Home / Berita Terkini / ICBA 2018: Pembangunan Bangsa Melalui Social Entrepreneuship dan Bisnis Digital

ICBA 2018: Pembangunan Bangsa Melalui Social Entrepreneuship dan Bisnis Digital

Pertumbuhan ekonomi tidak selalu diimbangi dengan pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan. Bank Dunia pada acara Pertemuan Tahunan (Annual meeting) 2016 memaparkan bahwa sejak 2008 terjadi kecenderungan meningkatnya kesenjangan pendapatan secara global.

Sementara itu, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh OECD pada tahun 2014 menyebutkan bahwa meningkatnya kesenjangan pendapatan akan menyebabkan menurunnya pendapatan per kapita secara signifikan. Oleh karena itu diperlukan terobosan dalam upaya untuk mencapai dua tujuan penting, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kesenjangan pendapatan. Salah satu pendekatan yang muncul adalah kewirausahaan sosial.

Dalam menjawab tantangan tersebut, Program Studi Sarjana dan Pascasarjana Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (IAB Unpar) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kota Cimahi menyelenggarakan International Conference of Business Administration (ICBA) 2018. Rangkaian acara telah dimulai sejak beberapa bulan lalu dengan dibukanya pendaftaran pemapar makalah akademik.

Acara dilaksanakan selama 3 hari pada 27-29 September 2018, dengan kegiatan utama yakni konferensi yang diselenggarakan pada 27 dan 28 September 2018 di Technopark Cimahi serta Hotel Holiday Inn, Pasteur, Bandung.

Tujuan konferensi internasional ini adalah menghasilkan pengetahuan (knowledge) dalam model serta praktik dan pengalaman terbaik dalam mengembangkan kewirausahaan sosial yang mampu memanfaatkan informasi dan teknologi  untuk mengatasi masalah ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Dengan demikan, dapat mendukung upaya pencapaian target-target Sustainable Development Goals (SDGs), baik di Indonesia maupun kawasan ASEAN.

Pada hari pertama, ICBA menghadirkan beberapa pembicara untuk membahas masalah ekonomi digital serta kewirausahaan sosial melalui berbagai perspektif (pentahelix) yang dikemas dalam diskusi panel. Dimoderatori Dr Maria Widyarini (dosen Unpar), acara ini menghadirkan pembicara Aldi Surianingrat (water.org) dari sisi pelaku social entrepreneur; CEO Mandiri Capital Eddi Danusaputro, dan Direktur UMKM BJB Arief Setyahadi dari sisi pemodalan/capital; Kepala BP2D Jabar Lukman Shalahuddin dari sisi pemerintah; Julien Hanoteau (Kedge Business School – Perancis) dari sisi akademik; serta Marvin Sulistio (Metro TV) dari sisi media massa.

World Café

Setelah pembukaan konferensi, secara simultan diselenggarakan juga kegiatan World Café di co-working space inkubasi bisnis Kota Cimahi. World Café merupakan salah satu kegiatan Grant Erasmus+ Uni Eropa yang diberikan kepada beberapa universitas, yang mana Unpar termasuk salah satu penerimanya.

Tujuan World Café adalah memfasilitasi para pelajar (mahasiswa) yang ingin merambah dunia socio-preneurship. Acara dipandu oleh Elivas Simatupang (Bappeda Cimahi) dan Fiona Ekaristi Putri (dosen Unpar), didampingi kepala bagian kerja sama Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar Ratih Indraswari dan Ketua Program Studi Administrasi Publik Unpar Tutik Rachmawati. Pada acara ini dipaparkan mengenai konsep kewirausahaan sosial dan dilakukan simulasi menyusun model bisnis dikaitkan dengan konsep socio-preneurship untuk memecahkan masalah sosial oleh peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok kerja.

Adapun peserta mahasiswa berasal dari perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Mahasiswa luar negeri berasal dari program pertukaran pelajar Unpar serta mahasiswa magister dari luar negeri. Selain mahasiswa dan dosen pendamping, hadir pula perwakilan universitas yang menjadi mitra program INSPIRE+ yaitu perwakilan dari Universitas Udayana Bali, Universitas Sumetera Utara Medan, dan Universitas Andalas Padang.

Diskusi dan tur budaya

Rektor Unpar Mangadar Situmorang PhD yang berkesempatan menjadi keynote speaker, memaparkan topik “The Role of Social Entrepreneurship in Digital Era in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs)”.

Selain ulasan akademis, Mangadar secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada seorang ASN Pemda Cimahi untuk melanjutkan pendidikan di Program Magister Unpar dan bantuan seperangkat alat musik angklung kepada Kampung Adat Cireundeu. Pada kesempatan ini pula, Wali Kota Cimahi menyerahkan logo (brand) yang selanjutnya digunakan sebagai logo merek tempat (place branding) bagi berbagai produk Kampung Adat Cireundeu dan produk turunan susu sapi di Cipageran.

Hari kedua ICBA dilaksanakan di Hotel Holiday Inn, Bandung. Kali ini, acara diisi dengan diskusi panel yang dimoderatori oleh Tutik Rachmawati PhD dengan menghadirkan pembicara Lukman Shalahuddin dari BP2D Jabar dan Dani Hamdani dari Sahabat Cipta. Usai diskusi panel, acara dilanjutkan dengan presentasi beberapa makalah ilmiah.

Kegiatan hari kedua ditutup dengan pengumuman penulis makalah terbaik dan penghargaan lainnya. Sebagai penutup rangkaian acara, pada hari ketiga, para peserta diajak berkunjung untuk melihat best practice penerapan konsep kewirausahaan berbasis komunitas adat di Desa Adat Cirendeu Kota Cimahi dan mengunjungi pertunjukan Saung Angklung Udjo di Bandung.

“Saya berharap kerja sama antar-akademisi, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat terus terjalin dan berjalan dengan baik demi tercapainya SDGs di Indonesia. Masih banyak potensi dan kebudayaan lokal yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan ke kancah internasional,” ujar Ketua Pelaksana ICBA Dian Sadeli, SE MAk.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 16 Oktober 2018)