Home / Berita Terkini / Dr. Budiana Gomulia, Dra., M.Si.: Kolaborasi Kreatif Mewujudkan Kemakmuran Berkeadilan

Dr. Budiana Gomulia, Dra., M.Si.: Kolaborasi Kreatif Mewujudkan Kemakmuran Berkeadilan

Dinamika dalam perekonomian global memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia. Berbagai pemikiran dan konsep baru muncul untuk menciptakan strategi ekonomi mikro juga makro. Peran akademisi – dan perguruan tinggi – jadi semakin penting dalam mendukung pengembangan bisnis dan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia, tanpa tertinggal ataupun melawan arus perubahan global.

Bagi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (FE Unpar) Dr. Budiana Gomulia, Dra., M.Si., keadilan tetap menjadi tantangan utama perekonomian Indonesia untuk mencapai kemakmuran. “Kemakmuran yang adil, dapat dinikmati oleh semua, bukan hanya oleh segelintir orang,” ungkapnya dalam wawancara dengan Tim Publikasi, Senin (2/12). Apabila pemerintah ingin mewujudkan hal tersebut, ia menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur perekonomian. Hal ini semata-mata agar, “masyarakat yang terjauh pun mendapatkan manfaat ekonomi yang tidak terlalu ‘jomplang’ dengan yang ada di Jakarta atau Jawa Barat.”

Potensi Kreatif

Bagi Budiana, peluang Indonesia menghadapi dinamika perekonomian global saat ini berkutat pada modal insani. “Orang Indonesia itu kreatif,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan kemunculan paradigma ekonomi baru yang meninggalkan kekuatan ekonomi berdasar kekayaan alam “Menurut saya, pusatnya manusia,” jelasnya, “manusia yang kreatif.” Oleh karenanya daya kreasi dan nilai artistik manusia kini semakin berperan dalam perekonomian.

Meski peluang ini nampak nyata, tetapi bisa jadi ada hambatan dalam mengembangan daya kreasi insan tersebut, sehingga belum mampu mencapai kinerja yang baik. Budiana mengambil contoh kondisi sosial budaya masyarakat. “Tentu tiap daerah punya karakteristik (sendiri),” jelasnya mengingatkan.

“Makanya saya lihat, ada tren kewirausahaan sektor kreatif anak muda, mereka lebih suka kolaborasi,” kata Budiana. Tren ini kini menjadi potensi baru perekonomian. Ia kemudian menjelaskan keberadaan komunitas kewirausahaan baru yang ada di sekitar Unpar, di Kota Bandung. “Saya melihat ada tren di kelompok itu (komunitas kewirausahaan) yang karakteristiknya berbeda,” jelasnya, dimana kelompok baru dan pengusaha tradisional berbeda karakteristik bisnisnya, khususnya dengan nilai-nilai yang diangkat dalam usaha.

Tren Kolaboratif

Budiana mengungkapkan bahwa bisa jadi, tren bisnis kolaboratif lebih sesuai budaya kita. “Harusnya yang baru ini yang lebih cocok dengan Indonesia.” Apalagi, hal ini juga sejalan dengan perubahan paradigma dalam perekonomian global. “Secara keilmuan juga sudah mulai semarak dengan sustainability,” ujarnya, dengan mengutamakan prinsip 3P, yaitu profit, people (manusia baik di dalam usaha maupun masyarakat luas), serta planet yaitu bumi dan kondisi lingkungannya. Secara singkat, perekonomian kolaboratif berhubungan dengan prinsip ekonomi yang berkelanjutan atau sustainable.

Tidak ada hal yang sempurna, kolaborasi pun dibayangi oleh tantangan. Salah satunya adalah  ketika sifat manusia yang ingin memenuhi kepuasan dan keinginan sendiri muncul sehingga menimbulkan resiko perpecahan. Namun, Budiana menyatakan optimismenya akan fenomena kolaborasi tersebut. “Siapa tahu,” ujarnya, “tidak sepesimis itu.” Ia memberikan contoh berkaitan dengan pandangan generasi milenial akan apa yang penting dalam hidup mereka. Generasi yang lebih tua biasa memandang generasi baru ini sebagai insan yang individualis. Maka mengagetkan bila ternyata, menurut Budiana, “Concern (generasi milenial) yang paling atas adalah membahagiakan orang tua.” 

