Home / Berita Terkini / Dr. Henky Muljana: Pusat Studi Sebagai Sentral Pengembangan Keilmuan Unpar

Dr. Henky Muljana: Pusat Studi Sebagai Sentral Pengembangan Keilmuan Unpar

Pusat studi seakan menjadi bagian tak terpisahkan dengan kinerja dan kontribusi suatu universitas. Sebagai bagian dari suatu lingkungan akademik, pusat studi dapat berperan nyata mengembangkan institusi dari segi keilmuan, juga memberi jawaban bagi isu dan problematika nyata di tengah masyarakat. Hal ini tersirat dalam wawancara Tim Publikasi dengan Dr. Henky Muljana, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan (LPPM Unpar), yang membahas peran pusat studi dalam mewujudkan misi universitas untuk meningkatkan kualitas dan martabat kehidupan masyarakat.

Henky menjelaskan bahwa terdapat dua jenis pusat studi di Unpar. “Ada pusat studi yang sifatnya monodisiplin, ada yang sifatnya multidisiplin.” katanya. Pusat studi monodisipliner berada di bawah pengelolaan fakultas dan program studi. Di luar itu, lanjutnya, “Ada lima pusat studi yang dikelola (langsung) di bawah LPPM.” Kelima pusat studi ini merupakan pusat studi multi- atau interdisipliner yang pengelolaannya berada pada tingkat universitas.

“LPPM memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasi kegiatan pusat studi,” tuturnya, “Baik yang multidisiplin maupun monodisiplin.” Pusat studi multidisipliner bergerak dalam lingkup masalah yang membutuhkan solusi multi disiplin ilmu. “Dalam multidisiplin,” lanjutnya, “Kita menyelesaikan permasalahan yang ada lewat kacamata berbagai disiplin ilmu.” Sebaliknya, pusat studi monodisipliner secara spesifik membahas isu dalam perspektif bidang keilmuannya masing-masing.

Wujudkan Misi Unpar

Keberadaan pusat studi di Unpar tidak lepas dari misi institusi dalam menyelenggarakan penelitian dan pengabdian masyarakat untuk mengangkat potensi lokal ke ranah global. Henky menggambarkan, “Peran pusat studi ini menjadi inti dari pengembangan keilmuan yang ada di Unpar.”  

“Banyak persoalan yang seharusnya dapat dipecahkan ketika kita punya pusat studi yang kuat untuk mendukung itu,” lanjutnya. Fungsi strategis pusat studi dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengabdian sesuai dengan pengembangan keilmuan di tingkat program studi, fakultas, maupun universitas. Oleh karenanya, LPPM berkoordinasi dengan pusat studi monodisipliner dan interdisipliner dalam mengarahkan penelitian secara jelas sesuai target dan rencana penelitian dan pengabdian masyarakat universitas.

Kini, LPPM tengah menyusun naskah akademik sebagai regulasi pendirian dan pengelolaan pusat studi di Unpar. “PR kami berikutnya adalah menyusun aturan ini supaya dapat menjadi panduan bagi pusat studi untuk mengembangkan pusat studi itu sendiri,” jelas Henky. Regulasi ini akan membantu pusat studi di Unpar dalam menentukan rencana dan peta pengembangan (roadmap) pusat studi, bahkan untuk jangka waktu hingga beberapa tahun mendatang.

Karya dan Aktivitas

Pusat studi di Unpar telah menghasilkan berbagai luaran yang memberikan manfaat secara luas. Luaran ini, menurut Henky, terdiri dari publikasi ilmiah dan kegiatan akademik, termasuk pengabdian masyarakat. Dari segi publikasi ilmiah, anggota pusat studi tidak hanya menghasilkan artikel jurnal dan karya tulis lain. Beberapa pusat studi di Unpar pun memiliki jurnal keilmuannya sendiri. “Mereka mengelola jurnal ilmiah yang memiliki peneliti tidak hanya internal juga eksternal,” ujarnya.

Adapun kegiatan akademik pusat studi dapat berbentuk seminar nasional maupun internasional, juga aktivitas pengabdian masyarakat lewat kerjasama dengan berbagai pihak. Henky memberi contoh kegiatan pusat studi CHUDS dalam mendukung Program Citarum Harum. “Banyak kegiatannya pengabdian di Sungai Citarum,” tuturnya. Beberapa pusat studi melakukan kerjasama riset dengan berbagai sektor industri. “Melalui pusat studi,” kata Henky, “Kita melakukan penelitian terkait topik atau permasalahan di industri.”

Kiprah dan kinerja berbagai pusat studi Unpar inilah yang membuktikan kualitas pusat studi di tengah masyarakat. Henky menyampaikan bahwa pusat studi di Unpar, “Sudah punya tempat tersendiri karena keilmuannya dan keahliannya di bidang itu.” Berbagai pusat studi telah menjadi rujukan baik di kalangan akademisi maupun masyarakat luas, termasuk menjadi contoh bagi pusat studi baru di Unpar. “Perkembangan saat ini cukup positif,” ujarnya menambahkan. Karena keberadaan mereka telah dirasakan oleh masyarakat, tentu pusat studi perlu melakukan peningkatan kualitas menjadi semakin baik lagi.

Manfaat Bagi Mahasiswa

Lebih jauh, Henky menegaskan besarnya manfaat eksistensi pusat studi bagi mahasiswa. “Ketika mereka memiliki riset di pusat studi terkait,” katanya, “Maka mereka secara spesifik sebetulnya mereka akan belajar pengembangan keilmuan terkait dengan pusat studi tersebut.” Mahasiswa pun mendapatkan keahlian dalam bidang ilmu yang spesifik, suatu nilai tambah bagi kualitas dirinya untuk melanjutkan studi maupun berkarier dalam berbagai bidang. “Mahasiswa bisa menonjolkan bahwa dia pernah berkecimpung di pusat studi tertentu yang terkait dengan bidang pekerjaannya,” lanjut Henky.

Melihat besarnya potensi dan manfaat pusat studi bagi mahasiswa, Henky menyampaikan bahwa, “Kami (LPPM) mendorong pusat studi untuk banyak melibatkan mahasiswa.” Menurutnya, keberadaan mahasiswa perlu dikelola dengan baik. “Stakeholder tidak hanya dosen, tidak hanya pemanfaat pusat studi seperti industri dan masyarakat,” katanya, “Salah satu komponen penting adalah mahasiswa.” Keikutsertaan mahasiswa dalam pusat studi dapat membuka wawasan akan problematika di dunia nyata dan solusi permasalahan tersebut.

Di akhir wawancara, Henky berharap, “Ke depan, pusat studi menjadi sentral pengembangan keilmuan di Unpar.” Untuk itu, LPPM akan menyusun basis data pengelolaan pusat studi di Unpar. Di sisi lain, LPPM juga mendorong pembentukan pusat studi multidisipliner yang dapat mengkombinasikan berbagai perspektif keilmuan dalam menjawab isu dan problematika masyarakat. “Target kami, pusat studi multidisiplin lebih banyak dan kegiatannya harus lebih berdampak terhadap pengembangan keilmuan,” pungkasnya. (DAN)