Home / Berita Terkini / ECF 2019 Gali Akar Filsafat Pancasila Dalam Keseharian

ECF 2019 Gali Akar Filsafat Pancasila Dalam Keseharian

Pancasila tentu kita kenal sebagai dasar negara, ideologi resmi Indonesia. Biasanya Pancasila dikaitkan dengan peran legalnya sebagai salah satu dasar hukum negara Indonesia. Namun, Pancasila perlu pula untuk hadir nyata dalam keseharian kita. Termasuk dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal ini tentu mendapat tantangan, baik diakibatkan oleh perkembangan zaman maupun dari pihak-pihak yang tidak puas akan keberadaannya sebagai sebuah ideologi kebangsaan.

Eksistensi dan Relevansi Pancasila di tengah masyarakat Indonesia yang kekinian melatarbelakangi tema Extension Course Filsafat (ECF) 2019: “Pancasila Sebagai Kekuatan Pembebas.” ECF 2019 yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) ini terdiri atas sepuluh pertemuan, dimulai pada bulan September hingga akhir November 2019. ECF tidak hanya menarik minat akademisi filsafat semata, melainkan juga masyarakat umum yang sekedar ingin ‘mencicipi’ forum diskusi filosofis di Unpar.

Post-Truth

Berbagai isu mengenai Pancasila digali dan didiskusikan dalam ECF tahun ini. Salah satunya ialah kedudukan dan peran Pancasila, sebagai laiknya ideologi-ideologi di dunia, yang kini tengah melaju menuju era pasca kebenaran atau Post-Truth. Hilangnya standar objektifitas akan fakta dan pemikiran-pemikiran lain yang berbasis tanpa maupun sebagian fakta dalam masyarakat membawa tantangan bagi Pancasila yang menjadi pilar hidup masyarakat. Isu ini dibahas dalam pertemuan kedua ECF yang dibawakan oleh Nuraeni, M.Hum. dari Unpad.

Lewat paparan “Pancasila di Era Post-Truth dalam Horizon yang Etis dan Politis”, Nuraeni menggali Pancasila dari segi filsafat kebudayaan modern, memperbandingkan Pancasila dengan pemikiran-pemikiran filsafat ilmiah dari Barat. Dari sini, ia kemudian mengenai posisi Pancasila di tengah kegaduhan wacana masyarakat pasca-kebenaran. 

Habitus Bangsa

ECF mengundang pula praktisi Pancasila yang mampu memberi pemahaman membumi akan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. ECF Pertemuan Keempat ECF yang diselenggarakan pada Minggu (20/10) sore ini menghadirkan Pst. Antonius Benny Susetyo – yang lebih akrab disapa Romo Benny – dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai narasumber.

Melalui presentasinya yang berjudul “Menjaga Keragaman dengan Aktualisasi Pancasila”, Romo Benny mengajak para peserta mendalami nilai-nilai Pancasila serta aplikasinya dalam dunia nyata. Secara sederhana, ia ‘membongkar’ konsep-konsep yang terkandung dalam lima sila dasar negara, seperti Ketuhanan, keadilan, dan keberagaman. Ia menegaskan pentingnya mengembalikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila kini harus dijadikan habitus atau kebiasaan bagi bangsa kita.

Paparan yang disampaikan dalam setiap pertemuan ECF merupakan sebagian kecil dari rangkaian kegiatan tersebut, bahkan hanya cenderung sebagai ‘pemantik’ atau pengantar terhadap isu saja. ECF kemudian menghadirkan diskusi yang seru dengan mengundang para pesertanya. Selain melalui presentasi, para pembicara ECF juga menghadirkan pengantar diskusi melalui metode lain, seperti diskusi film. (DAN)