permainan hormon atau neurotransmiter macam serotonin, oxytocin, dopamin, acetylcholine, dan sebagainya yang mudah dimanipulasi. Semua hanyalah data kinerja otak yang bernilai matematis dan fungsional saja.

Dalam konteks budaya informasi dan komunikasi bahkan jadi lebih dangkal: makna hanyalah reaksi, bukan refleksi: reaksi biokimiawi kita atas respons khalayak terhadap kita (jumlah like, follower, subscriber, dan seterusnya). Makna muncul dari fakta bahwa kita mengunggah dan mengekspor pengalaman, bukan dari kenyataan bahwa kita punya pengalaman dengan dinamika yang sangat pribadi dan khas. Eksternalisasi menggantikan refleksi. Individu tak lagi menguasai sistem. Sistemlah yang menguasai individu.

Reflektivitas eksperiensial

Pada ranah reflektif lebih dalam sebenarnya tak sulit melihat berbagai kesenjangan serius antara perspektif ilmiah dan perspektif eksperiensial dalam kehidupan nyata. Mengetahui “bagaimana” cara kerja sesuatu tidaklah sama dengan memahami “apa”-nya. Mengetahui kinerja pemicu kimiawi di otak, misalnya, tetaplah tak menjelaskan apa artinye “bahagia” atau “menderita” pada level pengalaman nyata.

Orang yang secara biologis-genetis “sempurna” tak otomatis bahagia. Mengetahui bahwa otaklah yang menciptakan rasa kedirian tak berarti memahami apa yang sesungguhnya diri yang disebut “saya” beserta “pikiran” saya. Hormon oxytocin tak bekerja bila tak dipengaruhi pikiran, seperti pada perempuan yang ketakutan atau marah akibat diperkosa. Mampu “mengendalikan” kehidupan tak identik dengan “memahami” hakikatnya. “Pengetahuan” tak sama dengan “kearifan” (wisdom); dan apa yang “alamiah” tak otomatis berarti “baik”.

Dunia manusia adalah dunia yang diciptakan atau dibuat-buatnya sendiri. Jika akibat pandemi kini kita seakan terpaksa berkiprah melalui medan virtual, sebenarnya di sepanjang peradaban, kita sudah selalu berkiprah di dunia “virtual”, yakni dunia simbolik, dunia nilai, dan pola-naratif yang kita ciptakan sendiri. Bahkan yang diklaim sebagai “hukum alam” oleh dunia sains pun, seperti diingatkan Heissenberg sebenarnya adalah model matematis tertentu atau kinerja alam; cara manusia memahami perilaku alam.

Kualitas waktu, ruang, materi, atau energi adalah sesuatu yang diekstraksi dari medan kuantum oleh si observer. “Nature shows us what we want to see,” ujar Heissenberg. Kehidupan sendiri selalu lebih daripada yang sempat kita ketahui. Seorang pakar teori evolusi dan sejarah sains, Oren Harman, bahkan di pengujung petualangan ilmiahnya akhirnya mengatakan sains hanyalah salah satu cara manusia mengodifikasi pengalamannya; dan teori-teori yang kita ciptakan bukanlah hanya cerita tentang dunia sekeliling kita, melainkan juga berbagai cara manusia ingin memahami dirinya. “Ingin”, hasrat atau desire, itulah juga inti perkaranya.

Pandemi telah menyingkapkan kualitas keadaban kita yang ternyata masih sangat berbasis ketakutan, penyintasan brutal (survival of the fittest), saling menyalahkan dan curiga (teori konspirasi), kepicikan wawasan, dan “kelompokisme” serakah (berdasar agama, sains, ras, kepentingan politis, dan sebagainya). Hal-hal yang jelas hanya berujung pada kekerasan konyol, penyelesaian masalah yang tak efektif, bahkan mungkin penghancuran-diri. Tanpa perlu reflektivitas mendalam, dari ranah pengalaman mudah kita sadari bahwa itu bukan pola pikir dan sikap mental yang layak diinginkan.

Sebenarnya pada skala makro perkembangan dunia manusia telah menunjukkan juga isyarat keadaban yang lebih layak dihasratkan (desirable0; bahwa perlahan tapi pasti, ego semakin memberi tempat bagi segala pihak lain. Bagai tetes air di danau, lingkaran persaudaraan dan kerja sama semakin membesar; kemampuan empati, bela rasa dan solidaritas kian meluas: dari lingkaran marga, menjadi suku, menjadi desa, kota, bangsa, dan kini, dunia. Dari sisi ini pandemi barangkali bukan hanya bencana, melainkan justru peluang.

Bambang Sugiharto – Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan

Sumber: Kolom Opini, Kompas – Jumat, 7 Agustus 2020