Home / Berita Terkini / Dunia Kuliah Versus Dunia Kerja

Dunia Kuliah Versus Dunia Kerja

Di masa pandemi COVID-19, mencari pekerjaan merupakan hal yang tidak mudah. Hal ini yang menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi sebagian besar mahasiswa yang baru lulus atau fresh graduate. Mereka belum siap untuk menghadapi dunia luar apalagi di masa-masa sulit seperti ini.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) bekerja sama dengan berbagai perusahaan terkemuka mengadakan Webinar bertema “Dunia Kuliah vs Dunia Kerja” dalam rangka mempersiapkan para mahasiswa menghadapi dunia kerja setelah lulus. Webinar pertama dan kedua masing-masing dibawakan oleh PT. Daya Adicipta Motora (DAM) serta Tower Bersama Group yang bekolaborasi dengan Fakultas Teknik Unpar. Kedua webinar berlangsung terpisah pada Jumat (3/7/2020).

Pada webinar pertama, Joan Tania sebagai narasumber dari PT. DAM  menjelaskan bahwa dalam dunia kerja waktu tidak sefleksibel masa kuliah. Begitu pula dengan hal-hal yang dikerjakan. Di perkuliahan pelajaran diberikan dalam bentuk modul yang sudah pasti sedangkan di dunia kerja kita akan mengerjakan hal-hal yang belum pernah dipelajari. 

Siap Kerja dengan Personal Branding

Ada 3 faktor yang dapat menentukan kesiapan kerja yaitu psikologis, kompetensi karir, dan dukungan sosial. Psikologis dalam hal ini memiliki pengertian seseorang harus memiliki self efficacy (kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu), harapan dan optimisme, serta ketahanan (resilience). Kompetensi karir membahas mengenai refleksi tentang kapasitas dan motif diri kita untuk mengembangkan diri dan mengeksplor bidang pekerjaan yang dipilih. Dukungan sosial berasal dari keluarga, teman, dan orang lain yang berpengaruh. 

Ketika lulusan universitas belum memiliki kesiapan kerja, maka angka pengangguran semakin meningkat. Dua faktor utama yang menyebabkannya adalah kemampuan para pekerja yang tidak sesuai dan kesulitan bertemu pencari kerja dan lowongan pekerjaan. Selain itu, faktor internal yang mempengaruhi adalah terlalu idealis dengan jurusan yang telah dipilih.

Kualitas diri harus ditingkatkan dengan membangun personal branding atau citra diri sendiri. Penampilan, kepribadian, dan karakter merupakan elemen-elemen personal branding. Setidaknya ada 7 tips untuk membangun personal branding yaitu menjadi diri sendiri; prinsip memberi untuk menerima; fokus pada kekuatan yang dimiliki; kembangkan jaringan di media sosial profesional seperti LinkedIn; memegang nilai, prinsip dan kepribadian positif; mampu menentukan prioritas; dan selalu konsisten.

Ubah Mindset dengan Ikigai

Lain halnya dengan Dicky Wira Senjaya, narasumber dari Tower Bersama Group dalam webinar kedua. Ia memahami perspektif pekerjaan dari konsep Ikigai, sebuah konsep dari Jepang yang memiliki arti ‘a reason for being’. 4 Hal yang harus dicari ialah what you love, what the world needs, what you can be paid for, dan what you are good at

Selain konsep diatas, mindset pun juga harus berkembang (growth mindset), Ciri-ciri seseorang yang memiliki pemikiran berkembang adalah merasa mampu di semua bidang, mau mencoba hingga mendapatkan hasil yang diinginkan, menyukai tantangan, menerima kritik dan saran, dan suka belajar mengenai hal yang belum diketahui.

Dicky yang juga merupakan Alumnus Informatika Unpar 2006 berpesan, “Karena dunia berjalan sangat cepat, harus belajar terus menerus. Memahami bagaimana cara belajar, meninggalkan hal yang dipelajari, dan mempelajari ulang adalah keterampilan hidup yang paling penting untuk siap menghadapi perubahan.” (JNS/DAN – Divisi Publikasi)