Home / Berita Terkini / Fenomena Mudik dalam Kacamata Teknik Transportasi

Fenomena Mudik dalam Kacamata Teknik Transportasi

Di Indonesia, libur Hari Raya identik dengan tradisi Mudik. ‘Mulih ke udik’ atau pulang ke kampung dilakukan dengan dasar keinginan untuk merayakan hari besar bersama keluarga. Migrasi sementara ini dilakukan menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari angkutan pribadi seperti mobil dan motor, hingga angkutan umum seperti bus, kereta api, kapal laut dan pesawat.

Menjelang Musim Mudik Lebaran tahun 2019 ini, Prof. Wimpy Santosa, dosen Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang juga membidangi teknik transportasi mengulas fenomena mudik beserta solusinya dilihat dari kacamata teknik transportasi lewat wawancara dengan Tim Publikasi pada Jumat (24/5) lalu.

Mengapa Kita Mudik?

Bagi Prof. Wimpy, untuk menjelaskan fenomena mudik perlu ditelisik mengapa orang berpindah dari daerah rural (pedesaan) ke urban (perkotaan). “Itu bukan sesuatu yang aneh,” jelasnya. Hal ini tidak lepas dari potensi ekonomi perkotaan yang jauh lebih besar dibanding pedesaan. Ditambah lagi, pekerjaan pada sektor pertanian semakin tidak diminati oleh generasi muda, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. “Di negara berkembang,” ujarnya, “kota menjadi lebih besar.”

Yang menjadi masalah kini adalah ketika terjadi kepadatan pada saat mudik. Hal ini pun dalam kacamata teknik transportasi merupakan sesuatu yang wajar. Kepadatan masa mudik yang ada di Indonesia juga terjadi di luar negeri, seperti di Tiongkok menjelang Tahun Baru Imlek.

Dari kacamata teknik transportasi, kepadatan mudik memiliki keterkaitan dengan perhitungan kapasitas jalan. Prof. Wimpy menyatakan bahwa desain prasarana seperti jalan tentu dirancang sesuai kebutuhan optimal. Hal ini pasti akan menyebabkan kepadatan di saat-saat tertentu, seperti saat musim mudik tiba.

“Pada prinsipnya,” jelasnya, “kalau kita mendesain, boleh macet, boleh berdesak-desakkan, tapi cepat terurai.” Tentu saja, desain prasarana yang baik adalah yang menomorsatukan keselamatan pengguna prasarana tersebut. “Yang tidak boleh ditawar-tawar itu keselamatan. Safety itu mutlak.”

Solusi Atasi Mudik

Salah satu keunikan dari teknik transportasi adalah tidak bisa dilepaskannya unsur manusia dalam kajiannya. “Fenomena transportasi terkait dengan manusia,” ungkap Prof. Wimpy, “dan manusia itu unik.” Perbedaan perilaku manusia dapat menyebabkan apa yang dibuat di satu daerah belum tentu berhasil di daerah lain. Akhirnya, tidak ada solusi transportasi yang tunggal.

Menanggapi hal tersebut, solusi yang ditawarkan oleh beliau dalam mengatasi mudik adalah optimalisasi transportasi umum, salah satunya dengan menggunakan subsidi. Ia berargumen bahwa subsidi yang digunakan pemerintah untuk mengurangi biaya tol bisa jadi lebih bermanfaat bila dialihkan untuk mengurangi harga tiket transportasi umum seperti bus.

“Biarkan masyarakat bayar tol yang mau naik mobil, tapi yang mau naik bus disubsidi,” contohnya. Tentunya, hal ini harus dibarengi dengan perbaikan sarana dan operator transportasi umum, yang sering kurang terampil. “Pemerintah secara perlahan-lahan (harus) memperbaiki sistem itu,” ujarnya. Kembali lagi, keselamatan tetap jadi faktor utama yang tidak bisa ditawar lagi.

Regulasi Transportasi

“Transportasi itu memberi kesempatan orang untuk meningkatkan kesejahteraannya,” kata Prof. Wimpy. “Kalau kesejahteraan meningkat, orang beli kendaraan bermotor.” Alhasil, lanjutnya, peningkatan ekonomi dan peningkatan kemampuan untuk membeli kendaraan pribadi akan meningkatkan kepadatan jalan, yang berakibat pada penurunan layanan kendaraan umum yang makin ditinggal oleh penumpangnya.

Untuk mengurangi kepadatan jalan sekaligus meningkatkan penggunaan transportasi publik, ia menegaskan pentingnya regulasi sebagai bagian dari ‘intervensi’ pemerintah. Pemerintah dapat mengatur bagaimana cara orang memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Misalnya dengan kebijakan wajib memiliki garasi, penggunaan sistem ganjil-genap, dan lain-lain. “Itu policy pemerintah, silahkan saja.”

Hal yang tak kalah penting adalah pembangunan infrastruktur jalan, khususnya jalan tol. Hal ini dikarenakan kecepatan perpindahan barang dan orang melalui jalan raya dinilai sangat lambat. Dengan pembangunan prasarana ini, kata Prof. Wimpy, “Nilai ekonominya tidak terbayang.” Pembiayaan melibatkan swasta bisa dipertimbangkan manakala anggaran pemerintah belum mencukupi kebutuhan. “Kita masih kekurangan prasarana jalan,” tegasnya. “Kita masih butuh itu.”

Menyelesaikan persoalan Mudik tentu butuh kerja sama dan kesadaran dari berbagai pihak, baik pengguna jalan, penyedia sarana transportasi, maupun pemerintah sebagai regulator. Dalam jangka panjang, regulasi yang tepat dan peningkatan sarana dapat mempermudah orang untuk menjalani tradisi mudik ini. Tetapi yang terpenting tentu saja adalah mengutamakan keselamatan baik saat menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.