Home / Alumni / Hunger Bank: Langkah Kecil untuk Mengurangi Kelaparan
The Hunger Bank- Mengurangi Kelaparan

Hunger Bank: Langkah Kecil untuk Mengurangi Kelaparan

Salah satu isu global saat ini yang jadi perhatian banyak pihak adalah terkait kelaparan. Menurut data Global Hunger Index tahun 2015, Indonesia saat ini masih berada di level serius dengan poin 22.1 (posisi ke-47). Saat ini, masih banyak orang yang kelaparan, meski pada kenyataannya masih banyak makanan layak makan yang terbuang dengan sia-sia baik dalam skala rumahan atau pun dalam skala yang lebih besar. Beberapa faktor menjadi penyebab dari adanya hal ini, mulai dari kebiasaan masyarakat yang hanya ‘lapar mata’, rasa makanan yang dipesan tidak sesuai selera sehingga tidak dimakan, porsi makanan terlalu banyak, dan lainnya.

Melihat permasalahan tersebut, dibentuklah Hunger Bank (HB), sebuah organisasi non-pemerintah atau non-governmental organization (NGO) di Bandung yang menyadari fakta tersebut dan berusaha mengatasi permasalahan kelaparan. Organisasi yang didirikan oleh Imam Assovie dan Falencia Naoenz, alumni program studi Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2012, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) ini bergerak dalam hal pengurangan jumlah orang kelaparan dan sisa makanan layak makan disaat yang bersamaan. Memiliki misi untuk mendistribusikan kelebihan makanan layak-makan dari donatur yang kredibel untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Donatur HB berasal dari rumah tangga, restoran, warung, kafe, hingga hotel. HB telah mulai beroprasi sejak bulan Maret 2016 lalu. Organisasi ini berusaha untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di masyarakat dengan mengajak mereka yang memiliki makanan berlebih untuk menyumbangkannya kepada orang-orang miskin yang kesulitan mendapatkan makanan layak melalu gerakan Zero Waste.

Sistematika operasi Hunger Bank terbilang sederhana dan tidak rumit. Hunger Bank menjalin kerjasama dengan beberapa restoran yang memiliki kesamaan visi dengannya untuk berpartisipasi langsung dengan mendonasikan sisa-sisa makanan layak mereka pada hari itu. Hunger Bank akan memulai operasi nya ketika para donatur menghubungi pihak HB berkenaan dengan makanan mereka yang terbilang masih layak untuk dikonsumsi, kemudian pihak HB akan dengan segera melakukan teknik packaging yang rapi dan bersih. Setelah packaging selesai, maka tim HB akan langsung terjun ke lapangan untuk segera mendistribusikan makanan-makanan tersebut di titik-titik tunawisma yang sudah dilakukan survey sebelumnya oleh tim HB pula. Jadi, Hunger Bank tidak mengelola makanan baku menjadi makanan yang layak dikonsumsi, melainkan mengambil makanan yang sudah layak dikonsumsi, namun dikarenakan satu dan lain hal, makanan-makanan tersebut tidak habis, dan kemudian dilakukan packaging hingga distribusi kepada mereka yang membutuhkan.

Namun, kemudahan sistem diatas tidak serta merta menghilangkan hambatan. Imam mengungkapkan sejauh ini, Hunger Bank memiliki 3 kesulitan utama dalam perjalanannya. Pertama, belum adanya donatur dan sponsor tetap membuat proses distribusi makanan seringkali terhambat. Hal ini disebabkan belum tumbuhnya kepercayaan dan masih adanya pesimisme yang mereka miliki terkait apakah makanan yang mereka berikan benar-benar didistribuskan dari para pemilik restoran di wilayah Bandung. Kedua, Hunger Bank masih membutuhkan banyak relawan dalam bidang logistik, IT, Publikasi, dan Marketing. Ketiga, Hunger Bank masih kesulitan untuk mendapatkan target yang benar-benar membutuhkan makanan, bukan sekadar tergolong malas dalam mencari nafkah sehingga memutuskan untuk berkeliaran di jalanan saja.

Sejak diluncurkan sebulan yang lalu, Hunger Bank mendapatkan respon positif dari mereka yang mendapatkan makanan dari pihaknya. Raut wajah senang dan ucapan terima kasih berkali-kali mereka dapatkan saat pendistribusian makanan dilakukan. “Kami merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari perubahan kecil ini dan kami ingin sekali orang-orang lain melihat, betapa makanan yang mungkin tidak ada artinya untuk kita, ternyata menjadi sangat berarti di mata orang lain, yang mungkin belum makan seharian. Kami juga mendapatkan dukungan besar dari mahasiswa/i dan dosen Unpar yang bersedia membantu kami menjalankan ide ini”, ungkap Imam.

Dengan adanya organisasi yang mereka dirikan ini, Imam berharap bahwa di masa depan tidak ada lagi orang yang kelaparan dan mengais makanan di bak sampah. Ia juga berharap nantinya orang yang berkelebihan mau membantu orang yang berkekurangan. Masyarakat Indonesia yang lebih bijak dan menghargai pentingnya makanan diharapkan dapat tumbuh dari adanya aktifitas Hunger Bank yang mereka harapkan dapat menular dan tersebar ke daerah lainnya yang tentunya pasti memiliki permasalahan yang sama.