Home / Alumni / Jurnal Predator, Masalah Digitalisasi, dan Transisi Peran Pustakawan: Rakernas Jaringan Perpustakaan APTIK

Jurnal Predator, Masalah Digitalisasi, dan Transisi Peran Pustakawan: Rakernas Jaringan Perpustakaan APTIK

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menjadi tuan rumah kegiatan Jaringan Perpustakaan APTIK-Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (JPA-APTIK) 2018, bertempat di Hotel California, Bandung (24/7).

Mengusung tema “Peran Pustakawan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, para pimpinan perpustakaan dan segenap tim terkait berupaya mendiskusikan permasalahan, serta berbagi solusi tentang bagaimana mengembangkan perpustakaan di universitas masing-masing terutama dalam konteks menyambut revolusi industri 4.0.

Para partisipan dalam pertemuan tersebut termasuk beberapa kepala perpustakaan dari universitas swasta katolik seperti Unika Atma Jaya Jakarta, Unika Soegijapranata Semarang hingga perguruan tinggi yang notabene masih baru seperti De La Salle College. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua JPA-APTIK serta turut pula hadir Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D.

“Revolusi industri 4.0 telah hadir dan mengubah pola pikir serta sistem kependidikan kita, maka dari itu perpustakaan harus turut berinovasi dalam menyesuaikan diri,” tutur Mangadar memberikan sambutan. Diwawancarai secara terpisah,  Dr. Budi Husodo Bisowarno selaku Wakil Rektor bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerja Sama yang membawahi Perpustakaan Unpar, mengatakan bahwa perpustakaan harus memfasilitasi beberapa perubahan yang mempengaruhi mahasiswa.

“Sekarang kita melihat bahwa jurusan itu tidak lagi menjadi absolut bagi karir. Anak (mahasiswa) teknik berbelok bekerja ke humaniora, anak HI (Hubungan Internasional) bisa tidak bekerja di diplomasi. Berpindah (bidang kajian) tidak selalu jelek, itu hanya salah satu (bentuk) perubahan zaman. Nah, perpustakaan perlu memfasilitasi hal ini. Kalau anak teknik ingin mengetahui hal-hal politik, ya bisa mengakses pengetahuan tersebut lewat perpustakaan kampus yang paling dekat,” ungkapnya.

Mengikuti tema yang diusung, pembahasan materi pun masih berkutat pada konteks digitalisasi dan tantangannya serta peran pustakawan di dalam lingkup pendidikan yang fokusnya bertransisi.

Vincensius Widya Iswara, Kepala Perpustakaan dari Universitas Widya Mandala (Surabaya) mengangkat pembahasan tentang pengelolaan jurnal dan juga masalah “Predator Journal” (jurnal abal-abal tanpa kredibilitas yang sering mengecoh para peneliti dan dosen yang ingin menerbitkan artikel ilmiah). Hal tersebut seringkali menjadi gangguan bagi keberadaan jurnal kredibel lainnya.

“Anda lihat saja di berbagai situs, predatory journal ini sudah tersebar banyak, salah satu indikatornya adalah mereka minta biaya terbit yang mahal serta proses penerimaan manuskrip yang cepat,” paparnya.

Selain itu, Anastasia Tri Susiati dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta memaparkan tentang transisi peran pustakawan di era kontemporer. Menurutnya, peran pustakawan tidak lagi sekadar manajemen koleksi dan mengatur peminajaman semata. Lebih dari peran yang terdahulu, pustakawan memiliki peran layanan informasi serta sumber daya inovatif. Peran riil perpustakaan juga akan selalu terlihat di dalam akreditasi universitas sebagai bentuk pengelolaan publikasi ilmiah dari komunitas akademik universitas.