Home / Berita Terkini / INVENT 2018: Anak Muda Turun Tangan

INVENT 2018: Anak Muda Turun Tangan

Pendekatan multidisipliner melalui aspek pembelajaran mahasiswa yang berorientasi pada pengalaman menjadi salah satu kunci penting terhadap pembangunan karakter yang dibutuhkan di dunia kerja. Bukan cuma itu, karakter tersebut juga diperlukan oleh mahasiswa untuk menjadi individu yang berwawasan dan peka terhadap lingkungan sekitar, regional, maupun global.

International Volunteering for Better Inclusivity (INVENT), sebuah konsorsium yang diinisiasi oleh tiga universitas, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Universitas Indonesia, dan Universitas Widya Mandala Surabaya telah berhasil mendapatkan hibah Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional yang diberikan oleh DIKTI untuk tahun 2018.

Konsorsium ini mengangkat program volunteering, yang salah satunya dalam lingkup community engagement serta berkeinginan untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dan mengembangkan aktivitas yang membangun karakter mahasiswa.

INVENT 2018 mengangkat tema “Peace and Justice” dengan menitikberatkan pada tema sosial dan peningkatan sumber daya masyarakat. Kegiatan short course tersebut diintegrasikan dengan kegiatan volunteering di Depok, Bandung, dan Jakarta pada 3-13 Juli 2018.

Program ini diikuti oleh diikuti oleh 25 mahasiswa. 12 mahasiswa Indonesia berasal dari tiga konsorsium nasional, sebanyak 13 mahasiswa merupakan mahasiswa asing yang berasal dari Universitas Malaya Malaysia, Indian Institute of Technology (IIT) Bombay India, Manipal Higher Education, Karnataka India, dan Chao Tung University Taiwan.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan idealisme dan semangat yang besar tentunya dapat mengambil peran kontributif dalam hal tersebut. INVENT memfasilitasi semangat mahasiswa lewat pembekalan berupa pengetahuan tentang menyusun kegiatan sosial, pemahaman budaya, dan hal-hal lain yang relevan.

Rangkaian kegiatan

Selama rangkaian kegiatan INVENT, para peserta mengikuti sesi kuliah dengan topik sosiologi, sociopreneurship, dan kuliah pembekalan sebagai kontekstualisasi program. Partisipan juga melakukan kegiatan volunteering di Kampung Adat Cirendeu, Jawa Barat dan melakukan penanaman pohon.

Selain itu, mahasiswa melakukan kegiatan  pengecatan rumah warga untuk menjadikan salah satu wilayah di Johar Baru, Jakarta sebagai Kampung Warna Warni. Selama aktivitas terjun ke masyarakat dan berinteraksi dengan warga, para peserta melakukan observasi terhadap kondisi masyarakat tersebut dan mengusulkan ide yang dapat membantu peningkatkan sumber daya masyarakat di kedua lokasi tersebut.

Adapun, kegiatan mini seminar sebagai salah satu rangkaian INVENT dihadiri oleh Walikota Jakarta Pusat dan Cimahi beserta pejabat dari Kementerian Sosial RI.

Di Kampus Unpar, peserta diberikan materi mengenai dasar-dasar kegiatan sociopreneurship dalam volunteering untuk mengembangkan masyarakat rural. Mereka juga dibekali pengetahuan akan kearifan dan kebudayaan lokal bagi para peserta untuk bersiap menuju Cimahi, mengikuti sesi live in.

Pada sesi pertama INVENT yang berlangsung di audio visual Mgr. Geise Theatre FISIP Unpar, Fiona Ekaristi (dosen Prodi Administrasi Bisnis Unpar) memberikan materi mengenai dasar-dasar kegiatan sociopreneurship dalam volunteering untuk mengembangkan masyarakat rural.

Fiona yang berpengalaman dalam kegiatan sociopreneurship berbagi cerita dalam mengembangkan sebuah desa melalui produksi kesenian wayang kulit yang menjadi usaha sampingan para penduduk ketika musim tanam padi telah lewat.

“Sociopreneurship sedang banyak digemari terutama di negara-negara barat dan memiliki banyak nilai lebih daripada sekedar membantu,” ungkap Fiona. Dalam sesi tersebut, dijelaskan juga pendekatan teoretikal serta beberapa kerangka berpikir untuk melaksanakan kegiatan sosial.

Shuresh, seorang peserta dari Universiti Malaya, Malaysia mengungkapkan, “Saya sangat tertarik dengan program ini, meskipun saya mempelajari teknik kimia tetapi saya juga sangat ingin ambil bagian di kegiatan-kegiatan sosial dimana saya dapat mengaplikasikan pengetahuan teknik kimia saya.” Menurutnya, kegiatan seperti ini sangatlah menarik untuk menjadi alternatif bagi mahasiswa dalam mengisi kegiatan non-kurikuler.

Live-in: Kampung Adat Cirendeu

Dalam rangkaian INVENT 2018, para peserta mengikuti live-in di Kampung Adat Cirendeu, Jawa Barat. Elivas Simatupang (dosen HI Unpar yang juga bekerja untuk Pemda) memberikan bekal  pengetahuan akan kearifan dan kebudayaan lokal bagi para peserta untuk bersiap menuju Cimahi, mengikuti sesi live in.

Elivas  juga membekali para peserta dengan sedikit pengetahuan dasar tentang istilah-istilah bahasa Sunda untuk berinteraksi dengan warga lokal.

Selama live-in, partisipan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dengan tugas masing-masing. Beberapa peserta mendalami kesenian daerah, sebagaian lainnya meneliti tentang kondisi pertanian. Ada pula yang memfokuskan diri untuk mengkaji dan mengumpulkan data tentang kegiatan ekonomi yang menunjang hidup masyarakat sekitar.

Diharapkan, kegiatan INVENT dapat membangun kepedulian mahasiswa terhadap keberadaan masyarakat marginal di wilayah urban dan pedesaan serta memberikan kontribusi melalui partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 17 Juli 2018)