Home / Berita Terkini / Dr. rer.nat Cecilia Esti Nugraheni, S.T., M.T.: Tantangan Pendidikan Tinggi Hadapi Disrupsi Teknologi Informasi

Dr. rer.nat Cecilia Esti Nugraheni, S.T., M.T.: Tantangan Pendidikan Tinggi Hadapi Disrupsi Teknologi Informasi

Dalam keseharian kita, acapkali kita bertemu dengan istilah disrupsi yang sering dikaitkan dengan perubahan teknologi yang tengah terjadi saat ini. Di satu sisi, perubahan teknologi membawa kemudahan bagi masyarakat, namun disisi lain membawa dampak negatif serta tantangan yang perlu dihadapi. Bagaimana kita, khususnya kalangan akademik, sebaiknya menanggapi fenomena ini? Berikut paparan dari Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar) Dr. rer.nat Cecilia Esti Nugraheni, S.T., M.T. mengenai disrupsi dan tantangannya dalam bidang pendidikan tinggi.

Arti kata disrupsi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tercabut dari akar. Secara lebih umum disrupsi dipahami sebagai perubahan yang mendasar atau fundamental. Perkembangan teknologi, khususnya Teknologi Informasi yang melahirkan digitalisasi, adalah penyumbang terbesar dari perubahan ini. Digitalisasi mengubah hampir semua tatanan kehidupan kita saat ini. 

Kita perlu memahami hal ini agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang kita hadapi sekarang, membantu kita menentukan langkah apa yang harus dilakukan sekarang dengan tepat, menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. 

Adanya disrupsi Teknologi Informasi menimbulkan fenomena baru di masyarakat. Banyak aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata menjadi bergeser ke dunia maya. Sebagai contoh sederhana yang dapat dirasakan adalah perubahan pola dunia bisnis. Jual beli yang sebelumnya dilakukan di dunia nyata, baik di pasar, warung, toko, supermarket maupun mal, sekarang dapat dilakukan secara daring (online). Pembeli tidak perlu lagi datang ke lokasi fisik dimana penjual berada, tetapi cukup mengunjungi toko-toko online di dunia maya. Keuntungan yang dapat dirasakan secara langsung adalah kenyamanan, hemat waktu, dan juga tenaga. 

Contoh yang lain adalah keberadaan aplikasi transportasi online. Masyarakat, dalam hal ini pelanggan, sangat dimudahkan dengan adanya alternatif transportasi ini. Selain praktis, transportasi ini secara umum juga lebih murah dibanding jenis transportasi yang sudah ada sebelumnya. Tentu saja dampak disrupsi tidak hanya positif saja, tidak sedikit pula dampak negatifnya. Dari dua contoh di atas, keberadaan toko dan juga transportasi daring membawa dampak negatif bagi para pelaku usaha tradisional atau konvensional. 

Disrupsi dan Pendidikan

Disrupsi membawa perubahan perilaku, terutama pada siswa didik, yang sebagai akibatnya membawa dampak pada proses belajar mengajar harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut

Salah satu tujuan utama dari pendidikan adalah menyiapkan generasi penerus yang mampu bertahan di masa depan. Oleh karena itu tantangan utama bagi komunitas pendidikan adalah bagaimana bisa mencapai tujuan tersebut di era disrupsi ini. 

Setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi. Pertama, agar anak-anak didik bisa bertahan di masa depan, maka mereka perlu dibekali dengan keterampilan (softskill) yang memang berguna untuk masa depan tersebut. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa keterampilan yang diperlukan untuk masa depan adalah kemampuan menyelesaikan masalah (problem-solving), kemampuan adaptasi (adaptability), kolaborasi (collaboration), kepemimpinan (leadership), kreativitas dan inovasi (creativity and innovation). Untuk itu perlu disusun kurikulum yang memang bisa mengakomodasi pemberian materi keterampilan tersebut. 

Tantangan kedua adalah terkait dengan penyampaian materi (proses pembelajaran). Disrupsi membawa perubahan perilaku, terutama pada siswa didik, yang sebagai akibatnya membawa dampak pada proses belajar mengajar tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional. Para guru dan dosen khususnya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mereka perlu diperkenalkan dengan metode pembelajaran baru yang lebih sesuai untuk kondisi saat ini dan juga dukungan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.

Aplikasi Sistem Informasi

Sistem Informasi harus dapat digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas akademik dengan prinsip memudahkan, menyederhanakan, dan mempercepat proses

Sesuai dengan tuntutan zaman, sistem informasi penunjang akademik harus juga mengakomodasi perubahan yang terjadi. Sistem Informasi harus dapat digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas akademik dengan prinsip memudahkan, menyederhanakan, dan mempercepat proses. Sistem Informasi harus andal, mampu bekerja secara terus menerus, dapat diakses dari mana saja, dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dengan cepat dan tepat. Tentu saja, sistem informasi harus tetap mengutamakan kevalidan data dan juga memperhatikan aspek keamanan data.

Seperti juga pelaku usaha lainnya, institusi pendidikan juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan, perubahan ini muncul tidak hanya dari proses bisnisnya namun juga alternatif bentuk pembelajarannya. Salah satu alternatif pembelajaran yang marak saat ini adalah MOOC (massive open online course). Salah satu keunggulan dari MOOC adalah biaya yang sangat murah, bahkan ada sebagian yang tanpa biaya. Di samping, kenyamanan dalam sisi waktu belajar dan kebebasan materi yang ingin dipelajari. 

Seorang pakar inovasi teknologi, Alex Zhu, menyatakan bahwa keberadaan MOOC ini sebaiknya tidak ditanggapi dengan negatif oleh institusi pendidikan konvensional. Salah satu tugas dari perguruan tinggi sebagai penghasil ilmu pengetahuan dan kemudian menyebarluaskannya ke masyarakat luas. Perguruan tinggi konvensional dapat menjadikan MOOC sebagai sarana untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para pengajar dan peneliti dari perguruan tingginya. MOOC berkembang dengan ditopang pendidikan konvensional, sebaliknya MOOC akan memperluas jangkauan pendidikan konvensional kepada masyarakat, terutama kepada masyarakat yang memiliki hambatan dalam mengakses pendidikan. Dengan demikian tercipta simbiosis mutualisme antara keduanya.

Agen Cerdas

Tuntutan zaman dan berkat kemajuan teknologi, saat ini agen cerdas (robot atau mesin) telah banyak digunakan untuk menggantikan manusia. Di masa depan akan lebih banyak lagi pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia yang akan digantikan oleh para agen cerdas ini. Tantangan bagi institusi pendidikan, termasuk Unpar, adalah bagaimana dapat menghasilkan lulusan yang dapat bertahan di masa depan dan mengungguli agen-agen cerdas tersebut. Jack Ma, pendiri Alibaba menyatakan “We cannot teach our kids to compete with machines. Teachers must stop teaching knowledge. We have to teach something unique, so a machine can never catch up with us. We need to be teaching our children values, believing, independent thinking, teamwork, care for others…” Semoga pernyataan tersebut dapat menginspirasi kita semua. (/DAN)

Opini ini telah dimuat kembali dalam Pikiran Rakyat, 7 November 2019