Home / Berita Terkini / ICBA 2018: Pembangunan Bangsa Melalui Social Entrepreneuship dan Bisnis Digital

ICBA 2018: Pembangunan Bangsa Melalui Social Entrepreneuship dan Bisnis Digital

Pertumbuhan ekonomi ternyata tidak selalu diimbangi dengan pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan. Bank Dunia pada acara Pertemuan Tahunan (Annual meeting) tahun 2016 memaparkan bahwa sejak tahun 2008 telah terjadi kecenderungan meningkatnya kesenjangan pendapatan secara global. Sementara itu sebuah laporan yang dikeluarkan oleh OECD pada tahun 2014 menyebutkan bahwa meningkatnya kesenjangan pendapatan akan menyebabkan menurunnya pendapatan perkapita secara signifikan. Oleh karenanya diperlukan sebuah terobosan dalam upaya untuk mencapai dua tujuan penting yaitu pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kesenjangan pendapatan dan salah satu pendekatan yang muncul adalah kewirausahaan sosial.

Kewirausahaan sosial biasanya berfokus pada masyarakat miskin baik pada wilayah perkotaan maupun pedesaan. Pada wilayah perkotaan, lingkup kewirausahaan sosial berada pada upaya peningkatan kesehatan (Leeuw: 1999), pengelolaan sampah (Wijayanti dan Syryani; 2015 dan Singhirunnusorn dkk: 2012), serta pemuda dan pendidikan (Jacobi: 2006). Sementara itu di wilayah pedesaan, kewirausahaan sosial telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan, memberdayakan komunitas, mampu mengembangkan rantai nilai (value-chain) pada sektor pertanian (Raikundalia, 2017; Ellis dkk, 2012; Tetzschner dan Herlau: 2003), mengembangkan sektor pariwisata (Cho: 2006 dan Zhao dkk: 2011), pengelolaan hutan (Shahidullah dan Haque: 2016), juga pengelolaan lingkungan pantai dan perikanan (Ruwindrijarto: 2002).

Dalam menjawab tantangan tersebut, Progam Studi Sarjana dan Pasca Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (IAB Unpar) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kota Cimahi menyelenggarakan International Conference of Business Administration tahun 2018 (ICBA 2018). Rangkaian acara telah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu dengan dibukanya pendaftaran pemapar makalah akademik. Acara dilaksanakan selama tiga hari pada 27-29 September 2018. Kegiatan utama yakni konferensi diselenggarakan pada 27 dan 28 September 2018 di Technopark Cimahi serta Hotel Holiday Inn, Pasteur, Bandung.

Tujuan dari konferensi internasional ini adalah untuk menghasilkan pengetahuan (knowledge) dalam model serta praktik dan pengalaman terbaik dalam mengembangkan kewirausahaan sosial yang mampu memanfaatkan informasi dan teknologi  untuk mengatasi masalah ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Dengan demikan dapat mendukung upaya pencapaian target-target Sustainable Development Goals (SDGs) baik di Indonesia maupun di kawasan ASEAN.

Di hari pertama, ICBA menghadirkan beberapa pembicara untuk membahas masalah ekonomi digital serta kewirausahaan sosial melalui berbagai perspektif (pentahelix) yang dikemas dalam diskusi panel yang dimoderatori oleh Dr. Maria Widyarini (dosen Unpar) dengan pembicara Aldi Surianingrat (water.org) dari sisi pelaku social entrepreneur, Eddi Danusaputro (CEO Mandiri Capital), dan Bapak Arief Setyahadi (Direktur UMKM BJB) dari sisi pemodalan/capital, Lukman Shalahuddin (Kepala BP2D Jabar) dari sisi pemerintah, Julien Hanoteau (Kedge Business School – Perancis) dari sisi akademik, dan Marvin Sulistio (Metro TV) dari sisi media.

World Café

Setelah pembukaan acara konferensi, secara simultan diselenggarakan juga kegiatan World Café bertempat di co-working space inkubasi bisnis Kota Cimahi. World Café merupakan salah satu kegiatan Grant Erasmus+ Uni Eropa yang diberikan kepada beberapa universitas dimana Unpar termasuk salah satu penerimanya. Tujuan dari kegiatan World Café adalah memfasilitasi para pelajar (mahasiswa) yang ingin merambah ke dunia socio-preneurship. Acara dipandu oleh Elivas Simatupang (Bappeda Cimahi) dan Fiona Ekaristi Putri (dosen Unpar), didampingi Ratih Indraswari (Kepala bagian kerja sama Kantor Internasional dan Kerjasama Unpar) dan Tutik Rachmawati (Ketua Program Studi Administrasi Publik Unpar). Pada acara ini dipaparkan mengenai konsep kewirausahaan sosial dan dilakukan simulasi menyusun model bisnis dikaitkan dengan konsep socio-preneurship untuk memecahkan masalah sosial oleh peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok kerja.

Adapun para peserta mahasiswa berasal dari perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Untuk mahasiswa luar negeri berasal dari program pertukaran pelajar Unpar serta mahasiswa magister dari luar negeri. Selain mahasiswa dan dosen pendamping, hadir pula perwakilan universitas yang menjadi mitra program INSPIRE+ yaitu perwakilan dari Universitas Udayana Bali, Universitas Sumetera Utara Medan, dan Universitas Andalas Padang.

Diskusi dan tur budaya

Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D. berkesempatan menjadi keynote speaker, memaparkan topik The Role of Social Entrepreneurship in Digital Era in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs). Selain ulasan akademis, Mangadar secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada seorang ASN Pemda Cimahi untuk melanjutkan pendidikan di Program Magister Unpar dan bantuan seperangkat alat musik angklung kepada Kampung Adat Cirendeu. Pada kesempatan ini pula Walikota Cimahi menyerahkan logo (brand) yang selanjutnya digunakan sebagai logo merek tempat (place branding) bagi berbagai produk Kampung Adat Cireundeu dan produk turunan Susu Sapi di Cipageran.

Hari kedua ICBA dilaksanakan di Holiday Inn, Bandung. Kali ini, acara diisi dengan diskusi panel yang dimoderatori oleh Tutik Rachmawati Ph.D. dengan menghadirkan pembicara Lukman Shalahuddin dari BP2D Jabar dan Dani Hamdani dari Sahabat Cipta. Usai diskusi panel, acara dilanjutkan dengan presentasi beberapa makalah ilmiah. Kegiatan hari kedua ditutup dengan pengumuman penulis makalah terbaik dan penghargaan lainnya. Sebagai penutup rangkaian acara, di hari ketiga para peserta diajak berkunjung untuk melihat best practice penerapan konsep kewirausahaan berbasis komunitas adat di Desa Adat Cirendeu Kota Cimahi dan mengunjungi pertunjukan Saung Udjo di Bandung.

“Saya berharap kerja sama antarakademisi, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat terus terjalin dan berjalan dengan baik demi tercapainya SDGs di Indonesia. Masih banyak potensi dan kebudayaan lokal yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan ke kancah internasional.”, ujar Dian Sadeli, S.E., M.Ak. selaku ketua pelaksana ICBA.