Berkaca dari temuan itu, ia menegaskan, “Bisa saja ada sesuatu yang muncul yang bisa mengatasi kekhawatiran tadi (terkait kolaborasi).” Lagi-lagi, kolaborasi tidak bisa lepas dari manusia dan segala karakteristiknya. “Dalam dunia organisasi, ilmu sosial, sumbernya manusia, dan manusia punya hati.”  Ia mengungkapkan bahwa tentu ada sekelompok insan yang dapat menggali solusi secara mendalam dengan semangat inovasi dan kreativitas untuk menjawab tantangan tersebut. 

Peran Pendidikan Tinggi

Lalu, melihat fenomena-fenomena ini, apa dampak yang bisa ditimbulkan oleh pendidikan tinggi ekonomi?

“Ketika memberikan ilmu ekonomi yang berkeadilan,” jawab Budiana, “tentu saja akan berdampak pada perekonomian nasional yang positif.” hal ini perlu diselaraskan dengan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Ketika semua akademisi menjalankan fungsinya,” tegasnya, “harusnya terjadi imbas oleh penelitian dan pengabdian.” Oleh karena itu, ia mengajak para akademisi untuk berkolaborasi menjawab tantangan, “Bagaimana menghubungkan antara cita-cita dan value yang dirindukan dengan mekanismenya yang terjadi di lapangan. Ini yang harus ditata.” 

Mendidik, bagi Budiana, adalah tanggung jawab besar. “Dengan pendidikan yang baik, pendidikan yang tepat,” jelasnya, “bukan hanya saat ini mahasiswa kita diajar bagaimana harus berkontribusi bagi kehidupan masyarakat banyak, tapi saat mereka lulus, mereka melekat semangatnya untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri.” Mahasiswa sebagai peserta didik diajak untuk menumbuhkan kepedulian mereka, tidak hanya bagi pencapaian profit, melainkan juga menjaga manusia dan alam ciptaan dalam usaha ekonomi mereka.

Peran pendidikan menjadikan fungsinya strategis dalam mendukung perekonomian bangsa. “(Kita) Harus menyadari tanggung jawab kita ini benar untuk mengubah bangsa melalui anak didik di sini,” ungkap Budiana. Pendidik perlu menyadari pentingnya merancang pendidikan yang tepat dalam menciptakan generasi yang berkualitas, jangan sampai ‘memanjat pohon yang salah’.

Tugas Bagi Universitas

Kini, adalah tugas bagi universitas seperti Unpar lah yang dapat menyelaraskan antara pemikiran, nilai-nilai, dan eksekusi dalam dunia nyata. Budiana menegaskan pentingnya mengkolaborasikan rencana strategis dengan rencana kegiatan memanfaatkan keahlian manajerial yang dimiliki untuk memberikan pendidikan terbaik. “Penelitian harus multidisiplin,” katanya, “artinya kita harus bekerja sama.” Dengan menumbuhkan iklim kolaboratif tersebut, lanjutnya, “Hasilnya akan lebih besar bagi pihak luar, selain kita merasa lebih bahagia dengan cara kita.” 

“Tugas perguruan tinggi, karena sudah memasang visi menciptakan komunitas yang humanum, harusnya mencari solusi,” ungkap Budiana. Melalui penelitian, observasi hingga perumusan gagasan, semua ditujukan dalam mewujudkan komunitas humanum, salah satunya dalam bidang ekonomi. ”Ini yang ditawarkan kepada masyarakat, kepada anak didik kita,” ujarnya. Dengan semangat idealisme inilah universitas dapat berkontribusi menumbuhkan kewirausahaan kolaboratif dengan wawasan yang kaya dalam rangka menciptakan kesejahteraan berkeadilan. “Kita menghidupi aliran keilmuan dari keyakinan itu.”

Kolaborasi dengan memanfaatkan daya kreasi manusia tidak hanya berpengaruh dalam menciptakan perekonomian yang maju, tapi juga merancang pendidikan tinggi yang tepat dalam mendukung pengembangan ekonomi tersebut. Semua, menurut Budiana, diarahkan untuk mencapai kemakmuran yang berkeadilan. “Kemakmuran saja tanpa keadilan, kurang lah, jauh sekali,” ungkapnya. “Tapi keadilan tanpa kemakmuran juga tidak bisa.” (DAN)