Home / Berita Terkini / Dies Natalis Ke-62, Enam Dekade Mengabdi di Bumi Priangan
Dies Natalis Ke-62, Enam Dekade Mengabdi di Bumi Priangan

Dies Natalis Ke-62, Enam Dekade Mengabdi di Bumi Priangan

Ada berbagai faktor yang membuat sebuah universitas diakui oleh masyarakat, baik dari kalangan awam maupun akademisi. Salah satunya dilihat dari usia. Sebuah institusi yang telah eksis dalam jangka waktu yang panjang menunjukkan kemampuan mengatasi tantangan zaman dan terus beradaptasi dalam berbagai bentuk inovasi. Selain itu, waktu memberikan pengalaman yang berharga bagi sebuah institusi. Dengan pengalaman lebih dari enam dekade, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) meneguhkan diri sebagai salah satu universitas swasta tertua di Indonesia.

Angan Membangun Negeri

Kelahiran Unpar merupakan jawaban atas kebutuhan Indonesia terhadap insan penggerak pembangunan. Kemunculannya dapat ditarik kembali pada masa konsolidasi pasca kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya, jumlah tenaga ahli yang memiliki pengetahuan yang baik ternyata kurang memadai sehingga di awal kemerdekaan, pembangunan tersendat. Untuk itu, berbagai kalangan merasakan kebutuhan yang mendesak akan institusi pendidikan tinggi, yang dapat menghasilkan tenaga ahli yang sangat diperlukan keberadaannya.

Keinginan inilah yang mendorong dua orang visioner, Mgr.P.M.Arntz,OSC. dan Mgr.Prof.Dr.N.J.C.Geise,OFM., untuk mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi di kota Bandung.

Kini, Unpar menjadi rumah bagi tujuh fakultas, yang menaungi 16 program studi sarjana, 1 program diploma, serta sekolah pascasarjana. Semuanya meliputi berbagai bidang ilmu, mulai dari ekonomi, hukum, politik, teknik dan sebagainya.

Abdi bagi Masyarakat

Sebagai sebuah institusi keilmuan, selain pengajaran dan penelitian, pengabdian kepada masyarakat menjadi misi utama bagi Unpar. Hal ini tersurat dalam sesanti Unpar, “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti”, yaitu Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat. Sesanti ini menggambarkan insan Unpar secara singkat. Manusia yang ada di Unpar adalah manusia dengan semangat belajar yang tinggi. Mereka memiliki kekuatan untuk menjadi agen perubahan, melalui pengabdian kepada masyarakat, lewat ilmu dan pengetahuan yang dimiliki.

Sesanti Unpar, beserta dengan Spiritualitas Pendiri Unpar, Semangat Cinta Kasih dalam Kebenaran Kristiani, dan tradisi luhur kebijaksanaan dalam masyarakat Tatar Sunda, menjadi dasar spiritualitas yang ditanamkan dalam diri setiap insan Unpar, sejak ia memasuki Unpar untuk pertama kalinya. Dari empat dasar spiritualitas inilah, dikembangkan tiga nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap insan Unpar, yaitu Manusia yang Utuh (Humanum), Cinta Kasih dalam Kebenaran (Caritas in Veritate), serta Hidup dalam keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika). Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar Unpar (SINDU) inilah yang menjadi pedoman visi, misi, dan tuntunan bagi setiap insan Unpar.

SINDU terbukti bukan menjadi jargon belaka, melainkan betul-betul diimplementasikan dalam kehidupan akademis masyarakat Unpar. Lewat pembuatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), misalnya, akademisi Unpar dapat mengiplementasikan ilmu yang dimilikinya dengan terjun langsung dalam masyarakat.

Berbagai kegiatan kemahasiswaan juga menjadi pembuktian bagi insan muda Unpar yang berkembang menjadi agen perubahan. Kegiatan ini datang dari inisiatif mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar, himpunan-himpunan program studi, dan berbagai unit kegiatan mahasiswa serta komunitas-komunitas Unpar.

Saat ini Unpar merayakan ulang tahunnya yang ke-62. Ini bukanlah usia yang muda. Bagi Unpar, usia ini menandakan keberhasilannya untuk mengikuti perkembangan dan kebutuhan zaman. Dalam lingkungan tatar Pasundan yang penuh dengan keberagaman, Unpar membuktikan eksistensinya sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi yang universal, terbuka, dan mampu menghasilkan insan muda humanum. Pengalaman enam dekade inilah yang telah membentuk Unpar sesuai dengan sesantinya menuju “The Great Unpar”.

Peringatan Dies Natalis ke-62 Unpar diselenggarakan pada 17 Januari yang lalu di Kampus Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Tema Dies Natalis tahun ini adalah “Kebersamaan dalam Keberagaman”. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan ini dibagi menjadi dua kegiatan yaitu Orasio Dies dan Dies Kekeluargaan. Menjadi orator kali ini adalah Dwiwahju Sasongko, Ph.D., Ketua Majelis Akreditasi BAN-PT, dengan tema “Perguruan Tinggi di Tengah Perubahan Sosial: Tantangan dan Peluang menjadi Perguruan Tinggi yang Kompetitif”.

Rangkaian kegiatan lainnya yang turut memeriahkan Dies Natalis tersebut adalah pameran poster dari hasil penelitian dan abdimas yang dilakukan sepanjang 2016. Pameran poster ini sekaligus merupakan sarana pertanggungjawaban hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Unpar dan difasilitasi oleh LPPM Unpar.

Di akhir kegiatan Orasio Dies, diberikan beragam penghargaan kepada program studi, dosen, serta tenaga kependidikan atas berbagai capaian dan prestasinya. Penghargaan diberikan pula kepada dosen-peneliti berprestasi dengan karya ilmiah terbaik di tingkat fakultas maupun di tingkat universitas.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 24 Januari 2017)