Home / Berita Terkini / “Emergency Call” di Ulang Tahun Unpar

“Emergency Call” di Ulang Tahun Unpar

Ulang tahun menjadi salah satu momen spesial yang ditunggu-tunggu. Tak terkecuali bagi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang pada 17 Januari lalu, genap berusia 63 tahun. Begitupun bagi pegawai Unpar. Setiap tahunnya, Dies Kekeluargaan sebagai salah satu rangkaian acara perayaan Dies Natalis Unpar menjadi momen istimewa sekaligus silaturahmi antarpegawai.

Sandra Romcahyana dan Feisal Hamzah, keduanya sepakat bahwa momen Dies Kekeluargaan adalah acara yang ditunggu-tunggu. Ditemui Tim Publikasi pada Kamis (25/1), Sandra dan Feisal berbagi cerita mengenai karir mereka di Unpar dan kisah “Emergency Call” di momen ulang tahun Unpar kali ini.

“Setiap Dies (khususnya acara kekeluargaan). Pasti ditunggu. (Pembagian) doorprize apalagi,” ungkap keduanya tertawa. Bagi Sandra, partisipasi karyawan Unpar di acara dies sangat penting.

“Sayang kalo Unpar udah ngadain acara. Terus kita ga ikut. Apalagi bener-bener kita bisa. Ga usah kecewa ga dapet hadiah. Walaupun pasti semuanya berharap,” katanya antusias.

Keduanya merupakan pegawai Unpar yang bekerja di unit Biro Teknologi Informasi (BTI). Sandra di bagian Perangkat Teknologi Informasi (PTI) sedangkan Feisal di bagian Pusat Data dan Infrastruktur (PDI).

Mengawali karir

Baik Sandra dan Feisal, keduanya mengawali karir di Unpar sebagai teknisi. Saat ini, Sandra berfokus untuk bidang service, komputer, jaringan, printer, juga alat-alat hardware. Ia pun masih berkutat perihal software dan lisensi yang disediakan bagi karyawan Unpar. Sedangkan Feisal, ia mengalami sedikit perubahan haluan. Sebelumnya, ia banyak menghabiskan waktu di lapangan. Sekarang, sebagian pekerjaannya dilakukan di ruangan. Seperti terkait urusan pengaturan konfigurasi network, server, Voip, dan lainnya. Terkadang, ia juga membantu rekannya mengerjakan bagian hardware.

Sebelumnya, pada 2010, Sandra bekerja di Koperasi Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Unpar. Di akhir tahun yang sama, Sandra menjadi ‘pasukan oranye’ Unpar sebagai harian lepas. Kemudian, di tahun 2014, ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi karyawan Unpar.

“Ada kesempatan untuk masuk (menjadi) karyawan Unpar (tahun) 2014. Sempet jadi kernet bis Unpar juga,” kata Sandra yang pada saat itu bekerja di Biro Sarana dan Prasarana (BSP). Di tahun 2017, ia pindah ke unit BTI.

Lain halnya dengan Sandra, pada 2012 silam, Feisal mulai berkarir di Unpar sebagai teknisi. “Berarti udah 5 tahun 7 bulan. Awalnya di Teknisi. Terus taun kemaren (2017) diangkat jadi golongan II, jadi staf (Unpar),” ungkap pria yang berdomisili di Katapang, Soreang.

Keduanya senang berkarir di Unpar. Ikatan kekeluargaan antarpegawai yang erat. Kondisi lingkungan yang nyaman, membuat keduanya betah berkarir di salah satu universitas swasta tertua di Jawa Barat yang berdiri sejak 1955.

Sandra yang saat ini tinggal di Limbangan, Garut, mengungkapkan, “Kalau menurut saya, enak kerja di Unpar. Lebih nyaman. Dari kekeluargaan, temen. Terus, pekerjaannya juga benar-benar sesuai dengan harapan.”

Feisal mengungkapkan hal serupa.“Sama, betah. Nyaman. Lingkungan di BTI juga nyaman, kita kekeluargaannya deket banget. Sama lingkungan Unpar juga.”

Semakin kreatif

Perayaan Dies Natalis Unpar tahun ini semakin meriah dengan beragam perlombaan yang digelar bagi pegawai Unpar. Dari mulai lomba fun ping pong, fun walk, fun futsal, video jingle Unpar, hingga video kreatif. Sandra dan Feisal, keduanya turut serta mengikuti perlombaan tersebut. Bahkan seluruh perlombaan mereka ikuti.

Kemenangan keduanya di perlombaan video kreatif menjadi hal yang tidak disangka-sangka. Berawal dari keberanian dan keinginan mendorong diri untuk menjadi semakin kreatif, keduanya semangat untuk membuat sebuah video singkat mengenai aktivitas keseharian profesi mereka di BTI, dengan judul “Emergency Call.”

