Home / Berita Terkini / Gerakan Indonesia Kita Dorong Keragaman dan Toleransi
Keragaman

Gerakan Indonesia Kita Dorong Keragaman dan Toleransi

JAKARTA – Gerakan Indonesia Kita (GITA) terus berupaya melakukan berbagai kegiatan untuk mendorong terawatnya keragaman dan toleransi.

Salah satu kegiatan yang digelar adalah kuliah terbuka bekerja sama dengan Qureta, Rumpun Indonesia, dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dengan pembicara utama Dr. Karlina Supelli MSc., Jumat.

Kuliah terbuka yang bertema Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan karena munculnya gagasan antikritik yang begitu marak muncul di ruang publik, baik di media sosial, media massa, mimbar akademik maupun mimbar umum beberapa waktu terakhir.

Dia menilai, kecenderungan tersebut merupakan sebuah preseden buruk bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Sesungguhnya, kritik merupakan sebuah syarat yang mutlak dibutuhkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 375 peserta ini, Karlina mengatakan, ilmu pengetahuan terancam mati jika tidak ada pagar yang memilah pernyataan ilmiah dari klaim-klaim adi alamiah. Ilmuwan tidak lagi dapat menjelaskan informasi yang dihimpunnya selain mengatakan bahwa semua itu adalah hasil campur tangan kekuatan yang tidak dapat dideskripsikan.

“Kepercayaan tidak dapat menggantikan penalaran ilmiah. Kepercayaan tidak dapat membuat prediksi tentang gejala-gejala di dunia. Kepercayaan dapat membuat ramalan dan nubuat, tetapi kesahihannya juga didapat dari kepercayaan,” ujar Karlina.

Dia menjelaskan, perkembangan ilmu pengetahuan tentu saja melibatkan kepercayaan individual. Akan tetapi, syarat keberterimaan suatu teori mengacu kepada kesesuaian di tataran empiris dan logis.

Karlina juga menjelaskan tentang bagaimana seorang ilmuwan melacak kausalitas. “Tidak bisa lain kecuali melalui eksperimen berulang-ulang dengan hasil yang ajeg, disertai pemahaman yang mendalam tentang kriteria kausalitas yang spektrumnya cukup lebar,” katanya.

Seorang ilmuwan, menurutnya, tidak berhenti pada pencarian hukum empiris. Mereka ingin menemukan aspek realitas yang tidak berubah dan untuk itu diperlukan bangunan imajinatif yang lebih luas daripada kawasan tempat gejala empiris teramati.

 

Sumber: kabar24.com