Home / Berita Terkini / Dibalik Ketangguhan Dua Srikandi Unpar, Taklukan Puncak Dunia
seven summits

Dibalik Ketangguhan Dua Srikandi Unpar, Taklukan Puncak Dunia

Stigma dan stereotip kerap melekat pada pikiran manusia. Pernyataan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ tetap sulit hilang. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, budi, dan pikiran sehingga segala sesuatu hal akan dinilai berdasarkan kesan pertama. Stereotipe bahwa perempuan adalah manusia yang lebih mengutamakan emosi daripada logika acapkali tersemat. Namun, setiap manusia yang memiliki perasaan pasti memiliki berbagai sisi apabila dilihat dari kacamata yang berbeda.

Tak berbeda dengan dua perempuan anggota tim Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari. Lima puncak tertinggi dunia berhasil ditaklukan, dimulai dari Carstenz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, dan Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) di Antartika nan jauh di selatan dunia. Dibalik kesan tangguh dan tak tergoyahkan, mereka tetap manusia yang memiliki hati perempuan.

Menuju Puncak Dunia

Mendaki gunung bukan perkara mudah, terutama mendaki gunung es. Gunung-gunung es memiliki tantangan berbeda dibandingkan dengan gunung-gunung tropis di Indonesia, tidak hanya ihwal suhu saja. Latihan intens pun harus dijajaki demi kesuksesan dan keselamatan pendaki. Program latihan yang diramu untuk WISSEMU terhitung berat. Ditemui pada Kamis (20/4) siang, dua perempuan ini berbagi cerita singkat menuju lima puncak dunia.

Deedee, sapaan akrab Fransiska Dimitri Inkiriwang, mengungkapkan dalam satu minggu, ia dan Mathilda melaksanakan latihan selama enam hari pada pagi dan sore hari, meliputi lari dan latihan beban. Bahkan, ketika ditemui siang mendung itu, mereka baru saja menyelesaikan latihan yoga.

“Latihan beban itu bawa beban bervariasi di dalam ransel, dari 22 sampai 30 kilo, nyari medan yang menanjak. Salah satunya tangga darurat di kampus, atau ke Puncak Ciumbuleuit (Punclut). Dan, lari berkisar enam sampai 15 kilo,” ujar Deedee.

Menurut Mathil, sapaan akrab Mathilda Dwi Lestari, intensitas dan porsi latihan semakin berat dan keras. Apabila diamati, lanjutnya, gunung-gunung yang didaki semakin berat tantangannya. Meskipun sudah memiliki kepercayaan diri setelah pendakian berhasil, namun untuk menghadapi gunung selanjutnya tim harus menganalisis hal-hal yang mungkin dibutuhkan. Kuncinya adalah evaluasi dari pendakian-pendakian sebelumnya.

Sehari sebelumnya, terlihat Deedee dan Mathil membawa dua ransel besar lebih dari 50 liter. Mengenakan kaos dan celana pendek, mereka mendaki anak tangga menuju Gedung Hukum dari arah Student Centre. Butiran-butiran keringat menetes dari dahi menuju pelupuk mata. Kecepatan jalan menaiki tangga menunjukkan seberapa berat ransel yang dipikul kedua mahasiswi bertubuh mungil ini. Awan mendung kala itu tidak menyurutkan semangat latihan mereka.

‘Kita Engga Setangguh Itu’

Hidup penuh dengan berjuta kisah manis, namun juga berjuta macam pengorbanan untuk mencapainya. Dibalik pencapaian kedua mahasiswi Hubungan Internasional (HI) itu di lima puncak tertinggi dunia, tidak banyak orang mengetahui berbagai hal yang dikorbankan. Selalu ada jatuh bangun yang dilewati untuk mencapai titik sekarang ini.

“Ada manja-manjanya, ngeluh-ngeluhnya. Misalnya, ‘kenapa sih hidup kita gini-gini banget’ atau ‘Duh, latihan terus tiap hari, ya Tuhan, ya Tuhan’,” ujar Deedee sambil memeragakan.

Meskipun, keluhan-keluhan terlontar hanya sesekali saja, hanya di satu titik saja. Keduanya menyadari bahwa ekspedisi yang dikerjakan merupakan satu hal yang masif. Oleh karena itu, pengorbanan yang dilakukan pun harus besar. Tidak hanya waktu kuliah, bahkan waktu untuk sekadar nongkrong pun berkurang kuantitasnya.

Deedee mengutip sebuah perkataan bijak dari RA Kartini, “Kalau mau melahirkan sesuatu, harus merasakan sakitnya melahirkan. Jadi, kita ini ibarat sedang merasakan sakitnya melahirkan.”

Sudah hampir 3 tahun, dua srikandi mungil itu menjalani latihan. Ia mengatakan, tahap-tahap persiapan adalah bagian yang terberat. Tim WISSEMU selalu memerhatikan tiap latihan, persiapan-persiapan, pengetahuan dan keterampilan sudah cukup atau belum. Apabila ada kekurangan, lanjutnya, pasti diomeli karena tim ingin keduanya tetap aman dan selamat.

“Kasarannya, hidup kita cuma latihan fisik, kuliah, dan rapat. Tapi, jalani saja. Ibarat melahirkan, sakit, lalu dapat anak baru,” tambah Mathil sambil tersenyum riang.

Dari Trio Jadi Duo, Kehilangan Satu Kaki

Di antara kelima puncak yang sudah didaki selama hampir tiga tahun itu, tidak ada pendakian yang tidak emosional. Akan tetapi, bagi Deedee dan Mathil, Gunung Aconcagua merupakan yang paling membuat perasaan bercampur aduk. Gunung itulah yang menyerang kuat batin dan fisik. Perjalanan memakan waktu berkisar 20 jam sehingga kelelahan fisik harus dilawan karena bahkan pendakian belum dimulai.

Selain itu, Deedee dan Mathil harus meninggalkan seorang kawan satu tim. Dian Indah Carolina adalah pelengkap duo tim WISSEMU. Namun, karena mengalami penyakit ketinggian, ia harus balik kanan.

“Aconcagua itu lebih seperti perjuangan panjang, menyerang fisik dan batin. Dengan pengorbanan kita meninggalkan temen. Kasarnya seperti, ‘kok jahat banget sih meninggalkan teman sendiri’,” tambah Deedee, “Saat itu benar-benar membuat kita sedih karena biasanya kita muncak bertiga terus dan sekarang harus berdua. Tapi, daripada dia meneruskan dan hasilnya akan lebih buruk dari yang sudah dialami, ya sudah kami terima saja. Satu-satunya cara untuk mengobati penyakit ketinggian hanya turun ke bawah.”

Bagi keduanya, kombinasi Deedee-Mathil tidak lengkap tanpa Caro, sapaan akrab Dian Indah Carolina, ditengah kehadiran keduanya. Caro adalah seorang mahasiswi HI yang juga tergabung dalam WISSEMU sebagai anggota ketiga.

Meskipun hanya tinggal berdua saja, selanjutnya, kedua srikandi tangguh ini akan melanjutkan ekspedisi menapaki Gunung Denali (6.190 mdpl) di Amerika Utara dan Gunung Everest (8.828 mdpl) di Nepal. Direncanakan ekspedisi akan selesai pada pertengahan tahun 2018 mendatang.