Home / Berita Terkini / Diskusi Pembelajaran PIP Soroti Pendekatan STEM bagi Mahasiswa ‘Millenial’

Diskusi Pembelajaran PIP Soroti Pendekatan STEM bagi Mahasiswa ‘Millenial’

Ada yang menarik dalam kegiatan Diskusi dan Sharing Pembelajaran yang Inspiratif dan Inovatif kali ini. Tidak hanya berdiskusi, para peserta justru diajak ‘bermain’ oleh Janto Sulungbudi, Kepala Laboratorium Fisika Lanjutan yang menjadi narasumber. Riuh ceria peserta terlihat saat mereka berusaha menciptakan dudukan kartu yang kokoh, susunan roda gigi, juga gasing yang bisa berputar paling lama.

Tentu ‘permainan’ ini bukan sembarang bermain. Dalam kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar), Janto ingin memperkenalkan pendekatan pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and mathematics), suatu pendekatan yang berorientasi pada proses dibandingkan hasil. Kegiatan yang diselenggarakan pada Selasa (12/3) ini diikuti oleh dosen-dosen yang berasal dari beragam latar belakang keilmuan dan program studi.

Apa itu STEM?

Secara mendasar, metode STEM menekankan penelusuran konsep ilmiah melalui penyelesaian masalah. STEM menghadirkan pembelajaran yang secara langsung menggunakan metode yang ilmiah, di mana para peserta belajar melakukan percobaan, kemudian melakukan koreksi. Kesalahan yang dibuat menjadi bahan belajar dan pemahaman bagi anak didik. “Kalau tidak salah, kita pancing biar ‘salah’,” gurau Janto. Peserta didik juga belajar mengenai engineering process, yaitu mengoptimalkan rancangan dan prosesnya.

“Yang paling penting kita kasih dulu problem-nya,” jelasnya. Dari permasalahan inilah, para peserta belajar ditantang untuk mencari solusi yang terbaik sesuai dengan penalarannya masing-masing. Inti dari proses pembelajaran STEM, lanjutnya, adalah, “bagaimana cara mencapai solusi itu.” ‘Permainan’ yang dihadirkan olehnya dalam kegiatan diskusi merupakan salah satu bentuk penerapan dalam proses belajar khususnya di tingkat pendidikan dasar.


Dinamika peserta diskusi mencoba menerapkan pembelajaran STEM

STEM dan mahasiswa

Lalu bagaimana aplikasi STEM bagi mahasiswa? Janto mencontohkan penerapan yang dijalankan di Unpar. Salah satunya adalah penggunaan Scratch Programming, suatu aplikasi pembelajaran proses pemrograman berbasis Bahasa C (ANSI C) yang dihadirkan dalam bentuk visual. Sebelumnya, mahasiswa sering merasa ‘terintimidasi’ dalam mempelajari Program C, atau tidak memahami secara baik proses belajarnya karena cenderung menyalin (copy-paste) formula program.

Dalam kasus ini, selama sebulan pertama perkuliahan mahasiswa diperkenalkan tentang proses programming melalui Scratch, sebelum melanjutkan ke Program C. “Ternyata hasilnya lebih baik,” kata Janto. Proses yang memakan waktu lama ini meningkatkan kepercayaan diri dan pemahaman mahasiswa dalam C Programming. Dalam jangka panjang proses pembelajaran, hal tersebut meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk berkreasi dan berinovasi, sesuai dengan jiwa ‘millenial’-nya.

Agaknya aplikasi STEM dalam kegiatan akademis kampus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Utamanya, STEM menyoroti pentingnya proses, bukan hanya hasil, sehingga berdampak meningkatkan kualitas pembelajaran yang disampaikan oleh pengajar. Tentu proses ini butuh ketekunan dari tenaga pengajar, sehingga Janto menegaskan bahwa dosen harus siap ‘repot’. “Belajar bukan proses yang efisien,” katanya, “Belajar itu seni.”