Home / Berita Terkini / Bisnis Keluarga, Haruskah Diakhiri oleh Generasi Ketiga?

Bisnis Keluarga, Haruskah Diakhiri oleh Generasi Ketiga?

Begitu kuatnya pandangan bahwa bisnis keluarga sangat sulit untuk bertahan melewati generasi ke generasi, karena sarat dengan konflik dan intrik yang timbul dalam hubungan kekeluargaan. Kelangsungan bisnis keluarga yang telah dibangun dalam kurun waktu sangat panjang akan menguatkan akar kompetensi, jejaring sosial, dan nilai bisnis. Bisnis keluarga seperti ini menjadi landasan kehidupan ekonomi yang lebih kuat.

Survei yang diselenggarakan oleh Pricewaterhouse Coopers pada tahun 2014 menunjukkan lebih dari 95% bisnis di Indonesia dimiliki keluarga. Bisnis keluarga ini ada yang yang berskala kecil, menengah, besar, hingga konglomerasi. Beberapa bisnis yang sangat dikenal masyarakat Indonesia, seperti: Toko Roti Orion di Solo, Toko Roti Mandarin di Surabaya, Pabrik Mari Tunggal di Bandung merupakan contoh bisnis keluarga berskala kecil menengah yang saat ini telah dijalankan oleh generasi ketiga. Ada pula bisnis keluarga yang mulanya skala kecil, namun kemudian sangat berkembang dan kini telah menjadi bisnis berskala sangat besar, seperti Grup Salim, Grup Bosowa, Grup Sinar Mas, Grup Bakrie. Peran keluarga telah menjadikan bisnis tersebut memiliki reputasi yang luar biasa, bahkan lebih dari hanya skala nasional.

Karakteristik Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga ditandai oleh adanya konsentrasi permodalan di tangan satu orang atau satu keluarga pemilik dengan sejumlah anggota keluarga lainnya terlibat dalam manajemen operasional. Menurut Davis & Taqiuri (1985), bisnis keluarga adalah bisnis yang dua generasi atau lebih anggota keluarga memengaruhi arah bisnis. Sedangkan menurut Holland & Oliver (1992), bisnis keluarga adalah bisnis yang keputusan terkait kepemilikan dan manajemen dipengaruhi oleh anggota keluarga. Ada dua bentuk bisnis keluarga, yaitu bisnis yang dimiliki keluarga namun dikelola oleh bukan anggota keluarga (family-owned business) dan bisnis yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga pendiri (family-owned and managed business). Ada juga bisnis keluarga yang dimulai oleh beberapa saudara dan atau teman, kemudian berkembang besar dan melibatkan keturunan masing-masing. Contohnya kelompok bisnis Kalbe, Kompas-Gramedia, Adaro, dsb.

Berbagai latar belakang menjadi motivasi berdirinya suatu bisnis, terutama karena adanya kejelian menangkap peluang. Sedangkan untuk usaha mikro dan kecil, sebagian besar karena keterdesakan memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga. Apa pun latar belakangnya, bisnis yang dikelola keluarga memiliki karakteristik serta permasalahan yang tidak dihadapi oleh yang bukan bisnis keluarga. Karakteristik utamanya adalah pengendalian perusahaan di tangan keluarga tertentu. Dampaknya, kebergantungan yang tinggi terhadap keberdayaan anggota keluarga dalam bekerja sama untuk mencapai visi, misi, dan tujuan serta dalam menjalankan operasional perusahaan. Kebergantungan satu dengan lainnya ini dapat menjadi permasalahan ketika ukuran perusahaan semakin besar, yaitu menjadikan anggota keluarga yang terlibat dalam perusahaan agar bekerja secara profesional atau merekrut para profesional. Masalah utama lainnya datang dari pandangan bahwa perusahaan adalah aset yang harus diwarisi dari generasi ke generasi (Casson, 1999). Adanya generasi penerus (family successor) inilah yang membedakan karakter bisnis keluarga (Churchill & Hatten, 1987). Dampaknya, ketika tiba saatnya pemilik atau pendiri perusahaan, disebut generasi pertama (atau generasi pendiri), bermaksud menyerahkan posisi dan jabatannya kepada generasi selanjutnya, yang dikenal dengan istilah suksesi. Suksesi muncul ketika pimpinan perusahaan bermaksud dialihkan dari generasi kesatu ke generasi kedua, dari generasi kedua ke generasi ketiga, dan seterusnya. Setelah suksesi berhasil, permasalahan selanjutnya adalah siapakah di antara penerusnya yang menjadi penentu pengambilan keputusan?. Bagaimana penanganan konflik dilakukan? Bagaimanakah sistem remunerasi bagi anggota keluarga yang menduduki posisi tertentu di perusahaan? Dari Family Business Survey yang dilakukan Pricewaterhouse Coopers pada 2018, diperoleh beberapa temuan bahwa: 44% bisnis keluarga di Indonesia dimiliki oleh satu pemilik dominan, sebanyak 81% mengijinkan anggota keluarga bekerja di perusahaan, hanya 44% yang mengijinkan pasangannya bekerja dan memiliki saham perusahaan, ada 54% menyatakan bahwa konflik ditangani melalui diskusi terbuka dan hanya 13% yang memiliki perencanaan suksesi yang dikomunikasikan. Ketidaktepatan dalam penanganan permasalahan bisnis keluarga menyebabkan kemunduran perusahaan dan pada gilirannya pembubaran bisnis. Family Business Consulting (2009) menunjukkan: hanya 30% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua, dari yang bertahan itu hanya 12% yang sampai ke generasi ketiga, dan tinggal 3% yang dapat dioperasikan oleh generasi keempat. Adanya berbagai konflik dan intrik dalam bisnis keluarga memunculkan pernyataan yang terkenal di masyarakat, yaitu: Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan. Bahkan survei menunjukkan bahwa generasi milenial enggan diwarisi bisnis keluarga terutama yang skala kecil menengah karena lebih ingin berwirausaha sendiri.

