Home / Alumni / KAHIJI, Rintis Cara Hijau Kelola Sampah

KAHIJI, Rintis Cara Hijau Kelola Sampah

Sampah telah menjadi masalah krusial dalam keseharian kita. Terlebih lagi, berbagai jenis sampah menjadikan sistem pengelolaan dan pengolahannya sebagai tantangan bagi masyarakat. Karenanya pengelolaan sampah yang inovatif juga ramah lingkungan menjadi semakin penting.

Hal inilah yang mendorong dua alumnus Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan (FTI Unpar) untuk merintis start-up Khazanah Hijau Indonesia (KAHIJI). Dimulai pada Agustus 2018, Joshua Valentino dan Ernest Layman menciptakan suatu usaha berbasis zero waste management yang mengusung konsep permakultur atau ramah lingkungan.

Berangkat dari pesan Wisuda dari Rektor Unpar untuk mengamalkan ilmu bagi almamater, Joshua dan Ernest ‘pulang’ ke Unpar yang kini tengah bertransformasi menuju Green Campus. Apalagi, menurut Joshua, Unpar merupakan kampus unggul yang menjadi contoh bagi institusi lain. Ernest menambahkan, kehadiran Kahiji di Unpar serta institusi pendidikan lain salah satunya adalah untuk, “Membiasakan orang-orang terdidik berperilaku dan mengolah sampah layaknya orang terdidik.”

Berbasis Permakultur

Dalam pengelolaan sampah, Kahiji menggunakan pendekatan permakultur, menyesuaikan dengan kondisi ekosistem alami. “Kita ingin berkolaborasi dengan ‘prinsip’-nya bumi,” jelas Ernest. Hal ini dapat dimulai dengan pengelolaan sistem pemilahan sampah serta pengolahan secara organik untuk mencapai zero waste management.

Di Unpar, Kahiji merintis pengelolaan sampah berbasis permakultur menggunakan biodigester. Bukan tanpa alasan biodigester dipilih untuk mengelola sampah organik. ”Prinsipnya simple, dan hasilnya jelas,” kata Joshua. Misalnya, hasil biodigester berupa biogas dan slurry dapat segera dimanfaatkan oleh komunitas Unpar.

Dalam merancang biodigester ini, keduanya mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dalam perkuliahan untuk meningkatkan desain biodigester. Inovasi seperti penggunaan mesin pencuci dan mesin pencacah sampah meringankan kerja operator biodigester. Hal ini, kata Ernest, dilakukan agar biodigester dapat dipergunakan secara optimal. ”Bagaimana kita implementasi agar applicable”, ungkapnya. Nantinya, biodigester akan ditempatkan secara strategis di Kampus Unpar untuk mengatasi permasalahan sampah organik dari ruang terbuka hijau dan kantin-kantin. “Ada dua, di FTI dan TPS Ekonomi,” ujar Joshua.

Penggunaan Teknologi

“Kita ingin Unpar menjadi pionir untuk gerakan ramah lingkungan, pola hidup hijau, green habit,” tegas Ernest. Oleh karenanya, kerja Kahiji saat ini masih jauh dari kata selesai. Kahiji berkeinginan untuk mengintegrasikan konsep Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan sampah, salah satunya lewat tempat sampah. Dengan adanya interkonektivitas ini, diharapkan baik jumlah dan jenis sampah dapat terevaluasi dengan baik.

Hal ini tidak lepas dari satu permasalahan penting, yaitu belum adanya hubungan yang optimal antara masyarakat Unpar dengan petugas. ”Itu problem yang nge-loop,” ujar Joshua, sembari menambahkan bila hal ini disebabkan oleh sistem monitoring yang kurang baik. Dengan aplikasi IoT, maka data sebaran sampah dapat terkoneksi, sehingga memudahkan institusi untuk melakukan perbaikan. “Ini juga jadi trigger untuk mahasiswa, ada awareness-nya,” tambah Ernest.

Mulai Dengan Tiga Hal

Berbicara tentang masyarakat, baik Joshua dan Ernest sepakat bahwa pengenalan pola hidup ramah lingkungan harus terus digiatkan, apalagi di dalam institusi pendidikan tinggi seperti Unpar. “Kita bisa memunculkan stimulus yang terus menerus dalam institusi,” jelas Joshua.. Caranya, lanjutnya, adalah melalui kampanye dan pemberian contoh gaya hidup hijau yang dilakukan secara terus menerus serta berkesinambungan. “‘Bawel’nya itu yang penting,” tambahnya.

Menanggapi hal ini, Ernest menegaskan ada tiga hal penting yang perlu dilakukan untuk mewujudkan gaya hidup tersebut, yaitu peningkatan infrasktruktur, memberikan benefit riil sebagai trigger bagi komunitas, baru dilanjutkan dengan pendekatan psikologis dengan menganalogikan pola hidup sehat sebagai sesuatu yang keren. Hal ini, menurutnya, sesuai dengan pola pikir dan perilaku generasi milenial saat ini. “Orang seringkali hanya berfokus pada yang ketiga,” tuturnya.

Melalui pendekatan permakultur serta budaya dengan memberikan benefit yang riil, Kahiji optimis dapat mewujudkan komunitas hijau, terlebih di Unpar. Budaya hijau ini tidak hanya diterapkan bagi komunitas yang saat ini ada, namun juga bagi anggota baru civitas academica Unpar. “Start from day one,” kata Ernest, “seorang siswa menjadi mahasiswa, sudah dimulai pola hidup yang baru.”

Dengan begitu, kampus tidak hanya menjadi pionir dalam sistem pengelolaan sampah, tapi juga pionir dalam menciptakan generasi zero-waste. ”Optimis Unpar bisa Zero Waste,” tegas Joshua, “bisa banget.”