Computational Thinking Untuk Pembelajaran Siswa-Siswi Berkebutuhan Khusus

Tidak semua peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan diri dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Siswa-siswi yang berkebutuhan khusus dan menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) misalnya, akan menemukan kesulitan tersendiri saat belajar menggunakan metode digital yang saat ini dianjurkan oleh pemerintah.

Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memandang penting literasi digital bagi siswa-siswi disabilitas. Hal ini melatarbelakangi Program Pembelajaran berpikir komputasi untuk SLB di Kota Bandung. Program Pengabdian Masyarakat ini tengah diselenggarakan di SLB B Sukapura.

Melalui program ini, tutur Albert MPL Tobing, ST., M.AB. selaku pelaksana program abdimas, “Kita bisa mengembangkan sebuah skema pendidikan yang inklusif.” Dalam kondisi yang tidak normal, lanjutnya, semua peserta didik memerlukan literasi digital, tidak terkecuali bagi para siswa disabilitas.

Tantangan

Tentunya, pembelajaran computational thinking bagi disabilitas memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari pengembangan modul yang sesuai kebutuhan, training para guru, hingga penyampaian materi bagi para siswa lewat para guru dengan pendampingan dari Adbis Unpar. 

“Perlu riset, perlu waktu untuk memahami pendekatannya,” jelas Albert. Hal yang sama dipertegas oleh Timothy Adrianus, M.AB. “Perancangan modul harus disesuaikan,” ujar dosen Adbis Unpar ini. Pendekatan untuk mereka yang memiliki disabilitas berbeda-beda tentu harus dipikirkan secara matang, dengan didukung pendampingan dan komunikasi para guru.

SLB B Sukapura sendiri merupakan sekolah bagi siswa-siswi tunarungu, tunagrahita dan multi disabilitas bagi SMP dan SMA. Materi pembelajaran jelas berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pendekatan seperti penggunaan games akan sangat penting. DI sisi lain, ada pula tantangan infrastruktur digital yang kurang mendukung sehingga perlu diperbantukan dengan fasilitas lain.

Tantangan ini mendorong Adbis Unpar untuk berkolaborasi mewujudkan mimpi ini. Untuk konten pembelajaran, Adbis Unpar bekerja sama dengan pakar computational thinking dari Informatika Unpar dan NUS Singapura. “Kita juga bekerja sama dengan Yayasan Save The Children,” lanjut Timothy. “Mereka lebih berpengalaman dalam penyampaian materi.” Sedangkan mahasiswa akan dilibatkan menjadi co-fasilitator dalam abdimas.

Pendekatan Sosial

Sebagai akademisi Administrasi Bisnis, pendekatan ilmu sosial menjadi krusial.  Tim Abdimas Adbis Unpar perlu mempelajari kebutuhan para siswa dan mewujudkannya. “Pemahaman kebutuhan mereka itu sendiri,” tegas Albert, menjadi penting, sehingga, “Siswa dengan disabilitas bisa bersaing di dunia umum.” 

Lebih lanjut Albert mengatakan, “Metode kita adalah design thinking.” Menggunakan metode yang lazim dipergunakan oleh akademisi dan praktisi administrasi bisnis ini, mereka melakukan observasi hingga merancang prototype berupa modul dan metode pembelajaran.

Hal ini tidak lepas dari dukungan para guru SLB Sukapura. Sebelum melangkah lebih jauh, Tim melakukan Focus Group Discussion. “Kita ingin mendengarkan cerita para guru,” ungkap Timothy. Hal ini mengawali tahapan abdimas, yang akan dilanjutkan perancangan modul yang direncanakan selesai dalam dua bulan, serta implementasinya bagi para siswa.

Melalui program ini, Adbis Unpar berharap dapat memberikan semangat bagi para siswa disabilitas untuk belajar hal-hal baru, khususnya dalam hal computational thinking, di tengah masa pandemi. Dengan begitu, mimpi akan pendidikan yang inklusif dapat tercapai. (DAN – Divisi Publikasi)