Manajemen Bisnis Keluarga

Bagaimanakah bisnis keluarga dapat bertahan? Keberlanjutan bisnis keluarga sangat bergantung pada faktor saling percaya serta komitmen keluarga yang kuat dalam manajemennya (Gomulia, 2013). Menyadari pentingnya Manajemen Bisnis Keluarga, maka Program Studi Sarjana Manajemen Universitas Katolik Parahyangan menyelenggarakan pembelajaran terkait berbagai isu yang muncul dalam praktik bisnis keluarga ini dengan nama mata kuliah Manajemen Bisnis Keluarga. Perkembangannya, dalam Kurikulum 2018 pembelajaran ini menjadi sebuah bidang kajian yang dapat dipilih mahasiswa. Terkait berbagai aspek manajemen untuk menjaga kelangsungan hidup bisnis keluarga, maka pada tahun 2019 pembelajaran ini ditawarkan juga pada Program Studi Magister Manajemen Universitas Katolik Parahyangan dalam mata kuliah Keberlangsungan Bisnis Keluarga. Penelitian terkait pengembangan Ilmu Pengetahuan Bisnis Keluarga pada Program Doktor Ilmu Ekonomi Unpar juga diberikan peluang.

Pembelajaran Manajemen Bisnis Keluarga di Program Studi Sarjana Manajemen diselenggarakan bekerjasama dengan Yayasan Fitrah Bisnis Keluarga Nusantara (FBN) yang merupakan yayasan sosial nirlaba. FBN didirikan di Jakarta pada 9 Januari 2014 oleh Shanti L. Poesposoetjipto (dari Grup Samudera Indonesia) bersama dengan beberapa usahawan/akademisi/konsultan manajemen lainnya, dengan tujuan membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya praktik tata kelola (corporate governance) yang baik pada bisnis keluarga. Penyelenggaraan mata kuliah Manajemen Bisnis Keluarga di Program Studi Sarjana Manajemen UNPAR bekerjasama dengan FBN, meliputi berbagai topik yang sangat menarik dan relevan yang disampaikan langsung oleh para praktisi dari kalangan bisnis keluarga dan secara khusus didukung oleh jaringan bisnis keluarga FBN (di dalam dan di luar negeri). Berbagai topik yang didalami dalam satu semester, meliputi: Konsep 3-Lingkaran, Generasi Baru dan Kepemimpinan Perempuan, Karier dan Kompensasi, Konflik dan Negosiasi, Visi-Misi dan Tata Kelola Bisnis Keluarga, Rencana Suksesi, Hukum Pewarisan, Permodalan Usaha, Kepedulian Sosial Keluarga (Filantrofi), Manajemen Risiko dalam bisnis keluarga, dsb. Topik-topik tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis keluarga sehingga tidak berakhir di tangan generasi ketiga. Bagaimana pun juga, bisnis keluarga sangat mendukung perekonomian sebuah negara karena ikut menciptakan lapangan kerja, menyumbang penerimaan pajak, tersedianya produk dan layanan yang dibutuhkan masyarakat, dana riset dan pengembangan, kepedulian sosial, dsb.

Mari bergabung dalam Program Pembelajaran Manajemen Bisnis Keluarga yang diselenggarakan di Program Studi Manajemen Unpar!

Kontributor: Dr. Judith F. P. Irawan, Dr. Budiana Gomulia, Triyana Iskandarsyah Dra. M.Si, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Katolik Parahyangan; dan Cosmas Christanmas fasilitator pembelajaran dari Yayasan Fitrah Bisnis Keluarga Nusantara (FBN).

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis, 18 Juli 2019