Home / Berita Terkini / Imajinasi dalam Pembelajaran, Kunci Memahami Realitas

Imajinasi dalam Pembelajaran, Kunci Memahami Realitas

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat menghasilkan berbagai pemikiran dan pandangan yang dibakukan dalam bentuk teori, model, dan sebagainya. Di sisi lain, keberadaan teori mulai menimbulkan kotak-kotak dalam proses pembelajaran. Ada kalanya untuk mencapai pemahaman akan teori tertentu, fenomena yang nyata terjadi tidak lagi diindahkan, sebab yang penting adalah rasio.

Daya imajinasi merupakan salah satu kekuatan manusia dalam memahami alam dan fenomena di sekitarnya. Daya imajinasi memiliki kekuatan untuk melampaui rasio dan menciptakan hal-hal baru – inovasi.

Melibatkan imajinasi ke dalam proses pembelajaran akan membuka pengalaman belajar yang baru untuk para akademisi, baik tenaga pengajar maupun mahasiswa. Tidak hanya terpaut pada suatu pola berpikir yang ketat, tetapi juga membuka wawasan, meningkatkan kreativitas, dan memberikan pemahaman lebih baik terhadap realitas.

Tema “Imajinasi dan Kreativitas” dibahas dalam Diskusi dan Sharing Pembelajaran yang Inspiratif dan Inovatif pada Rabu (31/1). Diskusi yang diadakan oleh Pusat Inovasi Pembelajaran (PIP) mengundang Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC., S.Ag., S.TL., (dosen Fakultas Filsafat Unpar) dan diikuti oleh tenaga pengajar dan tenaga kependidikan dari berbagai program studi di Unpar.

Daya luar biasa

Tedjoworo yang akrab disapa Rama Tedjo, membahas kaitan antara fenomenologi dan proses pembelajaran. Sering kali, dalam proses pencarian kebenaran, hal-hal yang irasional dianggap tidak benar secara ilmiah. Kecenderungan intelektual ini terbawa hingga ke ranah pembelajaran dalam ruang kuliah. Padahal, manusia sejatinya memiliki daya imajinasi, hal sederhana yang digunakan seseorang untuk mengerti realitas di sekitarnya sejak dini.

Hal tersebut sejalan dengan fenomenologi, bahasan yang mementingkan fenomena, bukan subjek berpikirnya. Dalam fenomenologi, realitas amat berharga, sesuatu yang kini dijauhi oleh kalangan intelektual yang semakin mengandalkan pemikiran, teori dan model tanpa melihat kenyataan.

Di sisi lain, hermeneutika membuktikan kekuatan seseorang dalam memberi makna lewat pemikiran dan sudut pandang tertentu. Hal ini akan menimbulkan perbedaan penafsiran terhadap fenomena yang ada.

Imajinasi tidak sama dengan rasio. Meski demikian, keduanya memang memiliki keterkaitan, yang sering kali mengaburkan perbedaan di antara mereka. Proses mencari pengetahuan, misalnya, selalu membutuhkan penggambaran atau pembuatan suatu “imaji”. Contohnya melalui pemakaian variabel. Tanpa variabel, tidak akan muncul teori atau model dalam bidang ilmu, atau setidak-tidaknya akan sulit membangun pemahaman rasio.

Imajinasi dalam pembelajaran

Imajinasi sangat dibutuhkan di dalam proses akademis, termasuk di dalam lingkungan universitas. Proses seperti analogi atau pengandaian membutuhkan daya imajinasi untuk mencapai pemahaman tertentu.

Di dalam kegiatan perkuliahan, sering muncul pendapat dari mahasiswa yang memiliki pandangan tertentu terhadap suatu teori, yang pada awalnya akan terlihat tidak rasional. Menjadi tugas dan tantangan seorang dosen untuk membantu pembelajaran mahasiswa dengan mencari relevansi, menghubungkan fenomena dengan teori atau pemahaman.

Imajinasi membawa rasa baru ke dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang menghidangkan realitas akan menghadirkan pengalaman yang menarik bagi mahasiswa, bila dibandingkan dengan pembelajaran dengan rasio. Untuk memaksimalkan pengalaman dalam dunia nyata ini, imajinasi menjadi sangat dibutuhkan.

Hal serupa juga dibutuhkan saat seorang akademisi memasuki ranah interdisiplineritas, mengeksplorasi bidang ilmu lain. Penggunaan imajinasi membantu seseorang dalam memahami rasionalitas ilmu lain yang kadang berbeda dengan bidang ilmu yang ia kuasai.

Mengenai hal tersebut, Rama Tedjo mengingatkan kalangan akademik, khususnya para dosen untuk membuka diri bahwa kebenaran tidak harus dicapai lewat teori yang mereka kuasai, tetapi juga ada pendapat dan pandangan lain, termasuk mahasiswa.

Peran PIP

Semenjak awal dibentuk, PIP secara aktif mencari cara-cara baru dalam meningkatkan kualitas kegiatan perkuliahan, baik dari sisi metode dan cara belajar, tenaga pengajar, maupun dari sisi mahasiswa.

Melalui diskusi dan program lainnya yang diselenggarakan oleh PIP, diharapkan dapat meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran. Disamping inovasi yang terus dikembangkan, diskusi dan pelatihan pun senantiasa diberikan kepada para dosen. Hal ini karena disamping konten pengetahuan, keterampilan dalam pengajaran juga merupakan sesuatu yang harus selalu dilatih dan ditingkatkan.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 6 Februari 2018)