Home / Berita Terkini / Dialog Antara Ilmu Dengan Iman: Untuk Apa?

Dialog Antara Ilmu Dengan Iman: Untuk Apa?

Pada Kamis (23/7/2020), Fakultas Filsafat (FF) dan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS) UNPAR menggelar Seri Webinar bertajuk “Dialog Antara Ilmu Dengan Iman: Untuk Apa?” dengan dimoderatori oleh Fr. Paulus Jojo Junaedi, SS. OSC. Webinar mengundang Prof. Ignatius Bambang Sugiharto (Fakultas Filsafat Unpar) dan Prof. Aloysius Rusli (Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Unpar) sebagai narasumber. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi, dengan masukan dari kegiatan sehari-hari dan perkuliahan menjadi pemicu dan pemacu yang berguna.

Paulus memberikan pengantar singkat mengenai dialog. Dialog disimpulkan sebagai cara yang baik, yaitu cara mendengarkan dengan empati dan upaya memahami pandangan berbeda, serta kerelaan menjelaskan pandangan diri secara ringkas tetapi setepat mungkin ketika ditanya.

Selanjutnya cara kerja ilmu, tepatnya fisika, ditelusuri strukturnya. Struktur ini memuat tiga tahap berulang: pengamatan teliti dan berulang, pemilihan asumsi sebagai titik tolak bernalar, yang sekonsisten mungkin dengan realitas, penalaran yang sejelas mungkin, dan pengujian kesimpulannya dengan pengukuran teliti dan berulang.

Cara kerja seperti ini telah amat berhasil mengembangkan pemahaman tentang jagad raya, yang lalu sebagian praktisnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan teknologi yang semakin pesat berkembang. Akhirnya ihwal iman, sebagai suatu asumsi dengan tingkat kepercayaan yang diasumsikan tinggi, dapat disimpulkan sementara sebagai suatu sarana untuk memperkaya makna bagi hidup manusia.

Maka jawab singkat yang ditawarkan sebagai bahan refleksi lebih lanjut, bagi judul webinar ini adalah untuk memperoleh makna hidup yang semakin mendalam bagi diri dan bagi umat manusia.

Makna Hidup

Segala bentuk ‘worldview’ ontologis yang kita percayai sebetulnya agar dinamika pengalaman bisa dimengerti, hidup dirasa bermakna, dan arah hidup jelas kemana. Diperlukanlah semacam kepastian, tapi nyatanya hidup terlalu kompleks, misterinya terlalu dalam, sulit mendapat kepastian 100%. Maka hanya kita sendiri yang memastikan berdasarkan testimoni tokoh tertentu, pengalaman pribadi, tradisi, dan penalaran ilmiah (sains, filsafat). Itulah yang disebut kepercayaan/ iman/ believe/ trust.

Dominasi Sains

Sejak abad 17 hingga abad 21 muncul kesan bahwa sains semakin mampu memberi kepastian karena terbukti, terukur, konsisten, transparan, dan hasilnya jelas. Titik permasalahannya terletak pada sains pun dilandasi ‘kepercayaan’ tertentu, yakni asumsi dasar/postulat mata-ilmiah, bahwa alam semesta ini bukan ilusi, alam semesta bekerja secara rasional, dan rasionalitas manusia mampu memahami kinerjanya. Meskipun sains dapat menunjukkan bahwa dan bagaimana teorinya berkorelasi dengan alam semesta, tapi masih tetap menjadi misteri mengapa hal itu bisa berkorelasi.

Ilmu dan Iman

Cara kerja terantar dikembangkan oleh Sokrates (470-399 SM), Plato (428-348 SM), Aristoteles (384-322 SM), Galileo (1564-1642) dan Newton (1642-1726). Cara kerja itu dimulai dari pengamatan dengan mata atau dibantu alat secara teliti dan berulang, kemudian asumsi sebagai titik tolak yang tervisualisasi, dilanjutkan dengan penalaran menggunakan logika, dan terakhir diuji seteliti mungkin dibandingkan dengan asumsi. 

Iman biasa menjadi landasan agama. Dalam ensiklik Santo Yohanes Paulus II (14 September 1998) tercantum bahwa iman dan nalar merupakan “dua sayap” menuju kebenaran. Iman dapat memberi makna yang mengarah ke arah kebenaran.

Blaise Pascal memberi pertanyaan kepada manusia mengenai keberadaan Allah di dunia. Beliau menjawab menurut keyakinannya bahwa orang rasional sebaiknya berpihak pada “Allah ada”, karena jika Allah betul ada, kita selamat untuk selamanya namun jika ternyata tiada, kita hanya rugi relatif sedikit (berpantang dan berpuasa sedikit, berhemat dan berderma sedikit). Jika berpihak pada “Allah tidak ada” risikonya tinggi, karena jika Allah ternyata tidak ada, memang kita akan selamat setelah hidup semaunya, namun jika Allah ternyata ada,kita dapat tenggelam ke neraka untuk selamanya. 

“Dialog antara ilmu dan iman adalah untuk saling mendengarkan, saling melengkapi, bagai dua sayap membubung ke arah kebenaran yang lebih utuh selaras dengan keutuhan manusia, jasmani rohani, Pancasila, Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU).” jelas Rusli dalam akhir paparannya. Tujuan dialog antara ilmu dan iman menurut Bambang kurang lebih sama, yakni sedikit mengurangi kebingungan, memperkuat keyakinan, bertumbuh lebih matang, dan memperluas kemungkinan pemahaman atas kehidupan dan semesta. (JNS)