Home / Berita Terkini / Dosen Unpar dalam Asian Borderlands Research Network (ABRN)

Dosen Unpar dalam Asian Borderlands Research Network (ABRN)

Dosen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (Prodi HI) Dr. Sukawarsini Djelantik, tergabung dalam Asian Borderlands Research Network (ABRN), organisasi global yang beranggotakan para peneliti perbatasan Asia.

Pada 13-15 Agustus 2018 lalu, ABRN bekerjasama dengan the International Institute of Asian studies (IIAS) dan the American University of Central Asia (AUCA) mengadakan konferensi dwi tahunan di Bishkek, Kyrgyzstan.

Tujuan konferensi ini adalah untuk berbagi pengalaman serta media komunikasi akademik para peneliti muda dan senior dari seluruh penjuru dunia. Melalui pendekatan multidisipliner, isu isu perbatasan yang diangkat diantaranya migrasi, transformasi budaya, bahasa, agama, mobilisasi etnis, keamanan, marginalisasi, dan isu-isu lingkungan hidup.

Wilayah perbatasan dan garis batas menjadi isu global yang mendapat perhatian luas dewasa ini. Penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan memiliki tantangan dan strategi hidup yang berbeda dibandingkan dengan yang jauh dari tapal batas. Isu lainnya yakni terkait dengan identitas budaya (etnis, bahasa, agama, ideologi) termasuk politik. Wilayah perbatasan rawan isu-isu keamanan baik terkait militer maupun non-tradisional (penyelundupan obat-obatan terlarang, terorisme, tenaga migran, perdagangan orang), dan lainnya. Konflik memperebutkan sumber-sumber daya yang bernilai ekonomi juga mengancam penduduk di wilayah perbatasan negara.

Persepsi mengenai garis batas juga berubah seiring globalisasi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga transportasi. Contohnya adalah dihapuskannya sekat-sekat politik di Eropa Barat memberikan kemudahan arus barang, modal, dan penduduk. Di sisi lain, perbatasan antara Amerika Serikat dengan Meksiko, telah dibangun tembok pembatas yang masif untuk membendung arus imigran dari Meksiko.                

Sejak kejatuhan Uni Soviet pada dekade 1990an, diikuti dengan kemerdekaan negara-negara di kawasan Eropa Timur, banyak timbul masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Maraknya isu terkait perbatasan di negara-negara eks Uni Soyvet di Asia Tengah ini menjadi salah satu alasan dilaksanakannya konferensi ini di Bishkek.

Melalui ABRN, diharapkan para peneliti memiliki pemahaman, pengetahuan, dan pendekatan baru untuk lebih memahami masalah-masalah di perbatasan Asia.