Home / Berita Terkini / Budaya Digital: Membangun atau Mendestruksi?

Budaya Digital: Membangun atau Mendestruksi?

Dimulai dari penemuan mesin uap, kita sekarang ini sudah mencapai era revolusi 4.0, yang mana segala sesuatu memerlukan internet dan teknologi digital. Digitalisasi memang tidak lepas dari perkembangan peradaban manusia, itulah yang disampaikan oleh Dr. Pius Sugeng Prasetyo selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP Unpar) saat diwawancarai oleh tim Publikasi di satu kesempatan.

“Dari perspektif saya sebagai ilmuwan sosial, saya melihat bahwa perkembangan peradaban manusia dengan kebudayaannya akhirnya sampai pada sebuah tahapan atau era yang disebut era digital. Digitalisasi, teknologi informasi, merupakan hasil budidaya manusia, hasil kerja keras pemikiran dengan segala macam eksperimentasinya oleh manusia sehingga saya melihat itu sebagai suatu dampak positif dari sebuah era perkembangan peradaban manusia,” tutur Pius.

Isu Penting

Digitalisasi menjadi penting adanya karena temuan-temuan manusia tersebut pasti akan berdampak kepada perubahan dalam relasi-relasi sosial. “Relasi-relasi sosial menjadi berubah bagi mereka yang mau masuk di dalam era perkembangan terutama digitalisasi. Relasi yang dulu harus dilakukan secara langsung, face to face, era sekarang tidak perlu lagi. Dulu pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan dengan memakan waktu yang lama sekarang bisa dilakukan dengan waktu yang cepat,” jelasnya.

Dirinya melihat dalam konteks kehidupan sosial, digitalisasi menimbulkan konsekuensi dan dampak yang besar, baik itu positif maupun negatif. Proses sosial yang dimaksud adalah relasi sosial yang terinterupsi dengan adanya hasil perkembangan dari teknologi digital. Tidak hanya itu, upaya untuk mengembangkan diri dan komunitas dengan memanfaatkan teknologi digital semakin cepat sehingga orang bisa mengakses informasi digital yang dapat mengembangkan kapabilitas kemampuan dari individu tersebut. Dengan adanya perkembangan teknologi digital ini maka diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih berkualitas dan perkembangan manusia menjadi lebih cepat.

Perubahan Sosial

Dengan adanya digitalisasi, segala sesuatu terlihat menjadi lebih cepat. Contoh spesifik yang diberikan oleh Pius adalah dalam konteks pengambilan keputusan. “Digitalisasi dibutuhkan untuk mempercepat pembuatan keputusan, misalnya tanpa harus bertemu. Contohnya Unpar, sebagai sebuah organisasi dapat membuat keputusan dengan cepat dengan bantuan dari teknologi,” jawab Pius saat ditanyakan dampak dari nyata dari perubahan digital. Perubahan fundamental lainnya adalah orang-orang menjadi lebih berani untuk beropini, mengutarakan pendapat, dan menunjukan keberanian untuk mengekspresikan ide.

“Era digitalisasi dimana segala sesuatu mudah diakses, harus membuat manusia-manusia menjadi manusia yang lebih pintar karena akses yang mudah. Kelemahannya adalah kurangnya kemauan untuk bisa tekun mengakses dan membaca,”. Di dalam kampus sendiri, dirinya menjelaskan bahwa teknologi yang ada dapat memudahkan dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk dapat mengakses berbagai macam informasi baru, untuk belajar dan mengembangkan diri.

Kolaborasi Tradisi

Dalam sebuah era yang baru, harus dapat disadari bahwa hal tersebut dapat membuat sebuah benturan budaya atau clash of civilization. Seperti misalnya kebiasaan tradisional yang berubah atau yang tidak dilakukan lagi. Seperti misalnya tradisi memberi salam atau ucapan dengan kartu yang sudah berubah, yang mana masyarakat sekarang ini hanya mengirimkan satu pesan saja. “Nantinya tradisi silaturahmi, pertemuan secara langsung, mungkin bisa terkikis, orang merasa waktunya terbuang, terutama di masyarakat kota,” jelasnya.

Saat ditanyakan apakah tradisi digital yang baru ini dapat menggantikan tradisi tradisional, Pius menjawab bahwa sebuah kultur tidak bisa begitu saja menghilang, namun akan terjadi benturan terus menerus. Seperti misalnya fenomena ojek pangkalan dan ojek online yang menyebabkan terjadinya konflik sosial. Menurutnya selalu ada dua sisi dari perkembangan teknologi, sisi membangun dan sisi mendestruksi. Dalam fenomena ojek pangkalan dan ojek online dapat dilihat bahwa digitalisasi dapat membangun sebuah perekonomian yang baru, namun juga secara bersamaan dapat mendestruksi kebiasaan tradisional yang sudah ada sebelumnya.

Peran komunitas akademik

Sebagai kaum akademisi, peran yang dapat diambil oleh komunitas akademik dalam perubahan revolusi digital adalah menerima dan menanggapi perubahan ini sebagai sebuah peluang untuk dapat semakin berperan di dalam banyak hal dan semakin meningkatkan kualitas peranannya. Unpar sebagai sebuah komunitas akademik dapat semakin lebih mengembangkandan memudahkan menyebarluaskan informasi-informasi yang sifatnya mendidik.

Dengan peluang yang besar, Unpar dapat berperan lebih dengan memanfaatkan digitalisasi yang ada ini. “Unpar dengan sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, maka Mrih Guna Santyaya Bhakti-nya semakin dimudahkan ketika kita bisa memanfaatkan teknologi digital. Kita bisa membangun jejaring untuk bisa memberi pendidikan bagi masyarakat yang tidak punya akses, (misalnya) pembelajaran distance learning, jarak jauh menjadi peluang bagi Unpar untuk menempatkan diri karena mempunyai kepedulian untuk perkembangan kualitas manusia di dunia, meskipun masih banyak kesulitan, tapi menjadi prospek untuk berkontribusi untuk masyarakat luas.“ ungkapnya di akhir wawancara. (YJR/DAN)