Home / Berita Terkini / Filsafat Mempelajari Manusia: Seringkali Kita tidak Mengenal Diri Sendiri

Filsafat Mempelajari Manusia: Seringkali Kita tidak Mengenal Diri Sendiri

Bagi orang awam, Filsafat seringkali dianggap sebagai suatu ilmu yang tidak dipahami peruntukkannya. Padahal bila ditilik lebih lanjut, filsafat memberikan banyak hal positif bagi manusia. Sebagai ilmu yang mengarahkan cara berpikir dan menggali pemikiran serta konsep yang abstrak, Filsafat dapat menawarkan pemikiran kritis yang dapat dilanjutkan dengan eksperimen atau memberi pemaknaan baru bagi manusia dalam menyikap hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Menanggapi hal itu, dan menyadari bahwa adanya ketertarikan masyarakat awam dalam mendalami kelas filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) mengadakan rangkaian acara Extention Course on Culture & Religion (ECCR). Melalui analisis filsafati dan kajian mengenai budaya serta perspektif keagamaan manusia, FF Unpar berharap dapat memberi pemahaman dan pemaknaan baru pada para hadirin tentang manusia dan eksistensi kita di dunia.

Dua pertemuan pertama yang diselenggarakan pada 8 Oktober dan 15 Oktober lalu, memberi perspektif tentang konsep manusia dari kajian filsafati dan perspektif budaya Sunda. Dipimpin oleh Prof. Bambang Sugiharto dosen FF Unpar di pertemuan pertama, dan Ira Indrawardana dosen Antropologi Unpad di pertemuan kedua, pemateri berupaya menjelaskan konsep-konsep tertentu untuk melengkapi pengetahuan tentang apa itu “manusia”.

Prof.Bambang menggunakan konsep yang dituturkan oleh filsuf Jerman, Heidegger. Menurutnya manusia memiliki kesadaran yang lebih tinggi daripada makhluk lainnya. Dengan akal budi, kita menyadari bahwa kita “ada” dan hidup.

Ira Indrawardana yang membahas tentang manusia juga sempat mengutarakan beberapa nilai moral yang bisa dipetik oleh para hadirin. “Tuhan menciptakan manusia itu sejak awal berbeda, jadi kita sebagai manusia harusnya sadar bahwa kita hidup di dalam perbedaan. Karena itu, toleransi juga sudah seharusnya menjadi sikap alamiah kita. Kalaupun bukan, itu adalah tindakan yang paling tepat untuk menyikapi keadaan alamiah kita sebagai individu yang berbeda,” ujarnya saat menerangkan materi melalui perspektif Pasundan.

Uniknya, banyak hadirin yang hadir justru bukanlah mahasiswa dari FF Unpar. Beberapa peserta non-akademisi juga hadir. Suster Renata dari Ordo Santa Ursula (O.S.U) turut diundang. Ia merasa bahwa mempelajari budaya dan manusia adalah salah satu cara mengapresiasi dan memahami Tuhan. “Sangat menarik buat saya. Kita mempelajari manusia itu tidak cuma mengarang bebas belaka, tapi kita juga mempelajari dan memaknai kenapa Tuhan menciptakan kita di dunia ini secara kritis,” ia mengungkapkan. Menurutnya, filsafat tidaklah bertentangan dengan teologi, justru filsafat adalah salah satu jembatan awal yang dapat digunakan guna memahami ciptaan Tuhan nantinya lewat ilmu lain.

Beberapa minggu ke depan, ECCR akan membahas konsep “manusia” dari beberapa kebudayaan Nusantara. Dimulai dari kebudayaan Toraja dan Asmat di minggu mendatang. Tak luput, juga pembahasan dari perspektif agama Islam dan Hindu.