Home / Berita Terkini / Diskusi Bersama Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro : Merefleksikan Pembangunan Universitas

Diskusi Bersama Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro : Merefleksikan Pembangunan Universitas

Mengusung judul “Diskusi Penyusunan Rencana Pengembangan Jangka Panjang dan Rencana Induk Pengembangan Unpar”, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengadakan diskusi bersama Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Acara tersebut digelar pada 9 Juli 2018 di Operation Room Rektorat Unpar. Diskusi tersebut mengundang seluruh jajaran pimpinan universitas serta ketua-ketua program studi yang ada di Unpar. Tujuan utama dari diskusi tersebut adalah mencari ide segar untuk dijadikan arahan pembangunan dan pengembangan Unpar dari berbagai sisi.

Prof. Satryo memaparkan beberapa permasalahan yang biasa dihadapi universitas swasta maupun negeri seperti pembangunan infrastruktur dan birokrasi yang berbelit-belit. Ia memaparkan kompleksitas dunia akademis yang memiliki keunikan manajemen tersendiri dibandingkan dengan birokrasi a la pemerintah maupun hierarki institusi bisnis. “Sebenarnya kita memang kompleks, namun dari kompleksitas itu ada peluang besar untuk berinovasi,” papar Prof. Satryo. Beliau juga memberi beberapa masukan tentang bagaimana Unpar dapat mengembangkan diri. “Kita punya beberapa tipe seperti Entrepreneur University, Research University dan banyak tipe universitas lain,” tambahnya memberi penjelasan. Menurutnya kampus tidak seharusnya dianggap sebagai kantor namun sebagai outlet kreatif untuk terus memberikan inovasi.

Prof. Satryo menjelaskan bahwa sudah saatnya kita merefleksikan ulang metoda-metoda untuk mengukur kualitas perguruan tinggi. Menurutnya, ukuran-ukuran yang tersedia sekarang dalam proses akreditasi masih sangat positivistik serta tidak dapat menjelaskan secara kualitatif. Contohnya adalah dengan fokus pada jumlah dan besar bangunan, padahal melalui perspektif tertentu kita dapat melihat bahwa mungkin saja tim dosen dan bangunannya relatif sedikit dan kecil atau sederhana namun memiliki efisiensi yang tinggi serta produktif dalam menghasilkan lulusan bermutu dan publikasi atau penelitian yang berpengaruh. Universitas juga seyogyanya lebih fokus pada pembenahan diri untuk menjadi lebih baik dibandingkan dengan memaksakan diri mengejar ranking. Prof. Satryo menentang konsep ranking universitas karena menurutnya setiap universitas memiliki keunikan tersendiri.

Ia mengingatkan bahwa kita dapat memiliki kebebasan tersendiri sebagai universitas swasta. Di tengah tren universitas-universitas menjadi sangat market-oriented, kita harus mengubah persepsi tentang penilaian universitas. Salah satu kerangka berpikir yang ditawarkan adalah melalui analisis apakah universitas berhasil menunaikan janjinya dengan mengacu pada kualitas lulusan, apakah sudah sesuai dengan capaian lulusan yang dijanjikan oleh universitas?. Ketika pemaparan berakhir, Dr. Pius Sugeng Prasetyo membuka kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya. Sejumlah responden menanyakan tentang beberapa kriteria seperti publikasi internasional terakreditasi, peran tenure professors dan lainnya. Acara ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan cindera mata dari Rektor Unpar, Mangadar SItumorang , Ph.D.