Home / Berita Terkini / Kajian Gerakan Pembaruan Agraria Nasional

Kajian Gerakan Pembaruan Agraria Nasional

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HI Unpar) menggelar kuliah tamu bertajuk “Coming Together: Law and Politics in Movement for Agrarian Reform”. Acara diselenggarakan pada Jumat, (28/02/2020) di Mgr. Geise Lecture Theatre (Ruang Audio Visual) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar. Pada kesempatan ini, acara mengundang Dr. Surya Tjandra, S.H., LL.M., Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional, selaku pembicara. 

Dalam presentasinya, Surya menjelaskan mengenai prioritas negara dalam  proses pembaruan kualitas agraria nasional dan maraknya kasus mafia tanah di Indonesia. Beliau melihat bahwa penting untuk melibatkan elemen politik dan hukum dalam dialog pembaruan agraria. Politik dianggap bukan hanya penting dalam pembuatan kebijakan, melainkan sebagai kekuatan pendorong implementasi kebijakan tersebut. Di sisi lain, hukum berperan sebagai pengatur tata cara, langkah, dan pelindung dari proses pembaruan agraria.

Pada tahun 2019 terdapat 7.466 kasus dengan 1.337 yang terselesaikan, yang menunjukkan adanya 103% kenaikan dari target yang ada. Diketahui bahwa dalam sektor agrarian, kasus-kasus seperti sengketa, konflik, atau perkara secara statistik tidak begitu banyak. Walaupun demikian, besarnya dampak sosial dan ekonomi dari kasus-kasus tersebut membutuhkan perhatian politik.

Sebagai solusi, Surya menekankan bahwa penting adanya pendekatan kolaboratif, kolektif, dan melibatkan multi-stakeholder dalam dialog politik untuk mencapai pembaruan agraria dalam waktu yang singkat. Kolaborasi  yang dimaksud meliputi pihak media, pemerintah, yang meliputi Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementrian Pertanian, Kementrian Lingkungan dan Kehutanan; pemerintah regional, komunitas, ornop, akademis, dan sektor privat. Melalui dialog politik tersebut, seluruh pihak dapat berkolaborasi dalam pembentukan peraturan hukum dan kebijakan agraria, dan menerjemahkan keduanya ke dalam bahasa teknis yang dapat ditindaklanjuti.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kuliah tamu yang diselenggarakan oleh dosen-dosen mata kuliah Ornop (organisasi non-pemerintah), Ormas (organisasi masyarakat), dan Pemberdayaan Masyarakat Sipil. Rangkaian kuliah tamu turut mengundang penggiat dan aktivis lainnya, yakni Butet Manurung (Perintis Sokola Rimba), Melki (Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi), Ririn S. (Kemitraan), dan Akino (Peneliti RDI). Tujuan dari diadakannya kuliah tamu adalah agar mahasiswa dapat secara langsung menggali penggiat ornop dan aktivis di bidangnya masing-masing yang secara konkret dan konsisten bergerak di isu penguatan masyarakat sipil.

Diharapkan dengan diadakannya kuliah tamu, mahasiswa dapat memperluas pengetahuan dengan belajar dari berbagai penggiat ornop dan ormas dan terinspirasi untuk melakukan hal yang baik ke depannya. Melalui sharing pengalaman oleh penggiat ornop dan aktivis, mahasiswa bisa mendapatkan bayangan seperti apa pekerjaan yang digeluti dalam ornop dan ormas, tantangan yang dihadapi, dan proses dan kontribusi seperti apa yang  dilakukan oleh penggiat dan aktivis untuk menguatkan masyarakat sipil. (MGI/DAN – Publikasi)