Home / Berita Terkini / Dari FF Unpar, Untuk FF Unpar

Dari FF Unpar, Untuk FF Unpar

Perwakilan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar), yaitu Marchelino Joshua dan Leonardo Kiloiz Efraim Petto, berhasil meraih juara kedua dalam Kompetisi Film Pendek yang digelar sebagai bagian dari Perayaan Dies Natalis ke-51 Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara yang diperingati pada 2 Februari 2020. Kepada Publikasi Unpar, mereka menuliskan pengalaman singkat dalam berproses hingga mencapai prestasi yang sangat baik itu. Berikut cerita dan kesan mereka.

Di suatu kegiatan perkuliahan, Dr. Yohanes Slamet Purwadi selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD III) menyampaikan evaluasi akreditasi terhadap Fakultas Filsafat Unpar (FF Unpar) tahun 2019 lalu. Beliau menyampaikan bahwa salah satu hal yang perlu dibenahi di FF Unpar adalah keterlibatan mahasiswa FF untuk mengikuti kompetisi. Prestasi mahasiswa FF dinilai masih kurang. 

Wejangan – jika bisa dikatakan demikian – menjadi motivasi awal kami untuk mengikuti perlombaan film pendek Dies Natalis STF Driyarkara ke-51. Perlombaan ini digelar dalam rangka merayakan ulang tahun STF Driyarkara, Jakarta yang ke-51. Awalnya, ada berbagai macam perlombaan yang digelar, semisal karya ilimiah dan melukis. Namun dengan berlakunya status “pandemi” bagi wabah Covid -19, maka sejumlah perlombaan dibatalkan. Hanya tersisa dua lomba, yakni film pendek dan karya tulis.

Bermodalkan hobi dan ketertarikan terhadap film, kami memutuskan untuk mengikuti perlombaan tersebut. Sebagai bagian dari FF Unpar, kami merasa bertanggung jawab untuk ikut mengembangkan FF Unpar. Kami ingin ikut ambil bagian dalam usaha untuk memajukan FF Unpar.  

Sedari awal, kami telah memikirkan konsekuensinya apabila kami mengikuti perlombaan. Salah satu yang cukup menantang adalah keterbatasan, entah itu waktu, peralatan, hingga kondisi. Maka dari itu, kami mencoba fokus pada kisah-kisah yang sangat mungkin terjadi di kehidupan sehari-hari, yang layak untuk diubah ke bentuk film pendek. 

Tercetuslah ide untuk mengangkat tema “perspektif” sebagai tema film pendek buatan kami. Tema yang kami usung ini terasa sangat relevan dengan tema umum perlombaan film pendek tersebut, yakni pluralisme. Melalui film pendek ini, kami hendak menggambarkan bahwa masalah terbesar dalam pluralisme adalah perbedaan perspektif. Pluralisme bukanlah soal siapa yang menjadi mayoritas atau siapa yang lebih dulu datang. Pola pikir semacam itu hanya akan menghasilkan paham kebenaran yang begitu sempit. Dengan kata lain, kebenaran sejati adalah kebenaran milikku atau milik kaumku. 

Padahal, banyak perspektif mengindikasikan banyaknya kebenaran pula. Benar dan salah, baik dan buruk itu tipis bedanya, apalagi jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Penjabaran ide tersebut kami proyeksikan ke dalam keengganan seorang mahasiswa untuk bekerja sama dengan mahasiswa lainnya karena ia menganggap pekerjaan dialah yang paling baik dan benar. Sangat mungkin terjadi di kehidupan kita, bukan?

Ketika mendapat kabar bahwa kami memenangkan lomba tersebut, tentulah perasaan senang adalah perasaan yang dominan muncul. Namun, lebih dari itu, kami senang karena kami bisa memberikan sumbangsih bagi fakultas kami. Tujuan kami mengikuti lomba terbayar sudah. 

Tulisan ini sekaligus merupakan ucapan terima kasih tidak langsung bagi FF Unpar – lewat para dosennya – yang telah memberikan cara pandang baru melihat dunia. Cara pandang adalah hal yang sangat integral bagi mereka yang belajar filsafat – setidaknya menurut kami. Dengan belajar filsafat, anda akan menemukan cara pandang baru yang lebih komprehensif dalam melihat dan memahami dunia. Rasanya tidak mungkin anda belajar filsafat tanpa mendekonstruksikan cara pandang anda yang lama, lalu mengkonstruksikannya ulang. 

Sebagai penutup, besar harapan kami untuk para mahasiswa FF Unpar sendiri agar berani ambil bagian dalam usaha memajukan FF Unpar. FF Unpar adalah tanggung jawab kita bersama, komunitas FF Unpar. Dan, untuk mereka yang menonton film pendek ini, besar harapan kami agar kalian dapat memahami apa yang baik dan benar dengan lebih komprehensif. Realitas itu terlalu luas untuk bisa dipahami dengan perspektif pribadi saja. (/DAN – Divisi Publikasi)