Home / Berita Terkini / “Gedur ing Kasucian Shinta”, Kisah Ramayana Berbalut Kebudayaan Sunda
Gedur ing Kasucian Shinta, Kisah Ramayana Berbalut Kebudayaan Sunda

“Gedur ing Kasucian Shinta”, Kisah Ramayana Berbalut Kebudayaan Sunda

Di tengah derasnya arus budaya modern, masih ada segelintir anak muda yang mencintai kebudayaan tradisional nusantara. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lingkungan Seni Tradisional (LISTRA) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menjadi salah satu wadah bagi mereka yang mencintai hal tersebut.

Sabtu (20/08) siang menjadi momen bersejarah bagi LISTRA, karena untuk pertama kalinya mereka menyelenggarakan pertunjukan tahunan, Wajah Nusantara 2016. Pertunjukan dibuat dengan format sendratari (seni, drama, dan tari), dimana sebelumnya hanya berbentuk pagelaran ragam tari tradisional nusantara saja. Bangku penonton Teater Tertutup Dago Tea House siang itu terisi penuh oleh mereka yang tak sabar melihat pagelaran tersebut. Tepat pukul 14.00 alunan musik gamelan mulai dimainkan dan tirai panggung terbuka bersama hiasan lampu panggung serta efek visual yang memanjakan mata. Mata penonton langsung tertuju pada panggung dimana Tari Merak menjadi suguhan pembuka pertunjukan tersebut.

“Gedur ing Kasucian Shinta” menjadi tajuk sendratari yang menyuguhkan kisah Ramayana dengan versi Sunda tersebut. Meski begitu, unsur kebudayaan lainnya seperti tari klasik Jawa dan pencak silat turut dilibatkan. Hafiz Janita yang berperan sebagai Rama, serta Vinita yang berperan sebagai Shinta berhasil memainkan lakon mereka dengan apik, dengan didukung pemain lainnya seperti Muhamad Fajar yang berperan sebagai Lesmana. Ketiganya mengaku tertantang dengan peran sentral yang harus mereka lakoni dalam pertunjukan tersebut.

Pagelaran berdurasi sekitar 90 menit tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan penonton. Sambutan hangat terlihat dari banyaknya penonton yang ingin berfoto dengan para pemeran tokoh dan penari. Adanya pagelaran tahunan ini diharapkan dapat menjadi wujud pelestarian kebudayaan tradisional nusantara serta mengingatkan para generasi masa kini atas akar budaya mereka.