“Kita kepepet kerja. Jadi tiap bikin video teh jam empat ke atas, sampai Maghrib. Wah, kitanya udah lelah, udah cape. Apalagi ini (scene-nya) lari-lari terus,” kenang Feisal menahan tawa. Keduanya tetap enjoy dan semangat selama pembuatan video tersebut.

“Dan, ketika kita liat syaratnya harus kreatif dan originalitas. Kita berani. Kita ambil. Kita tunjukin Unpar ada dimana aja. Gedung-gedungnya gimana,” tambahnya antusias.

Anime Jepang Dragon Ball menjadi inspirasi bagi keduanya untuk membuat konsep video. Sandra menjelaskan, ia dan rekannya mencoba menuangkan konsep tersebut ke dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari, yang salah satunya tentang jaringan Unpar.

“Ide awalnya, dari Dragon Ball. Kalo misalnya dragon ball sudah selesai ending-nya, pasti dia lari-lari ganti background. Asalnya mau kayak gitu. Kita cuma mau ganti background aja. Larinya di tempat,” kata Feisal menjelaskan konsep tersebut. Pada akhirnya, keduanya menggabungkan ide Dragon Ball dan game ‘Pepsi Man’ dalam video yang berdurasi kurang lebih 5 menit.

Tentang penghargaan Juara 1 lomba video kreatif, keduanya sangat senang. Tidak menyangka. “Tapi tetep semangat,” tutur Feisal. Poin pentingnya, ia menambahkan, “Adalah keinginan kita untuk berpartisipasi (di acara) Unpar.”

“Tujuannya (bukan) hadiah. Tapi, partisipasinya,” ungkap Sandra. Kemenangan itu bonus, tambahnya sumringah.

Melepas lelah

Ketika ditanya mengenai kegiatan di luar kantor, baik Sandra dan Feisal menjawab hal serupa, “Ada banyak kegiatan di luar kantor.”

“Sekarang-sekarang lagi seneng baca buku, novel dan lain-lain. Sebelumnya maen game,” kata Feisal tersenyum. Ia juga menghabiskan waktu luangnya untuk berolahraga seperti lari, bersepeda, juga main futsal. Tidak hanya itu, ketertarikannya di bidang foto dan videografi, membuatnya mengisi waktu luang sebagai fotografer di sejumlah acara teman-temannya.

“Nyuci (juga) yang pasti,” tambahnya penuh tawa.

Sedangkan Sandra, ia menghabiskan waktu liburnya bersama keluarga di rumah. Ia yang saat ini tinggal di Limbangan, Garut, memiliki tantangan tersendiri untuk membagi waktu kerjanya di Unpar. Jarak antara Bandung dan Garut tidak menyurutkan semangatnya untuk segera bertemu dengan istri dan sang anak di rumah.

“Pokoknya kalo pas libur itu, bener-bener sama keluarga. Sama anak. Pas banget di depan rumah saya itu, sawah. Ada saung-saung gitu. Pokoknya nyaman banget. Udah nyaman di Garut,” kata Sandra.

“Kalo pas kebeneran jadwalnya dapet, ikut futsal di Unpar. Biar ga jenuh. Nge-gym juga. Enjoy aja,” tambahnya penuh semangat.

Go! Great Unpar

Pencapaian atas status akreditasi A yang Unpar peroleh akhir tahun 2017 lalu, menjadi momen spesial bagi Unpar. Terkait hal itu, Sandra menekankan pentingnya untuk mempertahankan prestasi tersebut. “Harapannya (untuk) Great Unpar, pokoknya pas kemaren kan Unpar sudah dapet akreditasi A. Nah, yang paling susah itu mempertahankannya,” ujarnya.

Pegawai harus tetap didorong dan diapresiasi untuk bekerja secara maksimal. Berkarya bersama-sama untuk Unpar. Terutama, tambahnya, “Yang paling utama ke mahasiswa. Karena tidak bisa dipungkiri. Kita hidup dari mahasiswa”. Unpar diharapkan bisa semakin memberikan pelayanan yang baik.

Bagi Feisal, ketika mendengar kata ‘Great Unpar’, “Pasti Unpar itu yang terbaik di dalam benak saya. Kakek saya pensiunan sini. Bapak saya kuliah di Unpar, tapi ngga sampai beres. Saudarapun ikut jadi teknisi (di sini),” ungkapnya kemudian semangat berkata ‘Great Unpar’.

Ia mengatakan, saat ini keduanya fokus berkarya di BTI. “Tujuan kita (bekerja) untuk unit. Tetapi, meninggikan nama Unpar di luar,” tuturnya menutup wawancara.