Home / Berita Terkini / Cahaya dan Doa Untuk Palu-Donggala

Cahaya dan Doa Untuk Palu-Donggala

Dua bulan sudah bencana gempa dan tsunami mengguncang Sulawesi Tengah. Meski masa tanggap darurat sudah usai, kini, masih ada tugas besar yang harus dilakukan oleh para penyintas dan pemerintah.

Masyarakat dan sarana pendukungnya perlu segera direhabilitasi agar kehidupan dapat kembali normal. Membangun kembali komunitas mereka pasca-bencana tentu membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk dukungan moral maupun material.

Hal ini juga menjadi perhatian dari komunitas Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Dari segi akademis, peneliti Unpar bekerja sama dengan komunitas akademik dalam dan luar negeri untuk menganalisis fenomena geologis bencana dan dampaknya bagi masyarakat, serta merekomendasikan langkah antisipasinya.

Contohnya, penelitian Prof Paulus Pramono Rahardjo beserta tim yang menjadi rujukan dunia berkaitan dengan likuefaksi di Kota Palu pada saat gempa. Di lain pihak, masyarakat Unpar juga memberikan bantuan kemanusiaan yang penggalangan serta penyalurannya dikoordinasikan oleh institusi Unpar maupun mahasiswa.

Menolong dengan sukarela

Salah satu unit kegiatan mahasiswa yang memiliki orientasi kemanusiaan di Unpar adalah Korps Tenaga Sukarela atau Korgala. Sesuai namanya, organisasi independen ini bergerak menumbuhkan solidaritas kemanusiaan serta menjadi wadah bagi anggotanya untuk mengamalkan diri bagi masyarakat. Sejak pendiriannya pada 1994, Korgala telah terlibat aktif dalam mengorganisasi kegiatan tanggap bencana di berbagai pelosok Indonesia, seperti di Aceh, Garut, dan Belitung.

Saat Sulawesi Tengah dilanda musibah, Korgala turut bergerak. Di tengah kesibukan perkuliahan, para anggota Korgala melakukan kegiatan penggalangan dana di kalangan komunitas Unpar. Menutup masa penggalangan dana di akhir bulan November, Korgala menghadirkan aksi amal bertajuk “Cahaya untuk Palu-Donggala” yang diselenggarakan di Student Center Teknik pada hari Kamis, 22 November 2018.

Acara ini merupakan aksi kolaborasi yang dilakukan oleh Korgala bersama dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di Unpar, antara lain Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam (Mahitala), Lingkung Seni Tradisional (Listra), Potret, Unpar Radio Station (URS), Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar, Media Parahyangan, serta Kelompok Sastra dan Teater (Sartre). Diawali dengan Tari Merak dari Listra Unpar, acara dilanjutkan dengan gelar wicara, pembacaan sajak, dan penampilan musik dari mahasiswa Unpar. Acara malam itu ditutup dengan doa bersama diiringi oleh cahaya lilin, mengantar doa-doa hadirin bagi para penyintas gempa dan tsunami Palu Donggala.

Berbagi cerita

Dalam kesempatan ini, Korgala mengundang relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Mahitala yang terlibat langsung dalam proses evakuasi dan pemulihan pasca-bencana di Sulawesi Tengah untuk berbagi pengalaman dan rasa simpatinya. Hadirin diajak untuk mendalami pengalaman para relawan bencana, serta meningkatkan rasa kepedulian bagi para korban yang masih terus bertahan untuk melanjutkan hidup.

Cerita tidak hanya disampaikan lewat gelar wicara. Berbagai foto yang diambil dari lokasi bencana juga turut dipamerkan dalam kegiatan ini. Lewat foto, hadirin dapat melihat betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu. Namun, foto-foto juga menunjukkan besarnya asa yang masih ada dalam diri pada penyintas maupun relawan penolong untuk bangkit.

Acara ini menjadi ajang mempersatukan keluarga besar Unpar untuk bersimpati bagi duka masyarakat di Sulawesi Tengah, yang tidak lain juga duka Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Souphavanh Boutthavong selaku ketua pelaksana Cahaya untuk Palu-Donggala, yang terpenting adalah niat untuk berdoa bersama. Di sisi lain, acara ini memampukan Korgala untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk membangun kesadaran kemanusiaan dari mahasiswa Unpar.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 18 Desember 2018)