Home / Berita Terkini / FAP 2019 Hadirkan Seminar Arsitektur Ramah-Anak

FAP 2019 Hadirkan Seminar Arsitektur Ramah-Anak

Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (HMPSArs Unpar) kembali menggelar Festival Arsitektur Parahyangan (FAP) pada Jumat dan Sabtu 17-18 Mei 2019. FAP merupakan acara rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya dengan salah satu rangkaian acara dari FAP 2019 adalah dengan diselenggarakannya Seminar Arsitektur.

Pada Jumat (17/5), bertempatkan di Audio-Visual PPAG, seminar mengangkat tema Architecture for Children: Design that Shapes Children’s Growth. Seminar di moderatori oleh Caecilia Srikanti Wijayaputri, S.T., M.T, serta adapun beberapa narasumber dari seminar ini adalah Febri Ardi Antonius (Founder Arkana Architects) dan Rafael David (Owner, Co-Principle dari Aboday Architects).

Masa pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan masa yang sangat penting bagi anak-anak, karena mereka bisa bereksplorasi secara audial, visual, dan motorik. Maka dari itu dibutuhkan juga sarana yang tepat untuk merangsang pertumbuhan anak, salah satunya dari ruang tempat mereka beraktivitas yang bisa membantu pola mereka untuk belajar serta bermain.

Pembicara pertama dalam seminar ini adalah Febri Antonius, alumni dari Prodi Arsitektur Unpar tahun 2005 dan juga merupakan founder dari Arkana Architects. Karena FPA 2019 mengusung tema Public Space for Children, maka salah satu project yang diangkat dan dijadikan sebagai bahan bahasan oleh FPA adalah Olifant School, salah satu proyek yang juga ditangani oleh Febri.

Febri menuturkan bahwa mendesain sebuah sekolah sangatlah sulit. Dalam proyeknya ini, ia memerlukan waktu satu tahun untuk mendesain bangunannya. Febri menjelaskan bahwa sebelum masuk ke dalam sebuah proyek yang akan dibuat, maka seorang arsitek haruslah tahu apa cerita dibalik proyek tersebut, karena setiap bangunan memiliki ceritanya masing-masing dan memiliki culture atau budayanya sendiri yang harus diadaptasi.

Dalam mengerjakan proyek ini Febri mengaku dirinya dan tim menemukan banyak sekali tantangan, karena tidaklah mudah untuk mendesain sebuah sekolah khususnya bagi anak-anak. Hal yang membuat Olifant School menjadi unik adalah karena sistem belajarnya yang berbeda dari sekolah-sekolah lainnya, yang mana sistem belajarnya menggunakan sistem moving class. Hal tersebutlah yang juga menjadi tantangan tersendiri bagi Febri dan tim untuk mendesain sekolah tersebut.

Satu hal yang sangat ditekankan oleh Febri adalah seorang arsitek haruslah dapat mengakomodasi serta mewadahi behavior atau perilaku dan budaya dari seorang client, bukan untuk membuat behavior yang baru. Maka dari itu, dalam proyek Olifant School ini Febri mencoba untuk mencerminkan budaya dari Olifant School itu sendiri di dalam desain bangunannya, yaitu seperti safety, security, children creativity, leadership, confident, serta tidak lupa memasukan budaya lokal.

Visinya bagi Olifant School adalah sebuah “Building as the Second Teacher”. Karena menurutnya sekolah merupakan hal yang penting bukan saja sebagai tempat belajar bagi anak-anak, namun juga sebagai tempat untuk bermain dan berinteraksi dengan murid-murid lainnya, guru, serta masyarakat. Salah satu hal terpenting saat membuat suatu bangunan bagi anak-anak adalah dalam aspek security dan safety.

Karena melihat permasalahan ini, Febri mendesain Olifant School dengan mengaplikasikan double gate system, membuat railing-railing yang rendah agar mudah untuk digapai anak-anak, mengaplikasikan ram sebagai pengganti tangga, serta membuat minimal dua buah escape plan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Menurutnya bangunan bagi anak-anak tentu saja harus mengedepankan unsur fun-nya, namun saat mendesain, safety tetaplah menjadi nomor satu.

Hal lainnya yang ia terapkan adalah membuat sebuah learning environment dengan mengutamakan dua buah hal. Hal pertama adalah individualism of space, yang terdiri dari flexibility dan connection. Karena Olifant School menerapkan sistem moving class, maka hal tersebut harus diakomodir dari segi desain ruangan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Hal kedua adalah dengan adanya bioclimatic approach, yang mana bangunan yang dibuat sebisa mungkin meminimalisir penggunaan AC dan lampu, sehingga lebih menggunakan cahaya matahari dan udara luar.

Mendesain sebuah bangunan sekolah tidaklah mudah, khususnya bagi bangunan untuk anak-anak. Banyak hal yang harus diperhatikan, riset yang panjang, serta harus mengutamakan keamanan, keselamatan, dan juga kenyamanan. Dengan adanya seminar ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan akan desain arsitektur dan juga menumbuhkan rasa cinta terhadap pertumbuhan anak-anak saat ini.