Home / Berita Terkini / ECF Fakultas Filsafat: Melihat Masa Depan Lewat Ilmu Astrologi

ECF Fakultas Filsafat: Melihat Masa Depan Lewat Ilmu Astrologi

Sebagai manusia, tentu kita memiliki keinginan untuk mengetahui masa depan agar langkah yang kita ambil tepat dalam mewujudkan kehidupan yang sejahtera. Salah satu cara yang dikenal sejak zaman purba adalah dengan mengamati bintang-bintang dalam kajian ilmu astrologi. Sebagai bagian dari extended course yang membahas tentang filsafat India dan Tiongkok, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) menghadirkan Ivan Taniputera untuk membahas astrologi Tiongkok. Beliau adalah penulis buku “History of China” dan juga “Dasar Astrologi Tiongkok”. Acara yang diadakan pada Jumat (27/10), dihadiri oleh penstudi filsafat, mahasiswa, hingga kalangan umum.

Ivan menceritakan tentang bagaimana filsafat berhubungan dengan pencarian jati diri manusia serta upaya-upaya kita untuk meraih kehidupan yang lebih baik. “Sama seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, nenek moyang kita mengerti bahwa ada hubungan antara posisi bintang dengan kehidupan di dunia ini,” ujarnya. Ivan yang sudah mendalami kebudayaan Tionghoa terutama di bidang sejarah dan astrologi pun menarik kesimpulan bahwa meskipun tidak dapat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan murni, Astrologi dapat menjadi panduan tersendiri untuk memahami kehidupan.

Namun sebagai pengkaji, Ivan tidak menjadikan astrologi sebagai sebuah kebenaran pasti. “Jadi begini, ada kebenaran yang memang bisa ditarik dari astrologi karena bintang-bintang membawa pengaruh baik fisik (seperti bulan memengaruhi naik-turunnya permukaan laut, maka bulan juga dipercaya memengaruhi emosi dan fisik manusia) tetapi tidak bisa kita anggap sains, sains kontemporer belum mampu menjelaskannya, atau memang itu adalah hal kosmik yang tidak bisa dijelaskan dengan kajian ilmiah,” terangnya.

Beberapa contoh yang ia berikan adalah bagaimana di dalam sejarah, justru yang sering menggunakan ramalan adalah para pemerintah dan politisi. “Ramalan itu justru bukan digunakan oleh orang kalangan bohemia (kelas bawah) namun lebih sering dipakai oleh pemerintah, kaisar dan bangsawan untuk meramal keberlangsungan karir mereka di panggung politik,” jelasnya.

Namun astrologi, meskipun dilabel sebagai pseudo-science tetap bersinggungan dengan kajian-kajian metafisika. “Ada satu studi di Tiongkok yang mendalami astrologi dan mengembangkan metode astrologi papan besi. Mereka menggunakan ukuran dan perhitungan rasi bintang untuk menemukan jodoh secara akurat dengan rumus-rumus yang katanya dipinjam dari kajian metafisika dan fisika kuantum,” tutur Ivan. Ia juga mendapati sejumlah testimoni dari beberapa koleganya yang mencoba mencari jodoh dengan metode tersebut dan merasa bahwa manfaatnya sangat manjur. “Mungkin pada akhirnya astrologi dapat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti,” pungkasnya.